Batu Stupa Tidak Dapat Atensi Pemda! Mahasiswa KKN Unram Akan Bantu Pengrajin

Foto: Ketua Kelompok KKN Unram Desa Ginteng Sapri, saat berada di samping Patung Batu Stupa.

Loteng, Patriot.id — Keberadaan “Batu Stupa” di Desa Kidang Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), merupakan bagian dari sisa-sisa peradaban Budha yang berkembang sekitar abad VIII dan IX di Pulau Lombok.

Dewasa ini, di Pulau Seribu Masjid, batu stupa pun telah dilestarikan menjadi sebuah kerajinan yang memiliki nilai estetika dan ekonomi bagi penduduk setempat. Batu stupa biasanya disebut oleh warga sekitar sebagai batu boka karena batu tersebut mengandung macam-macam kegunaan. Di antaranya, bisa digunakan sebagai batu nisan, penghias lampu dan patung.

Pada abad ke-20, batu tersebut sangatlah ramai dibeli oleh warga lokal maupun manca negara. Dulu, sentral pemasaran ada di Bali, untuk dikirim ke Australia, Jepang dan Swizerland. Alhasil, setelah kejadian Bom Bali, pada 12 Oktober 2002, penjualan batu stupa mati sampai sekarang.

Untuk itu, Ketua Kempok KKN Unram Desa Kidang Sapri, amat menyayangkan akibat tersebut. Pasalnya, banyak pengrajin batu stupa yang kebingunan memasarkan hasil kerajinannya.

“Sebagai mahasiswa KKN Unram yang turun survei langsung terhadap Ama Tika, dkk. (pengrajin batu stupa–Red.), banyak sekali mengeluarkan keluhan dalam pemasaran batu tersebut. Mereka bingung mau memasarkan di mana,” beber Ketua KKN Unram Desa Kidang ketika diwawancarai di Desa Kidang, Kec. Praya Timur, Loteng, Jum’at (08/02/2019).

Foto: Mahasiswa Kelompok KKN Unram Desa Kidang ketika melakukan survey terhadap para pengrajin batu stupa.

Menurut pendapat para pengrajin, tidak terpasarkannya batu stupa sangat dipengaruhi oleh abstainnya Pemerintah Daerah membantu para seniman batu stupa dalam memasarkan dan memperkenalkan karya seninya di pasar.

Namun demikian, Kelompok KKN Unram Desa Kidang pun akhirnya menjadikan persoalan tersebut sebagai proker unggulannya. Selanjutnya, mereka berencana akan membantu para pengrajin untuk memesarkan batu stupa di berbagai hotel di sekitar. “Itu, langkah pertama yang kami coba bangun bersama teman-teman,” ungkap Sapri, yang juga berstatus Kader HMI Cabang Mataram Komisariat Fakultas Hukum Unram.

“Kami juga akan mencoba melalui media–agar pihak pemerintah ikut andil dalam memasarkan kerajinan yang dibuat oleh masyarakat Lombok Tengah. Apabila tidak, maha karya para seniman ini akan menjadi absurd. Sehingga sangat disayangkan Pemerintah Daerah mengembangkan pariwisata, tapi tidak mampu menjadikan batu stupa sebagai souvenir untuk para wisatawan,” lanjutnya.

Jika Pemerintah Daerah tetap menutup mata. Menurut Sapri, sebagian dari masyarakat Loteng yang mencari nafkah sebagai pengrajin batu stupa, akan hidup dalam kesengsaraan. Bekerja keras dengan payah sampai badannya dibanjiri keringat, tetapi tidak mendapatkan kemanfaatan dari pekerjaannya.

“Masyarakat di sekitar coba kami tanya. Keluhan mereka hanya satu: pemerintah tidak ikut andil dalam memasarkan kerajinan mereka. Padahal jika ini laku bisa dijadikan aset untuk NTB, terutama masyrakat Desa Kidang,” tegas mahasiswa semester VIII, yang juga terdaftar di Paguyuban Imahungarapa ini.

Sementara itu, menurut Pak Tika selaku pengrajin batu stupa, sebenarnya harga batu stupa itu cukup mahal. Ada yang sampai Rp 15 juta atau jutaan ke bawah. Namun setelah kejadian Bom Bali pemasarannya pun terhambat.

“Di tambah jalan yang ada di sekitar desa kurang memadai untuk dikatakan mudah diakses. Mungkin itu kendala bagi orang-orang yang ingin berkunjung melihat dan membeli batu stupa,” ucap Pak Tika.

Foto: Kerajinan batu stupa yang telah bertahun-tahun tidak terjual.

Tegas Pak Tika, pemerintah seharusnya memperbaiki jalan di sekitar. Agar dirinya dan pengrajin lainnya bisa dikunjungi oleh para turis lokal dah mancanegara. “Sudah saatnya Dinas-Dinas terkait tidak tinggal diam melihat permasalahan ini,” pungkasnya. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*