Abaikan Petuah Gurpol-nya, Jokowi Kualat!

Usman Amirodin, Mantan Sekretaris Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN) Solo. Red

Jakarta, Patriot.id — 21 hari sebelum meletusnya tragedi na’as pada 22 Mei 2019 di Jakarta, Usman Amirodin, yang mengaku Guru Politik (Gurpol) Jokowi, sebelumnya telah memperkirakan akan terjadinya hal tersebut.

Untuk itu, dia telah mengirimkan surat terbuka ke berbagai media massa untuk dimuat. Salah satunya dia kirim ke email redaksi patriot.id: redaksipatriotid@gmail.com.

Surat terbukanya ia beri judul ‘Surat Terbuka Guru Politik Jokowi: Jadilah Seperti Jokowi yang Dulu’. Dia menilai kepribadian Jokowi telah berubah. Makanya Usman lewat suratnya, meminta Jokowi untuk berlaku arif bijaksana.

Tulisan Usman dalam surat itu seolah merupakan petuah untuk murid politiknya (Jokowi). Sebab ia memprediksi dengan ketidakjelasan sikap Jokowi akan menorehkan tragedi menakutkan pada 22 Mei 2019.

Gayung bersambut, apa yang diperkirakam Usman pun telah terjadi. 22 Mei 2019 menjadi hari yang amat mencekam masyarakat Indonesia. Belasan orang meninggal dunia, beberapa di antaranya masih anak-anak. Sementara ratusan orang luka-luka. Sedangkan wartawan dan petugas medis juga mendapati intimidasi dan perlakuan buruk.

Memang Usman dalam suratnya tidak menjelaskan secara detil apa yang akan terjadi pada 22 Mei. Namun ia menggaris bawahi akan terjadi tragedi menakutkan.

Namun setelah peristiwa 22 Mei, sidang pembaca dapat simpulkan sendiri; bila mana Jokowi mau mendengarkan petuah guru politiknya, pasti tidak akan timbul pertumpahan darah dan pembunuhan.

Adapun isi surat terbuka Guru Politik Jokowi itu, adalah sebagai berikut:

Surat Terbuka Tokoh Masyarakat Solo untuk Jokowi, Usman Amirodin: Bapak Bukan Jokowi yang Dulu

“Surat Terbuka Guru Politik Jokowi; Jadilah Seperti Jokowi yang Dulu”

SURAT TERBUKA

Kepada Yth. Pribadi Bapak Joko Widodo, yang saat ini Presiden R.I.

Di Jakarta.

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Dengan hormat.

Saya Usman Amirodin Solo, umur 80 tahun, teman bapak sesama pengurus Yayasan Amal Sahabat Solo, semoga bapak masih ingat saya. Saya adalah adalah satu satunya orang yang menuntun bapak keranah politik untuk menjadi calon Walikota Solo dari Partai Amanat Nasional (PAN).

Saat itu kepribadian dan perilaku bapak saya nilai pantas menjadi bapaknya masyarakat, Alhamdulillah berhasil memimpin Kota Solo lebih dari satu periode, walaupun ternyata munculnya dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Akan tetapi setelah bapak menjadi presiden sungguh sangat memprihatinkan, bapak tega mengancam sebagian rakyat (”berani berkelahi“, ”akan saya lawan”), menurut saya ini bukan Jokowi yang sebenarnya, bukan Jokowi wong solo.

Di bawah kepemimpinan bapak ternyata negara ini tidak kondusif, dimana peran bapak?

Pemilu 2019 yang penuh kecurangan, menghalalkan segala cara menimbulkan kemarahan banyak pihak dan seakan ada pembiaran untuk nantinya mengambil keuntungan secara sepihak. Ratusan petugas pemilu, polisi yang meninggal dunia dan lebih dari seribu yang sakit, ini pertanda ada sesuatu yang menimbulkan tanda tanya.

Bapak harus segera mengambil sikap arif dan bijaksana sebagai negarawan karena bapak masih sebagai presiden, lain ceritanya kalau bapak hanya sebagai calon presiden.

Kemungkinan chaos sudah di depan mata, ini tidak boleh terjadi karena dapat berubah menjadi konflik horisontal. Kalau ini terjadi bukannya tidak mungkin dampaknya akan menimpa keluarga kita (keluarga saya dan keluarga bapak).

Apakah bapak sedang mendapat tekanan dari kekuatan aseng, asing?

Karena sesungguhnya hanya merekalah yang ingin menghancurkan kita. Pak Jokowi kembalikan kepribadian dan perilakumu seperti saat mimpin Kota Solo. Masih ada waktu untuk segera mencegah terjadinya Tragedi yang menakutkan, sebelum 22 Mei 2019.

Sekarang terserah bapak yang akan dilakukan, jangan menyudutkan siapapun juga, mereka rakyatmu.

Wassalam W. W.

 

Solo, 30 April 2019
Hormat saya,

 

Usman Amirodin

Mantan Sekretaris Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN) Solo

(*)

“Surat terbuka ini pernah dikirimkan Usman Amirodin ke email redaksi: redaksipatriotid@gmail.com, pada 1 Mei 2019 lalu.” (Catatan Redaksi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*