Aniaya Mahasiswa, Polres Labuhanbatu Didemo: Copot Kabag OPS dan Kastel

Labuhanbatu, Patriot.id — Mahasiswa dari 3 perwakilan kampus di Labuhanbatu–berjumlah 70 orang–mengatasnamakan Kelompok Diskusi Mahasiwa Mahasiswa (KODIM/P) melakukan aksi ke kantor Mapolres Labuhanbatu, Selasa (7/10).

Mahasiswa-mahasiswa melancarkan aksi untuk menyikapi tindakan represif aparat kepolisian dan satpol PP Labuhanbatu pada saat aksi penolakan RUU Pertanahan, RKUHP dan UU KPK pada 30 Sepember 2019 di depan Gedung DPRD Labuhanbatu.

Bung TM Sipahua Selaku Orator aksi Dalam orasinya menyampaikan, “Ada kejanggalan yang kami lihat dengan tindakan penganiayaan terhadap mahasiswa saat aksi di depan Gedung DPRD Labuhanbatu pada tangggal 30 september 2019 yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian dan satpol PP Labuhanbatu.

Awalnya mahasiswa bergegas dari gedung DPRD Labuhanbatu menuju Mapolres Labuhanbatu namun saat massa aksi melintasi pintu keluar gedung DPRD ada seorang anggota satpol PP Labuhanbatu Melontarkan makian, sehingga teman kami ‘Amos Sihombing’ mengejar ke depan pagar gerbang keluar kantor DPRD namun KABAG OPS Polres Labuhanbatu menangkap dan menarik Amos Sihombing dan menariknya ke dalam kerumunan pihak pengaman polisi dan satpol PP.

” Sehingga terjadilah tindakan penganiayaan oleh oknum anggota polisi dan anggota satpol PP Labuhanbatu yang menyebabkan Amos Sihombing luka dibagian bawah mata,” jelasnya.

Lanjutnya, dan yang lebih anehnya saat terjadi penganiayaan tersebut hampir seluruh petinggi Polres Labuhanbatu berada di lokasi seperti Kapolres, WK Polres, Kabag OPS dan Kasat Intrlkam Labuhanbatu, tidak melakukan upaya pencegahan agar tidak terjadi tindakan penganiayaan tersebut.

Hal yang Wajar jika kami menduga tindakan penganiayaan tersebut sudah direncanakan oleh pihak kepolisian, bahkan kami lebih jauh menduga kejadian ini atas perintah Kapolres Labuhanbatu ( AKBP Agus Darojat. S.IK. SH. MH).

Sementara itu, Bung Dani Hasibuan Menyampaikan dalam orasinya, “melalui aksi damai ini kami meminta Kapolri Cq. Kapolda Sumut segera melakukan hal-hal berikut:

“Pertama. Mencopot dan menindak Kabag OPS Polres Labuhanbatu dan anggotanya karena diduga melakukan penganiayaan terhadap mahasiswa Universitas Labuhanbatu (ULB) Fakultas Sains Dan Teknologi ( Amos Poplius Sihombing).”

“Kedua. Meminta kepada pihak kepolisian resort labuhanbatu untuk segera memeriksa, kabag OPS Polres Labuhanbatu beserta anggotanya dan Anggota Satpol PP Labuhanbatu atas Dugaan Penganiayaan Terhadap mahasiswa Universitas Labuhanbatu ( Amos Poplius Sihombing) sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku.”

“Ketiga. Copot dan tindak segera Kasat Intelkam Polres Labuhanabatu, sebab Kasat Intelkam tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik serta diduga melakukan pembiaran penganiayaan tersebut.”

“Keempat. Copot Kapolres Labuhanbatu karena diduga membiarkaan tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh anggotanya, Kapolres harus bertanggung jawab sepenuhnya atas kejadian tersebut.”

“Kelima. Copot Kapolres labuhanbatu karena dinilai Gagal sebagai pimpinan tertinggi di aparat kepolisian labuhanbatu sebab kejadian ini sangat tidak menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.”

“Keenam. Meminta pihak polres labuhanbatu agar segera memeriksa anggota satuan polisi pamong praja kabupaten labuhanbatu yang diduga turut serta melakukan penganiayaan.”

Aksi ini diterima oleh WK Polres Labuhanbatu (Kompor. Rokhmad, SH.MH), dan dia menerima tuntutan mahasiswa di Lapangan ika bina depan Polres Labuhanbatu.

“Permintaan maaf dari bapak Kapolres untuk agenda hari ini. Beliau sudah ter agenda untuk menemui para alim ulama tokoh masyarakat. Sehingga tidak bisa menemui adek adek mahasiswa seluruhnya,” katanya.

“Karena sudah teragenda, permohonan maaf dari beliau dilimpahkan kepada saya sebagai Wakil, WK Polres Labuhanbatu untuk menemui rekan-rekan mahasiswa,” sambungnya.

Dia menegaskan, apapun yang dilakukan pihak kepolisian, kepolisian bertanggung jawab untuk itu. Apabila pihak kepolisian itu keluar dari prosedur maka ada prosedur yang melakukan tindakan yaitu propam.

Jadi jangan kwatir seolah-olah kita bebas melakukan tindakan apapun tanpa prosesur hukum, demikian juga perkara yang ada disini yang diduga bahwa ada pelanggaran hukum bahkan pidana oleh pihak kepolisian ataupun satpol PP hari Ini masih dalam tahap penyidikan.

Dalam hal ini mahasiswa, Rizky Borkat mempertegas kepada pihak kepolisian, bahwa mahasiswa akan tetap melakukan desakan dan pengawalan terkait persoalan ini sampai pelaku penganiayaan tersebut ditindak sesuai dengan undang-undang.

“Mahasiswa juga mengingatkan agar tindakan refresip atau penganiayaan jangan pernah lagi terjadi kapan pun dan di mana pun,” tutupnya. (Rid)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*