Bangkitlah Gerakan Mahasiswa Menuju Reformasi ’18

Oleh: Ahmat

Patriot.id — Pada tahap-tahap awal kemunculannya, dikisahkan dalam tragedi Dreyfus 1896, istilah intelektual dipakai untuk menunjuk kepada sebuah kelompok dengan misi yang diproklamirkan sendiri, yaitu membela sebuah nurani bersama atas persoalan-persoalan politik yang mendasar.

Setali tiga uang, dalam pemikiran Ali Syari’ati setiap nabi adalah Intelektual dalam pengertian yang sesungguhnya atau pemikir tercerahkan. Mereka berasal dari kelompok miskin karena tertindas oleh sistem kapitalistik dan dispotik pada zamannya. Dewasa ini pun istilah intelektual telah berkembang, dan seringkali dikonotasikan dengan seorang mahasiswa.

Sementara itu, Antonio Gramsci pun menyebutkan, bahwa setiap orang menjalankan bentuk aktivitas intelektual. Maka tidak heran seorang yang belajar di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebagai mahasiswa dianggap merupakan sosok intelektual. Tetapi tidak semua orang dalam masyarakat menjalankan fungsi intelektual. Karena menurut Gramsci seseorang dapat dikategorikan intelektual, terletak pada fungsi sosialnya.

Sama halnya dengan pemikirannya Ali Syari’ati, bahwa para nabi disebut Intelektual karena hadir dalam konteks sosial, politik dan formasi kebudayaan masyarakat yang beragam untuk memberangus segala macam bentuk penindasan akibat superiornya status quo kekuasaan. Namun, banyak pemuda-pemudi di beberapa daerah di Indonesia mengaku sebagai kaum intelektual sementara tidak melakukan fungsi sosial sebagai kaum intelektual yang senantiasa menyeruakan perlawanan terhadap tatanan kehidupan yang menyengsarakan hajat hidup orang banyak.

Dikala mahasiswa Makassar, Bima, Jambi, Riau, Semarang, Jakarta, Aceh, dll., yang sedang hingar-bingar menyuarakan kebenaran dalam bentuk protes atas kebekuan tatanan kapitalis dan dispotisnya Jokowi, sudah seharusnya mahasiswa yang belum turun tergerak juga ikut bergerak.

Nawacita Jokowi secara gamblang, bahkan kaum yang tak berpendidikan tinggi, atau bahkan orang awam, apalagi kaum papa pun tahu, bahwasanya rezim ini telah gagal merealisasikan visi-misinya sewaktu kampanye 2014 lalu–Nawacita.

Mahasiswa yang belum bergerak harus membuka mata lebar-lebar seperti saudara-saudaranya yang ada di Makassar. Mereka bergerak karena tidak ingin kedigdayaan dolar terus merajalela, agar tak membuka kran lebar-lebar yang mengakibatkan terjadinya krisis moneter bak ’97.

Lihatlah juga mahasiswa di Bima, mereka merelakan dirinya berjibaku dengan aparat prihal rupiah lemah. Sebab, tak ingin harga bahan-bahan pokok naik simultan dengan timbulnya penderitaan rakyat. Apalagi, sekarang harga kosmetik sudah naik! Mahasiswa tentunya memakai kosmetik, Dus proteslah di jalanan agar biaya kecantikan kalian tidak mahal.

Begitupun dengan mahasiswa Riau, mereka bersuara karena hukum di negeri ini telah dikebiri. Polisi telah bertindak serampangan, menembak tiga nelayan di peraian Riau. Satu orang meninggal, duanya lagi tengah berjuang melawan maut. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai kaum intelektual, seyogyanya melaksaakan fungsi intelektualnya. Di tengah rezim yang hampir menguasai seluruh alat kekuasaan, tidak ada cara lain. Turunlah ke jalan. Bersuara untuk membela hak kaum tertindas.

Saudara-saudara kita di Jambi, Jakarta dan Semarang juga demikian, dengan penuh kesadaran dan ketulusan telah menghimbau kalian agar ikut bergerak. Jika kalian hanya mementingkan kuliah untuk mendapatkan IP/IPK tinggi dan cepat wisuda dengan status cum lude sehingga mendapatkan pekerjaan yang layak. Melihat fungsi intelektual yang belum dilaksankana, Itu salah besar!

Dewasa ini, Rezim Jokowi hanya bisa berjanji menyediakan 40 ribu lapangan pekerjaan untuk kalian. Sementara yang ada para penganggur melimpah-ruah — mayoritas berasal dari mahasiswa. Benar apa yang disuarakan Komite Serikar Pekerja Indonesia (KSPI), salah satu perusahaan Cina di Sumatera Utara, seorang sarjana hanya dipekerjakan sebagai kuli kasar dan diperbudak oleh Tenaga Kerja Asing (TKA) menjadi pelayan selaksa menjadi pembantu di negeri sendiri.

Bukan hanya itu, direkturnya dan staf-staf strategisnya pun diangkat dari TKA Cina. Pemerintah akibat hubungan kerja samanya memberlakukan kebijakan yang di mana metode, alat/bahan, dan tenaga kerja didatangkan semuanya dari Cina, sewalaupun TKA itu tidak memiliki kemampuan seperti sarjana, dia akan tetap diterima. Akhirnya Indonesia di membanjir TKA Cina bak jamur di musim hujan.

Dan paling parah, orang asing itu adalah sebagian besar berasal dari mantan tentara, sehingga tidak heran di salah satu perusahaan Cina di Sumatera ditemukan gudang persenjataan, yang diasumsikan meraka akan membangun kekuatan bersenjata melawan bumiputera. Semua itu akan berlanjut selama rezim Jokowi belum tumbang.

Pascawisuda kesempatan mahasiswa untuk bekerja dan memperoleh kehidupan yang layak menjadi sesuatu yang jauh panggang dari api. Apalagi, ditambah dengan anjloknya nilai tukar rupiah atas dolar seperti sekarang ini, ke depan biaya pendidikan akan ikut dinaikan seperti halnya kebutuhan pokok lainnya.

Oleh karenanya, di tengah demonstrasi mahasiswa di berbagai kabupaten/kota/provinsi. Yang didukung oleh momen –menyeruapnya berbagai kebobobrokan rezim Jokowi, maka mahasiswa sepatutnya menjemput kesempatan itu — untuk menyuarakan aspirasi yang selama ini menunggu waktu yang tepat.

Jangan sampai Indonesia menjadi negara gagal, seperti Korea Selatan, Kongo, dll. Dengan menggunakan contoh sejarah dari berbagai belahan dunia, dalam bukunya Daron Acemoglu dan James A. Robinson menjelaskan, Mengapa Negara Gagal? Salah satunya digambarkannya dengan Uni Soviet di dekade 1960-1979-an mampu membuat negara barat ketar-ketir dengan kedigdayaannya, masuk ’90-an malah menjadi binasa. Disebabkan oleh lemahnya institusi ekonomi-politik pada negara seperti yang dialami Indonesia hari ini.

Negara yang mempunyai Institusi ekonomi-politik inklusif cenderung akan menjadi negara kaya. Sementara Indinesia dengan institusi ekonomi-politiknya yang ekstraktif, tinggal menunggu waktu saja untuk terseret dalam jurang kemiskinan, instabilitas politik, dan mengarah menjadi negara gagal.

Mahasiswa sebagai agent of change, agent of control dan iron stock ketika diberi kesempatan yang muncul atas momen kolektif seperti hari ini. Harus digunakan untuk menorehkan gerakan yang progresif revolusioner demi mempertahankan negara dan bangsanya dari rongrongan kegagalan di depan mata.

Secara sederhana, Prof. Dr. Widjiyo Nitisastro membagi intelektual ke dalam dua bagian. Manakah yang termasuk mahasiswa? yakni ada pekerja intelektual dan intelektual itu sendiri. Seorang pekerja intelektual menurutnya adalah seorang tukang yang kemampuannya terletak dalam keahlian dan otaknya, sehingga dapat disamakan dengan seorang pekerja atau tukang yang mempunyai keterampilan tangan. Dan tidak peduli untuk apa hasilnya digunakan. Mirip tukang panci atau pandai besi.

Baginya, intelektual adalah seorang pengkritik masyarakat, seorang yang pekerjaannya mengidentifikasi, menganalisa, dan dengan jalan tersebut membantu menghadapi rintangan-rintangan yang menghambat tercapainya suatu tatanan masyarakat yang lebih baik, serta berprikemanusiaan dan rasional.

Dalam hemat penulis, Dr. Widjiyo menekankan bahwa mahasiswa adalah hati nurani masyarakat. Sehingga sebagai kam Intelektual mereka merupakan penggugah hati masyarakat, menunjukan apa yang tidak pada tempatnya, memberi peringatan sebelum terjadi hal-hal yang tidak benar, dan membantu menunjukan arah perkembangan yang baik. Tentunya harus dimulai dari anti terhadap kemapanan status quo yang membunuh nalar sehat, seperti rezim Jokowi.

Dalam konteks kehidupan bermahasiswa, bermasyarakat dan bernegara, peran kaum intelektual sangat signifikan. Karena itu, Mahasiswa mesti terlibat aktif dalam gerakan perubahan menuju #TurunkanJokowi, bangunkan kesadaran kolektif bahwa #RupiahLongsorJokowiLengser.

Satu yang harus ditanamkan dalam nuranimu mahasiswa, gerakan mahasiswa bukan gerakan kepentingan pilpres 2019. Meski asumsi bertebaran, itu niscaya adanya.

Tidak dipungkiri, memang ada asumsi umum yang berkembang di kalangan masyarakat bahkan di organisasi mahasiswa, bahwa mahasiswa seharusnya belajar saja di kampus, dan tidak terlibat dalam aktivitas yang memiliki tendensi politik, terlebih apabila aktivitas itu dalam bentuk penciptaan kerangka ilmiah guna mendukung tindakan penguasa.

Tetapi mahasiswa sudah terlanjur dianggap berintelektual, sudah seharusnya memiliki fungsi sosial — idealnya mahasissa sebagai komunitas knowers yang dalam tindakan-tindakan refleksinya bermuara pada pemihakan kepada masyarakat. Seperti halnya menggugat Jokowi atas kebohongan janji-janjinya, yang selama ini sangat menyengsarakan rakyat.

Pada gerakan tersebut mesti dibedakan antara kebenaran politik dan kebenaran komunal. Penguasa, di satu sisi, memiliki logika kebenaran politik, yang tidak begitu saja dapat diterima oleh masyarakat yang di dalam dirinya terdapat logika kebenaran komunal pada sisi yang lain.

Karena logika kebenaran berbeda itu, maka ada jarak yang membentang cukup lebar antara kebenaran komunalnya masyarakat dan kebenaran politiknya penguasa. Sebuah kebenaran komunal, ketika dikomunikasikan kepada penguasa, akan dipersepsi secara negatif oleh penguasa dan kroni-kroninya, sepertihalnya gerakan mahasiswa seolah-olah adalah gerakan dukungan terhadap prabowo karena dianggap tidak memihak ke Jokowi.

Sebaliknya, ketika kebenaran politik disampaikan kepada publik, maka yang terjadi adalah tindakan reaktif akan kebenaran itu. Karena itu, ketika mahasiswa tidak bergerak turun ke jalan. Berarti telah memihak pada kebenaran penguasa ketimbang kebenaran komunal, rakyat Indonesia dan para saudara-saudarnya mahasiswa Bima, Makassar, Jambi, Riau, Semarang, Jakarta, Aceh, dll.

Mahasiswa yang meyakini dirinya sebagai intelektual, harus berani untuk menerjang segala asumsi demi turun ke jalan menyampaikan teriakan kepada rezim Jokowi yang bobrok. Jangan jadi penghianat intelektual, yang pada buku Penghianatan Intelektual-nya Julien Benda dikatakan sebagai intelektual yang menjadikan asas kebenaran dan keadilan berada di bawah ketiak penguasa. Tetapi jadilah intelektual yang tidak mengahamba pada kepentingan politik tertentu, apalagi hanya sebatas untuk makan dan cari aman.

Mari tunjukan pada dunia bahwa mahasiswa Indonesia masih ada. Mahasiswa yang dulunya membangun gerakan besar-besaran di UI Salemba, angkatan ’66. Begitu juga dengan angkatan ’74, bahkan jiwa dari pejuang reformasi ’98 harus kita buktikan masih ada sampai sekarang di ’18 ini. Bangkitlah gerakan mahasiswa!

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*