Anies Baswedan dan Ridwan Kamil di Mata Milenial

Patriot.id — Pulang dari tempat nongkrong saya coba merenung dan mengalisa terkait popularitas dan respon kaum milenial terhadap kedua figur gubernur ini dalam konteks media sosial.

Respon yang saya maksud adalah hampir semua postingannya di media sosial dalam aktivitas sehari-seharinya selalu viral dan disukai banyak generasi milenial. Mereka melakukan secara sukarela, menyebarkannya sampai ribuan kali dalam satu kali postingan. Tak terkecuali saya sekalipun ikut membagikannya.

Kita tahu bersama bahwa dahulu, kita hanya mengetahui aktivitas dan komentar pejabat publik hanya ditemukan di media massa. Era sekarang ini tak sulit kita menemukan pikiran, sikap dan pendapat mereka dengan mudahnya di media social.
Seolah-olah jarak antara kita dengan mereka tak ada lagi sekat, kita bisa menemukan mereka menyepi di tengah rakyat biasa, menyaksikan mereka dari dekat dan bisa mengetahui apa saja yang dilalukan.

Dengan fakta tersebut, bagi saya ada hal lain yang menarik di antara kedua figur ini dibandingkan gubernur lainnya. Di antara banyak gubernur yang menggunakan media social jika dipantau hampir semua postinganya tak mampu mengena di hati generasi milenial setidaknya untuk ikut like lalu terlibat memviralkannya. Nampaknya Anies Baswedan dan Ridwan Kamil merupakan representasi dari politisi yang sangat digandrungi oleh para pemilih millennial. Sosok yang bisa dibilang craming, muda dan kekinian.

Terlepas dari posisi kekuasaannya berada pada daerah yang padat penduduk dan atau kota maju namun tak bisa dipungkiri sebelumnya ada yang pernah menjabat pada posisi itu dan tidak setenar mereka di media social mereka saat ini. Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta propinsi Ibu Kota Negara walaupun saat ini Ibu Kota mau dipindahkan ke Kalimantan Timur sedangkan Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia.

Mengelolah media social, menjadi kekuatan besar bagi seorang politisi untuk menyentuh banyak kalangan, lalu mengelola mereka menjadi barisan relawan yang setiap waktu mengkampanyekannya kemana-mana.

Sepanjang generasi milenial masih tersentuh hatinya mereka akan melakukannya secara suka rela dan terkadang mengagetkan dalam amat cepat dan tak terduga postingan itu viral ke mana-mana. Kemudian dengan mudahnya ide dan gagasan positifnya viral lalu menjadi senjata untuk melakukan transformasi sosial.

Perlu kita ketahui bahwa Generasi Millenial (17 tahun – 35 Tahun) adalah generasi yang melek akan informasi dan selalu terkoneksi melalui jejaring media social, yang terhubung melalui jaringan internet. Dengan demikian fakta tersebut ditangkap oleh Anies Baswedan dan Ridwan Kamil sehingga keduanya aktif bersosial media, baik Facebook, Instragram dan Twitter.

Berdasarkan hasil penelitian We Are Sosial menunjukan bahwa orang Indonesia menghabiskan waktu berselancar di internet dengan berbagai perangkat selama 8 jam 51 Menit. Sedangkan dimensos dengan berbagai perangkat 3 jam 23 menit dalam sehari.

Di sisi lain, para gubernur yang tak masuk ketegori populer di media social, bisa jadi mereka abai terhadap penguatan jejaring relawan, mereka lupa bahwa Indonesia adalah negara paling super aktif media social, Anda bisa lihat sendiri bedapa ramainya perbincangan dimedia social yang didominasi generasi milenial.

Mereka mungkin tidak sadar bahwa kerja-kerja politik adalah kerja bersama yang melibatkan banyak pihak yang salah satunya generasi milenial, atau jangan-jangan mereka tak paham cara kelola politik itu seyogyanya menjadi misi bersama yang harus digapai demi memperjuangkan agenda-agenda penting untuk kemajuan daerah.

Kembali ke Anies dan Ridwan Kamil–dalam amatan saya, kenapa ketokahan mereka selalu terjaga karena meraka paham betul bahwa kerja-kerja politik adalah kerja bersama yang di mana membutuhkan orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama. Keduanya mampu memposikan diri sebagai figur yang paham betul bagaimana karakter generasi milineal lalu setiap hari berinteraksi dan kadang-kadang saling sapa melalui media sosial.

Berdasarkan pantauan saat ini, Jumlah follower Instagram Kang Emil lebih tinggi dari Pak Anies dengan masing-masing 11,1m untuk Kang Emil dan 3,8m untuk Pak Anies, follower Twitter Pak Anies jauh lebih sedikit di banding Kang Emil, dengan masing-masing 3,21m untuk Kang Emil dan 2,37m untuk Pak Anies. Untuk Facebook Kang Emil unggul kembali atas Pak Anies, dengan masing-masing 3.389.308 untuk Kang Emil dan 1.662.978 jiwa untuk Pak Anies.

Dengan potensi dan popularitas yang dimiliki keduanya, saya coba mejelaskan bahwa mereka paham bahwa postingan media sosial tak selamanya mampu memikat hati semua konstituen, sehingga mereka perlu menjaga semangat loyalisnya untuk menjadi pemancing sekaligus jadi pion dalam membantu back up kerja-kerja politiknya.

Keduanya sadar harus ada team khusus yang siap menyusun klarifikasi dan bantahan dimedia social jika ada serangan pada dirinya. Mereka juga sadar bahwa menyebarkan informasi harus ada pasukan lapangan yang tugasnya mempercepat penyebaran informasi.

Namun hal yang paling utama untuk dikerjakan adalah bagaimana mencitrakan dirinya sebagai politisi yang bisa dipercaya. Sebagai sosok yang memberi pencerahan, membuka wawasan, dan persuasif dalam meyakinkan orang-orang. Hal seperti inilah yang tak dipahami oleh Gubernur lainnya dan seharusnya mereka belajar banyak di antara dua tokoh di atas.

Bagi saya yang terpenting untuk tidak diabaikan yakni berpolitiklah dengan tetap menjaga kepercayaan kemudain kelolah relasi yang sejajar dan saling membutuhkan. Bukan saling melupakan setelah berkuasa! Selebihnya mereka focus membumikan idealismenya dangan cara bekerja memahami keinginan konstituen dan selebihnya biarkan waktu sejauh mana dia berkiprah dalam bekerja untuk orang banyak.

Dengan demikian siapakah diantara mereka pengganti Jokowi di tahun 2024?

 

Oleh: Jaidin Juraputra

“Penulis adalah pengguna media sosial dan penikmat kopi.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*