Bahasa Melayu Sudah Lama Masuk ke Australia

Australia merupakan negara tanpa bahasa resmi (nasional). Itulah mengapa bahasa Inggris kemudian dipilih sebagai pengisi kekosongan. Bahasa Inggris digunakannya sejak kedatangan penjajahan asal Eropa.

Bahasa Inggris sebenarnya tergolong agak telat masuk ke Australia ketimbang bahasa Melayu. Namun bahasa Melayu ternyata kurang dipakai masyarakay sebagai alat komunikasinya.

Kendati begitu, bahasa Melayu asal Nusantara (Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke), tercatat sebagai bahasa asing pertama yang masuk dan dipelajari di benua Australia.

Bahasa Melayu mula bukanya ke diperkenalkan kepada suku asli yang tinggal di Australia Utara pada tahun 1700-an, melalui nelayan dari Makassar yang datang untuk menjalin hubungan dagang dengan penduduk setempat.

“Suku Yolngu adalah orang pertama di benua Australia yang menggunakan bahasa asing dengan belajar bahasa Makasar dan bahasa Melayu dari Indonesia,” ujar Dr Paul Thomas peneliti dari Monash Univesity, di Melbourne.

Dr. Paul baru saja merilis buku terbarunya Talking North: The Journey of Austalia’s First Asian Language di Canberra, hari jumat 22 november pekan lalu. Dalam buku itulah didesahkan bagaimana bahasa Melayu dari Nusantara bisa beringsut sampai ke Australia.

Kepada media ABC Indonesia, dosen bahasa Indonesia di Deakin University itu memberitahukan, (bukunya) mencoba merekam masuknya sejarah bahasa Melayu dari Indonesia ke Australia–yang selanjutnya disebut bahasa Melayu-Indonesia dan perkembangannya hingga saat ini.

Dari penjelasannya, sesuai catatan sejarah, juru bahasa yang pertama di benua Australia adalah juru bahasa Melayu-Indonesia yang didatangkan oleh Batavia oleh penjelajah bernama Abdel Tasman di awal abad ke-17.

“Ia disuruh mencari juru bahasa Melayu karena mereka kira akan ada kemungkinan bahasa Melayu-Indonesia digunakan di benua Australia, yang saat ini bernama Hollandia Baru,” ujar Dr Paul.

Tetapi kini di era modern Australia, minat untuk belajar bahasa Indonesia terus mengalami penurunan. Salah satu faktornya adalah pendatang dari Indonesia ke Australia yang jumlahnya terlalu sedikit dibandingkan dengan pendatang dari negara Italia, Yunani, atau Cina.

“Pendatang dari Indonesia kebanyakan jadi mahasiswa, bukan pendatang tetap, karenanya pengaruh mereka kepada kebudayaan Australia menjadi tidak begitu besar ” kata Dr Paul yang fasih berbahasa Indonesia saat diwawancarari ABC Indonesia.

Tapi status bahasa Indonesia di negeri sendiri juga ikut mempengaruhinya, tambah Dr Paul, karena belakangan penggunaan bahasa Inggris dianggap lebih penting atau ‘lebih bergensi’ di Indonesia.

“Kalau statusnya naik, misalnya ada lebih banyak kerja sama dengan Malaysia untuk mempromosikan bahasa Melayu Indonesia sebagai bahasa “ASEAN” atau film dan musik Indonesia, jadi lebih populer di ASEAN, pasti keinginan murid [Australia] untuk belajar bahasa Indonesia akan dipicu sampai jumlahnya naik juga,” kata Dr Paul.

Awal November lalu, PM Australia Scott Morrison, telah bertemu dengan presiden Joko Widodo di Bangkok, Thailand. Di situ Presiden Indonesia berjanji segera meratifikasi perjanjian perdagangan bebas kedua negara.

Entah apa yang dipikirkan Jokowi. Mudah sekali terucap dari bibirnya untuk meratifikasi perjanjian neolib. Padahal dalam riset Paul perdagangan bukan variabel satu-satunya pendukung perkembangan bahasa Melayu-Indonesia di Australia.

Tetapi lagi-lagi Paul sama seperti ilmuan tukang lainnya: bertendensi pada pasar. Inilah kenapa dosen itu berkata: jika nantinya perdagangan bebas ini diterapkan maka akan membantu bagi minat belajar bahasa Indonesia di Australia. Tapi jika warga Australia masih tidak minat dengan budayanya, maka masa depan (bahasa Indonesia di Australia) tidak begitu bagus.

Paul sepertinya tidak sepenuhnua yakin dengan proposisi yang dia ajukan untuk mengembangkan bahasa Melayu-Indonesia. Dia soalnya meneliti bukan untuk bahasa secara an sich, melainkan demi memperbesar kekuatan kapitalisme-neoliberalisme. Sayangnya Jokowi menelan mentah-mentah pernyataan ilmuan tukang asal Australia itu.

Oleh: Najihan Imtihana

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*