Back To Muslim Identity Ajak Masyarakat Tolak LGBT

Mataram, patriot.id — Berdasarkan data terakhir Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun 2012, ada sekitar 1.095.970 laki-laki yang berperilaku menyimpang. Jumlah ini naik 37% dari tahun ke Tahun.

Diyakini, jumlah pengidap LGBT akan meningkat setiap tahunnya, upaya penangkalan wabah ini tidak akan berhasil tanpa adanya kesadaran dari semua pihak untuk bergerak. Suatu tatanan sosial bisa runtuh, bukan karena behaviour yang negatif dari sekelompok masyarakat minoritas, tapi karena masyarakat yang mayoritas diam saja.

Merespon hal itu, puluhan perempuan dari Back to Muslim Identity Mataram sekitar pukul 10.00 Wita di Bundaran Universitas Mataram Jl. Majapahit, melakukan aksi damai berupa penyebaran slayer yang menghimbau masyarakat agar sadar akan bahaya dan ancaman LGBT, serta melakukan penolakan terhadapnya.

Salah satu aktivis perempuan Back to Muslim identity, Adnin mengatakan, “Aksi sebar slayer ini, adalah rangka menolak keberadaan LGBT. Sebelumnya, pada 15 Maret 2018, kami telah mengadakan Focus of Discusion dengan tema ‘meruntuhkan logika sesat LGBT menggagas solusi dan akses reality’ yang serangkaian acaranya berlanjut sampai hari ini,” ungkapnya, pada hari Kamis, 12/04/2018.

Ia menambahkan, “Dalam waktu dekat, kami juga akan melaksanakan diskusi publik di Balai Diklat Koperasi Kota Mataram,” katanya.

Kota Mataram berada dalam negara Indonesia dengan penduduk beragama, juga merupakan bagian dari Pulau Lombok yang di kenal dengan julukan pulau seribu mesjid yang melahirkan banyak ulama. Hal demikian menjadi katalisator, bahwa LGBT adalah pola hidup yang harus di perangi oleh semua umat Islam dan umat dari agama lainnya, karena bertentangan dengan fitrah manusia.

Di sisi lain, Adnin menyatakan, “Dalam memuluskan penerimaan kaum muslim Indonesia (Beragama Pen.) terhadap LGBT, UNDP Menggelontorkan dana senilai Rp. 108 M. dalam program Being LGBT in Asia. Gerakan ini berlindung dibalik ide standar ganda HAM.” Paparnya.

Sejatinya HAM hanya mampu bersuara ketika tidak berseberangan dengan nilai-nilai Barat, namun tidak berlaku saat Islam menjadi korban. Sehingga memberikan ruang kebebasan perjuangan LGBT untuk pelegalan perkawinan sejenis yang menghianati UU. No. 1/1974 Tentang Perkawinan. Hal ini sangat berbahaya dalam produktivitas peradaban.

Kini hukum mulai melemah, kekuatan tangan-tangan tak kasat mata yang menyokong LGBT di Indonesia mulai terlihat setelah MK menolak judicial review pasal KUHP tentang perzinahan dan LGBT, tutupnya, (02).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*