Bahasa Indonesia pada Era Globalisasi

Oleh: Mukminah

Patriot.id — Perkembangan globalisasi di Indonesia ini sangat pesat. Hal ini disebabkan oleh perkembangan tekhnologi yang juga sangat cepat, sehingga interaksi antar manusia di negara-negara lain dapat dilakukan dengan praktis tanpa perlu memakan waktu lama.

Kemudahan itu membuat informasi dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan waktu yang relatif singkat. Percepatan informasi ini, mempercepat proses keterkaitan dan ketergantungan antar manusia di dunia.

Hubungan-hubungan langsung seperti perdagangan pun dipercepat dengan adanya berbagai metode untuk berinteraksi. Misalnya dengan menggunakan jaringan internet, telepon, ataupun surat elektronik. Hal tersebut berperan penting dalam menyebarkan globalisasi di dunia.

Dirunut menurut bahasa, globalisasi berasal dari kata global, yang memiliki kata dasar globe yang berarti bola dunia, globalisasi dapat di artikan sebagai “penyabaran sesuatu secara mendunia” baik budaya, ideologi, maupun elektronik. Jadi, globalisasi adalah sebuah jaringan yang menyatukan masyarakat yang sebelumnya berpencar Menjadi saling memiliki suatu persatuan.

Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, bersamaan dengan mulai berlakunya UUD 1945,yaitu pada tanggan 18 agustus 1945. Seiring dengan perkembangannya, bahasa indonesia terus mengalami perubahan, diantaranya penyempurnaan ejaan dari ejaan lama ke Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), serta penyerapan-penyerapan kata yang berasal dari luar maupun dalam negeri Indonesia, hingga jadilah bahasa indonesia yang kita ketahui sekarang ini.

Dalam perkembangannya–dengan adanya globalisasi–bahasa Indonesia mulai terpengaruh oleh berbagai macam bahasa lain, seperti bahasa Inggris, Jepang dan Korea. Ini merupakan 3 bahasa yang paling memengaruhi penggunaan bahasa indonesia.

Hal itu disebabkan oleh pertukaran budaya dan informasi yang begitu deras lewat internet, televisi dan media-media lainnya. Sehingga orang-orang indonesia cendrung terbiasa mengucapkan “good morning” dari pada kata-kata bahasa Indonesia seperti “selamat pagi”.

Bahasa-bahasa alay yang menggabungkan huruf dan tulisan serta sebutan yang kadang memiliki arti yang jauh dari konotasi sebenarnya, seperti “cabe-cabean” juga dapat merusak bahasa Indonesia. Hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari fenomena globalisasi yang makin gencar dengan adanya tekhnologi informasi.

Untuk itu, diperlukan sebuah kesadaran dari masyarakat, terutama masyarakat Indonesia, sebagai pengguna bahasa Indonesia, sehingga bahasa Nasional Republik Indonesia ini dapat menjadi bagian dari globalisasi, bukan menjadi korban dari globalisasi.

Kesimpulannya, bahasa Indonesia, dapat bertahan di era globalisasi dan perkembangan tekhnologi, asalkan dibatasi dari percampuran bahasa asing dan yang berlebihan serta digunakan sebagai bahasa internet.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*