Arnold AP, Neles Tebai, Sendius Wenda, Banteng-Banteng Jenbekak!

PAGI hari, 10 Februari 2020, saya membaca pesan singkat dari teman saya waktu kecil di Wamena bahwa Sendius Wenda meninggal dunia. (Natalius Pigai, Aktivis HAM)

West Papua — Terlepas kelahiran dan kematian manusia adalah otoritas kekuasaan sang Pencipta (causa prima), namun kematian Sendius Wenda bagi rakyat Papua adalah menamba memori derita atas deretan panjang misteri kematian tokoh-tokoh utama  bangsa Papua Melanesia lebih dari 40 tahun terakhir sejak kematian budayawan Melanesia Arnold AP.

Zaman Suharto (Orde Baru) tokoh-tokoh utama Papua terhindar dari ancaman karena mereka melarikan diri ke luar negeri seperi Papua New Guinea, Vanuatu, Caledonia, Australia, Belgia, Belanda dan Angola Afrika. Cuma nasib naas dialami Dr. Thomas Wapay Wanggai seorang intelektual Papua alumni Jepang.

Tokoh-tokoh Papua selalu dalam ancaman keselamatan secara massif, terencana dan terstruktur dalam 20 tahun terakhir sejak orde reformasi. Nama-nama tokoh Papua yang ditarget tidak hanya pendukung kemerdekaan Papua tetapi justru tokoh-tokoh intelektual, professional, aktivis, pegawai negeri, politisi bahkan tokoh-tokoh agama yang menjadi target-tergat untuk harus dihabiskan oleh Jakarta [istilah Jakarta sebenarnya merujuk pada birokrasi negara; baik Pemerintah Pusat (Kolonial) Indonesia maupun seluruh perangkat kekuasaanya: yang lunak (media, agama, pendidikan, budaya, seni, dan sebagainya) dan yang keras (TNI-Polri dan organisasi-organisai kekerasan lainnya)–ed] dalam dokumen rahasia dari Kesbangpol kementerian Dalam Negeri dibocorkan secara terbuka dan beredar luas awal tahun 2000.

Dokumen itu berisi orang-orang yang menjadi target opereasi terdiri dari: Agus Alua, Willy Mandowen, Beni Giyai, Sofyan Yoman, Yap Salosa dan hampir tokoh-tokoh utama Papua.

Bahkan, sejak tahun 2000. Oktovianus Mote, seorang wartawan Kompas yang lolos atau bisa melarikan diri setelah ancaman terhadap dirinya diketaui melalui jaringan Kompas di Jakarta. Wartawan yang hanya memberitakan kondisi kejahatan kemanusiaan di Papua ini justru diancam. Akhirnya Octovianus Mote membelot menjadi pendukung gerakan kemerdekaan dan bahkan terpilih menjadi pucuk pimpinan organisasi perjuangan kemerdekaan Papua (Sekjen ULMWP).

[Sejarah West Papua mencatat!] Theys Eluai yang dibunuh oleh Kopasus karena Theys pimpin kemerdekaan Papua melalui non konfrontasi, kematian misteri justri dialami oleh Yap Sallosa seorang Gubernur Provinsi Papua, dan selanjutnya diikuti oleh kematian misterius berbagai tokoh-tokoh utama Papua seperti Naftali Badi (Alumni Amerika), Agus Alua (Ketua MRP), Wlly Mandowen (Dosen Uncen),Frans Wosparik (Rektor Uncen), Dr. Neles Tebai, Kematian Uskup Timika oleh orang papua masih dicurigai sebagai sesuatu yang tidak wajar karena beliau selalu membela kepentingan rakyat pribumi Papua dan masih banyak lagi, bahkan masih masih nama-nama besar lainnya.

Demikian pula Tokoh-tokoh Papua yang sudah diganggu secara mental dan fisik seperti Thom Beanal, Herman Awom, mungkin juga tokoh-tokoh Papua yang saat ini berada di politik dan Pemerintahan bahkan partai penguasa. Tidak ada jaminan orang Papua kulit hitam, dan ras Melanesia yang berada di partai penguasa karena tahun 2019 telah rakyat Papua diserang rasisme dan Jokowi singkirkan putra Papua Melanesia didalam Kabinet adalah puncak dari gambaran nyata rasisme di negeri in oleh penguasa tertinggi.

Sejak jaman dulu (mungkin kecuali Sukarno), sejak M. Hatta (1945), LB Moerdani dan Ali Moertopo (1970-an), Luhut Panjaitan (2015), Joko Widodo (2019). Pada awal tahun ini dua orang tokoh Papua meninggal yaitu Besem Gombo yang mendorong ribuan putra-putri Papua kuliah di luar negeri dan Sendius Wonda seorang birokat Papua dan penulis buku Tenggelamnya Rumpun Melanesia, yang dibredel oleh Kajaksaan Agung.

Dengan demikian apakah perlawanan rakyat Papua akan berakhir? Tentu saja tidak mungkin, lahir sebelum Indonesia menduduki Papua, ada akar historis yang Panjang dan menua. Kesadaran nasionalisme di Papua mengalami evolusi yang Panjang, mengalami pertumbuhan kesadaran dari nasionalisme tahap primitive ke tahap modern sebagaimana Ralf Dahrendorf tegaskan dari nasionalisme keluarga, suku, etnik, ras sampai imajinasi bangsa.

Hari ini titik temu orang Papua itu ada 2 yaitu kesamahan etno biologis yang sama dan imajinasi kebangsaan tentang berdirinya sebuah bangsa. Ketika kedua variable ini bertemu maka tidak aka nada kekuatan yang menghancurkan mereka, menghancurkan Ras Melanesia pasti berdahadapan dengan etnik klinsing atau genosida, menghantam rasa kebangsaan atau candra persatuan bangsa Papua tentu sebuah ideologi yang mengakar, Indonesia tidak punya kekuatan apapun untuk merubah jiwa dan sanubari rakyat papua, sekalipun Jakarta mau bikin kamp konsentrasi seperti Xin Jiang? Beda di China, dan lain pula Jakarta!

Jakarta harus membuka kran demokrasi, dialog atau sekalipun usaha politik melalui perundingan. Itu konsekuensi sebuah negara modern. Tidak mungkin Jakarta bisa mempertahankan Papua yang hari ini dalam pantauan 79 Negara Kulit Hitam (black brotherhood); Afrika, Pasifik dan Karibia. Belum lagi Australia, New Zealand bahkan Negara-Negara Barat.

Apakah perlawanan rakyat Papua ini akan berhenti? Tentu saja sulit untuk dijawab. Perlawanan terhadap orang luar di papua bukan baru. Sudah dimulai sejak jaman Belanda.

Perlawanan rakyat Papua terhadap kaum pendatang pertama dimulai ketika kegagalan awal Belanda di Teluk Triton. Pada tahun 1835 benteng Fort de Bus dihancurkan maka terjadi pemindahan kedudukan Belanda dari Teluk Triton akibat per­lawanan rakyat terhadap Belanda di samping kondisi alam yang tidak memungkinkan. Perlakuan Belanda terhadap rakyat di wilayah Kerajaan Nomatote sebenarnya tidak dapat membahagiakan rakyat pribumi Papua.

Perlawanan ini tidak hanya terhadap Belanda, tetapi juga  Inggris. Beberapa tahun kemudian oleh karena Inggris tidak memperhatikan hak-hak rakyat terutama monopoli perdagangan oleh kaum kolonial. Akhirnya Inggris pun tidak mampu menahan kebencian rakyat sehingga sebuah benteng yang didirikan oleh Kerajaan Inggris yang bernama benteng Coronation tidak dapat bertahan lama. Benteng Coronation dihancurkan oleh Inggris sendiri karena mendapat tantangan yang berat dari rakyat asli di wilayah benteng tersebut.

Demikian pula suatu kapal yang sedang berlayar di Sungai Urima diserang oleh penduduk setempat, karena sedemikian banyak yang menjadi korban sehingga Belanda menyebut sungai itu Doorslag Rivier atau Moordenaars Rivier yang artinya sungai pembunuhan. Pemberian nama “Moordenaars Rivier” mungkin untuk mengingat kembali atas sebuah kenangan pahit atau tragedi yang menimpa Belanda di awal kedatangan bangsa itu.

Kebencian rakyat pribumi terhadap bangsa luar ini hampir tidak terhenti ketika M. Rumagesang A1 Alam Umar Sekar Raja Kokas di teluk Bintuni, seorang putra asli Papua yang dengan gigih menentang Belanda pada tahun 1934.

Aksi perlawanan yang dilaksanakan secara spontan dalam skala besar di antara aksi-aksi perlawanan itu adalah gerakan Reni di Kepulauan Raja Ampat di bawah pimpinan Wasyari Faidan pada tahun 1931 yang merupakan gerakan kebencian terhadap orang kulit putih yang ingin menghancurkan zaman kebahagiaan yang mereka nantikan.

Gerakan ini dapat dicurigai oleh Pemerintah Kolonial Belanda karena diikuti juga oleh rakyat yang hidup di luar Kepulauan Raja Ampat, akhirnya Wasyari sebagai pemimpinnya ditangkap oleh Belanda dan kemudian dipenjarakan.

Gerakan serupa juga terjadi di Pulau Waigeo yang kini sering disebut gerakan Konor di Pulau Waigeo pada tahun 1932. Gerakan yang terjadi di Desa Kabilol ini dipimpin oleh seorang putra asli yang bernama Tanda.

Tanda ditangkap oleh Belanda dan dimasukkan ke penjara karena dianggap menyebarkan kebencian terhadap pemerintah Belanda. Perlawanan serupa lainnya adalah gerakan Warbesren di Batanta pada tahun 1933, gerakan Nyawomos di Pam pada tahun 1936-1941. Gerakan yang dipimpin oleh Nyawomos ini mulai menyebarkan ajaran kebencian terhadap bangsa kulit putih termasuk orang Jepang sehingga konsekuensinya ia ditangkap tentara Jepang dan mati di penjara.

Lalu terbit pula gerakan Koreri pimpinan Angganita Manufaur di Insubaki pada tahun 1938, Angganita sebenarnya memiliki kekuatan dengan ilmu gaib sehingga Stevanus Simopiaref yang beberapa kali keluar masuk penjara akibat tantangannya terhadap Belanda. Karena kebencian terhadap Belanda dan para pendatang pada umumnya, maka Stevanus mempergunakan Angganita Manufaur dari gerakan Koreri di Biak untuk menarik masyarakat Biak demi perjuangan kemerdekaan Irian. Tapi tindakan itu membuat Ang­ganita dibawa ke Serui kemudian ke Penjara Manokwari tetapi akhirnya dibebaskan.

Setelahnya timbul lagi perlawanan rakyat secara simultan dan intensif: gerakan Sen di Kayu Hijau pada tahun 1935, gerakan Manggarega di Teluk Arguni pada tahun 1935, gerakan Damo di Gresi pada tahun 1935, gerakan Simsom di Jayapura antara tahun 1940-1943 serta gerakan Wegebage di Paniai.

Ketika bangsa Jepang pada awal kedatangannya tanggal 19 April 1942 melakukan pendekatan yang tidak manusiawi terhadap rakyat, sehingga rakyat di bawah pimpinan beberapa tokoh adat Pa­pua mengangkat senjata melawan Jepang sehingga pertempuran meledak di mana-mana yang didorong oleh kesamaan budaya dan suku untuk mempertahankan identitas mereka, beberapa dari pimpinan perlawanan itu ialah Silas Papare, Samuel Kawab, Marthen Indey, Raja Fatagar, Raja Kokas, Lodewijk Mandacan.

Kelak, dalam perlawanan di tahun 1944 lebih dari 2000 orang Jepang dibunuh oleh rakyat, terutama tentara Jepang yang berada di Manokwari, Sausapor, Jayapura, Biak dan Serui. Pandangan rakyat Papua terhadap bangsa non-pribumi tidak hanya dipengaruhi oleh suatu pandangan aliran-aliran kebatinan (sifat-sifat cargo) seperti pada perlawanan-perlawanan terhadap bangsa lain sebelumnya tetapi kesadaraan nasionalisme yang mengarah pada perlawanan politik yang modern yakni perjuangan ke arah kemerdekaan Papua, hal ini disebabkan oleh suatu penanaman kesadaran ideologi nasionalisme Papua oleh J.P. Van Eechoud seorang Residen Belanda ketika mendirikan sebuah Sekolah Pamong Praja di Holandia (Jayapura) dan sekolah inilah yang menghasilkan banyak politisi-politisi modern yang menjadi penantang berat bagi Belanda dan Indonesia untuk mempertahankan na­sionalisme Papua, seperti Herman Wajoi dari Parna (Partai Nasionalis) yang beraliran nasionalis Papua yang menghendaki suatu pemerintahan penuh dan menolak penggabungan dengan Indonesia.

Para elit Papua ini dengan kemampuan berdiskusi dengan baik menyebarkan ideologi nasionalisme Papua kepada rakyat terutama di Holandia dan Manokwari. Di pedalaman Papua pada saat merdeka dan sesudah Indo­nesia merdeka rakyat sudah menyatu dengan Belanda, hal ini disebabkan karena adanya politik dari Belanda itu sendiri.

Oleh sebab itu, mereka telah terindoktrinasi dengan ajaran-ajaran Belanda. Pada tahun 1954 Zakeus Pakage seorang suku Mee yang terdidik menjalankan gerakan Papuanisasi dalam kegiatan keagamaan. Sehingga ia menjalankan gerakan Papuanisasi yang kemudian disebut Wege Bage (Kaum Perusak) oleh para pendatang. Setelah dipenjarakan di Jayapura, ia kembali ke Paniai untuk melanjutkan kegiatannya.

Akibat pengaruh dari Karel Gobay dan Zakeus Pakage yang oleh orang Paniai dianggap sebagai orang yang kedudukannya sama dengan Ogai (Kaum Pendatang), mereka memperoleh banyak pandangan dari Belanda termasuk janji kemerdekaan kepada Papua karena itulah mereka menanamkan benih-benih kebencian terhadap Iyowoya (Rambut Panjang).

Perlawanan dengan cara pelarian atau penyeberangan secara politis ke PNG dalam jumlah yang besar terjadi pada saat menjelang dan sesudah Pepera. Di tahun 1968 tercatat sebanyak 1.200 orang bersamaan dengan kepergian Willem Zonggonau, Clemens Runawery, tokoh-tokoh OPM yang juga adalah anggota DPRD TK I Irian Barat, karena diintimidasi sehingga memutuskan untuk lari ke PNG. Mereka dengan efektif menjalankan gerakan-gerakan yang bisa menarik perhatian OPM di dunia internasional. Satu cara di antaranya adalah mengajak masyarakat untuk menyeberang ke wilayah PNG.

Sosialisasi nasionalisme dengan membesarkan simbol-simbol kebudayaan Papua merupakan suatu era baru dan perjuangan bentuk baru bagi bangsa Papua. Perjuangan melalui kebudayaan merupakan salah satu alternatif perjuangan (persatuan) bangsa Papua untuk mencapai kemerdekaan yang dinantikan.

Pemikiran inilah yang mendorong Arnold Ap, Marthin Sawaki, Sam Kapisa, Yowel Kafiar yang waktu itu sebagai mahasiswa Universitas Cenderawasih sedangkan Arnold Ap adalah kepala Kurator Museum Sansekerta Universitas Cenderawasih di bawah Lembaga Antropologi di perguruan tinggi terkemuka Irian itu, membentuk sebuah kelompok musik Mambesak.

Kelompok musik Mambesak pertama kali dibentuk pada tanggal 15 Agustus 1978 dalam rangka memperingati upacara 17 Agustus 1978 di Universitas Cenderawasih. Mambesak itu sebagai sebuah simbol perjuangan untuk memberikan hiburan dan kesegaran bagi para pejuang OPM di hutan serta seluruh masyarakat Irian. Sehingga mendapat tanggapan positif dari seluruh lapisan masyarakat baik kelas bawah, menengah maupun juga kelas atas.

Ketika itu hampir tiap rumah memutar tape untuk mendengar kaset Mambesak sambil mengenang kembali simbol-simbol kebudayaan yang menjadi identitas mereka. Selain itu, tiap Radio Republik Indonesia baik Nusantara V Jayapura maupun RRI Regional di tiap Kabupaten menyuguhkan lagu-lagu ini selepas senja.

Hingga tahun 1984 berhasil diproduksi lima volume kaset Mambesak. Semangat antusias dari kalangan luas ini mendapat kecurigaan dari pihak keamanan Indonesia sehingga seringkali Arnold Ap berhubungan dengan kepolisian. Perlu diketahui bahwa masyarakat Melanesia dalam kehidupannya diliputi oleh jiwa spiritualitas yang tinggi.

Tingginya semangat spiritualitas itu dapat terlihat dari dua bagian, ada kehidupan dengan sikap-sikap religius atau spiritualitas rohaniah (keagamaan) dan ada spiritualitas jasmaniah, ekspresi spiritualitas jasmaniah itu terlihat pada kesenian dan kebudayaan di tiap suku dengan memiliki semangat berdansa-dansa yang sangat sarat di wilayah Melanesia. Dan berdansa sambil bernyanyi merupakan ungkapan/ekspresi perasaan yang terpendam dalam lubuk hati mereka.

Karena itu, tindakan Arnold Ap melalui gerakan kesenian ini merupakan wujud ungkapan perasaan kemerdekaan yang tersimpan dalam hatinya. Namun tindakan inilah yang mendorong pihak keamanan Indonesia untuk menahan mereka. Apalagi dalam waktu yang hampir bersamaan, sebuah grup musik dari Irian Black Brothers juga melakukan perjuangan-perjuangan melalui lagu-lagu yang pada umumnya mengritik Indonesia memperkuat dugaan pihak keamanan Indonesia untuk menahan kelompok musik Mambesak ini.

Akhirnya pada tanggal 30 November 1983 Arnold Ap bersama Eddy Mofu dan lebih dari 20 orang ditahan oleh Kopasandha setelah pihak Kopasandha membongkar jaringan OPM di mana Arnold Ap bertindak sebagai perantara dalam menghubungkan aktivis OPM di hutan seperti Jance Hembring di kampung Nimboran Jayapura, Seth J. Rumkorem dengan akti­vis OPM di kota seperti para pegawai-pegawai di kantor gubernur, dosen, mahasiswa Uncen dan simpatisan Papua lainnya serta dengan beberapa peneliti asing di Irian.

Arnold Ap dicurigai juga bahwa hasil penjualan kaset Membesak itulah dipakai untuk membiayai pelarian beberapa mahasiswa dan Fred Athabu seorang dosen Uncen ke PNG. Arnold AP dibunuh di tangan Kopashanda.

Pada tanggal 14 Desember 1988 pukul 14.00 WIB kurang lebih 60 orang baik lelaki maupun wanita di Stadiun Mandala sebuah Stadiun Sepak Bola terbesar di Jayapura menghadiri suatu upacara pernyataan proklamasi kemerdekaan Republik Melanesia Barat.

Pernyataan proklamasi dibacakan langsung oleh Presiden Melanesia Barat Dr. Thomas Wapai Wanggai seorang doktor di bidang administrasi pemerintahan lulusan Jepang dan Amerika Serikat. Mereka mengibarkan bendera Melanesia Barat dan menyanyikan lagu kebangsaan ciptaan Dr. Thomas Wanggai, berdoa dan menyimak pidato proklamasi yang disampaikannya.

Thomas Wanggai sebagai pimpinannya bersama beberapa pengikutnya ditahan oleh pihak keamanan dan diadili di Pengadilan Negeri Jayapura kemudian divonis hukuman 20 tahun penjara serta istrinya yang menjahit bendera Hitam Putih Merah dengan 14 Salib dikenai hukuman 8 tahun penjara dan setelah mendapat remisi ia dibebaskan di tahun 1994.

Suasana pengadilan begitu panas diramaikan pengikut Thomas yang memadati ruangan sidang. Thomas sendiri merasa geram de­ngan putusan hakim, kemudian dipenjarakan di lembaga pemasyarakatan Jayapura selanjutnya dipindahkan ke penjara Cipinang Jakarta sampai akhir hayatnya 1996.

Dr. Thomas Wanggai meninggal di Jakarta, ketika ia se- dang menjalani hukuman penjara di Lembaga Cipinang Jakar­ta, pada tanggal 13 Maret 1996.

Perlawanan politik di Papua mengalami evolusi yang Panjang dan rumit, namun tahun 2000 terjadi transformasi perjuangan di Papua yang semula terfokus pada perjuangan bersenjata (konfrontatif) ke diplomatic dan kooporatif. Hal ini ditandai dengan berakhirnya kekuasaan Suharto dan tampilnya B.J. Habibie sebagai Presiden.

Era baru gerakan perjuangan di Papua tentu juga ditandai dengan munculnya Isu-Isu Hak Asasi Manusia melalui tokoh-tokoh seperti Jhon Rumbiak, George Aditjondro dan beberapa pengurus LBHI Jakarta yang saat ini ditugaskan di Papua.

Munculnya aksi Puncilikan dan Operasi Militer wilayah Amungsa di Bela, Jila dan Alama mendapat simpati kalangan mahasiswa di Jawa melakukan demontrasi besar-besaran di Pulau Jawa akibatnya ada surat dari Jhon F Kenedy Memorial kepada Presiden agar memperhatikan  Pelanggaran Ham Papua.

Di Jayapura kalangan intelektual Papua menyatu atau membentuk persatuan seluruh rakyat papua dan membentuk Foreri (Forum Rekonsiliasi Irian Jaya) oleh Dr. Beni Giai, Willy Mandowen. Herman Awom. Foreri melahirkan Presiden Dewan Papua (PDP) dan Panel Papua sebagai instrument artikulator kepentingan rakyat Papua.

Perlawanan politik melalui kooporatif dilakukan melalui PDP yang dipimpin oleh Theys Eluai dan Thom Beanal. Gerakan perlawanan melalui PDP ini dianggap berbahaya sehingga pada tahun 2001 Theys Eluai  dibunuh oleh Kopasus di Jayapura.

Sepeninggal Presiden Gus Dur Jakarta melakukan transformasi operasi di papua melalui intelijen dan salah satu cara yang digunakan adalah  dengan listing nama-nama tokoh di papua, baik pendukung gerakan Kemerdekaan  atau juga bukan pendukung atau intelektual biasa.

Kemajuan pendidikan dan pengetahuan orang Papua sepertinya tidak disukai oleh Jakarta karena dianggap akan berbahaya dan mengancam keselamatan NKRI, pola pikir yang kontras dan paradoks ini justru memicuh militansi perlawanan terhadap Jakarta, akhirnya peralawanan rakyat Papua semakin massif anak kecil yang baru lahir sudah di doktrin perlawanan dan nasionalisme Papua dan kebencian terhadap Jakarta makin kental dan solid.

Pola operasi intelijen dengan membunuh target-target hampir semua tokoh di Papua semakin meyakinkan rakyat Papua tidak nyaman hidup di Indonesia.   Kematian beberapa tokoh Papua secara misterius ini sudah diketahui oleh rakyat Papua secara utuh apalagi ketika terbongkarnya nama-nama tokoh Papua yang menjadi target pembunuhan melalui Ditjen Kesbangpol Kemendari.

Kematian secara misterius Tokoh-Tokoh Intelektual Papua yang bukan aliran politik Papua Merdeka, orang-orang Profesional seperti Papua Agus Alua, Jap Sallosa, Frans Wospakrik, Neles Tebai, Sendius Wonda telah menegaskan rakyat Papua telah berada dalam ancaman keselamatan nyawa. Jakarta mesti ketahui bahwa begitu lama rakyat Papua menderita karena teror, penangkapan, penyiksaan, penganiayaan, pembunuhan kian hari terjadi kasat mata di Papua.

Memori derita (memoria pasionis) telah mengakar, bahkan perjuangan orang papua agar lepas dari genggaman penderiataan seringkali menjadi sebuah kredo baru -agama baru.

Jakarta selalu berfikir bahwa dengan menghilangkan nyawa pemimpin atau tokoh intelektual  di Papua, lantas orang Papua akan setia NKRI dan nasionalisme bangsa Papua akan hilang. Pemahaman itu utopia, ilusi, justru memupuk militansi dan akan menjadi goresan kebencian bagi anak cucu baik melalui tulisan ataupun tutur lisan, apalagi jejak digital tidak bisa punah di era modern.

Mengapa? Siapapun tokoh Papua adalah panutan, penyayom, pelindung bagi sanak saudara (tanpa menjadi OPM), mereka telah menjadi Benteng-Benteng Jenbekaki yang membentengi Papua dari ancaman dan marah bahaya yang menghancurkan eksistensi bangsa Papua Melanesia. 

Koresponden: Natalius Pigai (Tokoh Nasionalisme West Papua)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*