Aparat Penjaga Keamanan PT TSE Bunuh Petani, Pigai: Jokowi Tuli, Bisu, Diam

Boven Digoel — Mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mengutuk keras aksi kekerasan yang dilakukan aparat represif negara di distrik Asiki, Kabupaten Boven Digoel, Papua. Kejadian itu menelan korban jiwa: satu orang petani kehilangan nyawanya.

“Diduga dianiaya polisi, satu petani … tewas. Penganiayaan … pembunuhan warga sipil di tengah Covid-19 sangat massif. Presiden tuli, bisu dan diam,” kecam Aktivis HAM Natalius Pigai di akun Twitternya @NataliusPigai2, Senin (18/5) tadi.

Untuk diketahui bahwa buruh tani itu merupakan warga asli Distrik Asiki, Kabupaten Boven Digoel, Papua. Namanya adalah Marius Batera. Dia meninggal dunia di klinik perkebunanan kelapa sawit PT Tunas Sawa Erma (TSE), pada Sabtu (16/5) lalu.

Mula-mula pada Sabtu (16/5) pagi, Marius Betera pergi ke kebun pisangnya. Di sana dia mendapati kebunnya rusak begitu rupa. Kuat dugaan pengrusakan dilakukan oleh eskavator perusahaan. Soalnya posisi kebunnya itu berada di areal perkebunan PT TSE.

Berdasarkan kesimpulan itu Batera lalu mendatangi pos polisi di Camp 19, untuk mengadukan masalahnya. Kehadirannya memberitahu aparat penjaga perkebunan tentang apa yang menimpa kebunnya. Lalu dia meminta agar dipertemukan dengan pihak PT TSE. Mereka kemudian merangsek masuk ke dalam kantor PT TSE.

Kepada manajemen PT TSE dia mempertanyakan kenapa kebunnya dirusak. Sementara perusahaan sama sekali belum memberitahukan seperti biasa: kebun pisang akan dibersihkan, sehingga petani harus segera memanen pisangnya.

Karena itulah Betera pun marah dan menyatakan merasa dirugikan atas kesewenang-wenangan PT TSE. Namun sesaat keluh-kesahnya disampaikan tiba-tiba seorang polisi berinisial M menyerangnya. Di depan sejumlah karyawan perkebunan aparat menghajarnya: dipukuli wajah dan tubuhnya, lalu ditendang bagian perutnya.

Akibat kekerasan ini Betera mengalami luka-luka. Bahkan telinganya sampai mengeluarkan darah. Maka sekitar pukul 11.00 WIT, dia kembali mendatangi pos polisi di Camp 19. Kali ini untuk mengadukan penganiayaan.

Setelahnya Betera mengadukan penganiayaan maka dia pun beranjak pulang. Dalam perjalananya ia masih menahan sakit akibat diserang. Maka sekitar pukul 13.00 WIT, korban merasa sangat-sangat tidak enak badan. Dirinya begitu drop, hampir pingsan. Untuk itulah dilarikanlah korban ke klinik PT TSE di Camp 19.

Belum sampai mendapat perawatan intensif, di atas ranjang klinik korban keburu meninggal dunia. Siksa yang dirasakannya telah membuatnya merenggang nyawa. Atas kematian Betera, kalangan aktivis meminta pertanggungjawaban bukan hanya dari aparat kepolisian melainkan pula pihak PT TSE. Bahkan Natalius Pigai mendesak Jokowi bersikap tegas terhadap pembunuh petani pisang di Boven Digoel, Papua.

Pigai juga mewajibkan Mabes Polri, Kompolnas, dan Komnas HAM melakukan investigasi mendalam untuk melalukan evaluasi sekaligus pemeriksaan tata kelola keamanan; bukan sekedar di areal perkebunan PT TSE, tapi di seluruh Papua. 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*