Bayi Loteng Butuh Dioperasi Secepatnya, Tapi Orang Miskin Dilarang Sehat

Loteng, Patriot.id — Bayi ini bernama Zahwa Julia Akhila lahir tanggal 9 Juli 2019. Namanya begitu indah, namun keindahan namanya berbanding terbalik dengan derita fisiknya. Umurnya masih amat muda tapi harus rela menanggung nestapa. Itulah yang tengah di rasakan makhluk anak manusia ini.

Malang nian nasibnya. Keluar dari rahim ibu dengan keadaan tak normal. Dia menghirup udara bukan hanya dengan tali pusar yang belum dipotong, melainkan juga bersama gelegar tangis kesakitan menahan nyeri, ngilu dan tekanan daging aneh di sekitar kepalanya.

Usia Zahwa Julia Akhila telah beranjak satu bulan. 30 hari yang rasanya seperti bertahun-tahun lamanya, karena beban hidup begitu berat untuk anak seusianya. Kepalanya amat berat dan sulit digerakan. Bahkan berbaring di bantal mengharuskannya mesti menoleh ke samping, sebab penyakit itu menyulitkan menatap ke atas.

Sakit yang dialaminya, tak butuh vonis medis untuk menyatakannya gawat, darurat, ataupun sejenisnya. Cukup dilihat sekilas semua mata pasti dilandah aroma mencekam. Bahkan sampai tidak tega menatapnya lama-lama. Apalagi setelah tahu bahwa ia dan keluarganya tergolong orang susah. Maka komplekslah kengerian Anda.

Zahwa tidak bisa memilih untuk tercipta di tengah-tengah rumah tangga sekelas DPR, Bupati, Gubernur, atau pejabat-pejabat lainnya. Dia juga mana mungkin dapat pilih dilahirkan dari rahim seorang artis, ulama seleb, pengusaha, ataupun ningrat. Namun ia mesti tabah menerima nasib terlahir dari keluarga yang kurang mampu.

Orangtua Zahwa berpenghasilan pas-pasan. Ibunya hanya ibu rumah tangga. Bapaknya cuman buruh serabutan. Makan sehari-hari seadanya. Tingga di rumah yang juga apa adanya. Kebetuhan-kebutuhan hidup juga terkadang tak terpenuhi sebagaimana orang mampu. Makanya kemudian penyakit anaknya membuat ibu dan bapak itu bingung untuk biaya berobat dengan cara bagaimana.

Kemiskinan memang telah membuat rakyat miskin jadi semacam spesies langkah di negeri ini. Angka warga miskin bukan malah diretaskan oleh pemerintah, tapi juga dikurangkan oleh penyakit. Sudah hidup susah, kematian pun begitu mudah mengancam. Itulah yang tengah dihadapi oleh bayi Zahra dengan ayah dan ibunya. Apabila penyakit anaknya tidak segera ditangani secara serius maka nyawa adalah taruhannya.

Pemerintah ke mana aka sih sewaktu rakyat membutuhkanmu. Jangan bilang kau kenal mereka hanya di saat pemilu saja nongolnya. Dilarang pula katakan bahwa Bupati Loteng, Gubernur NTB tengah asik plesiran kayak DPRD NTB. Jawablah: apa gunanya dinas kesehatan jika penduduknya sesakit ini? Ayo coba tengoklah Zahwa. Aparat-aparat medis sebenarnya bukan tak mau mengobati tapi bilangnya tidak gratis.

Mau sehat mesti pakai duit. Jika pun mati, maka lagi-lagi harus punya uang. Makanya sudah sebulan bayi ini hanya diobati dengan cara tradisional. Tubuh mungilnya sama sekali belum tersentuh tindakan medis, melainkan hanya dukun murahan. Pengobatan yang bukan malah menyembuhkan, tapi bikin waktu terbuang sia-sia. Jika terus-terus begini umur bayi itu kira-kira akan bertahan sampai kapan? Ini pertanyaan yang mesti dijawab pemerintah!

Menurut dokter sih.. itu sakit dapat diobati. Caranya gampang: operasi. Tapi itukan kata si dok. Merekakan kerjanya hanya ketika ada uang. Jadi kalau nggak punya fulus mah sangat sulit. Dengan kata lain orang miskin dilarang sehat. Ini bisah dinisbahkan dengan bukunya Eko Ptasetyo: Orang Miskin Dilarang Sakit. Namun saran dalam karya tersebut sederhana: pertama, tenaga kesehatan mesti berani melawan sistem kapitalis. Teladani Tjipto Mangunkoesoemo, seorang dokter yang mengorbankan harta dan badannya demi menolong penyakit anak kecil yang terserang malaria. Penyakit anak ini tentu tidak seberapa jika dibanding Zahwa. Tetapi si tukang medis sskarang memang sudah kehilangan empati.

Di atas baru dipaparkan saran yang pertama. Sekarang giliran yang kedua. Yakni, si pemerintah mesti kasih subsidi lebih dalam bidang kesehatan. Tetapi untuk keadaan kayak Zahwa, sepertinya instansi-instansi terkait mesti terjun langsung dech: kasih anggaran untuk berobat. Itung-itung buat pencitraan biar viral di media guna mendongkrak popularitas. Bukankah pejabat-pejabat di negeri ini memang terkenal dengan tampilan filantropisnya?

Baiklah. Kita tak akan membahas tabiat-tabiat aparatur negara. Biarlah rakyat yang menilai sendiri. Tetapi sekaranglah waktunya kalian buktikan keberadaan kalian. Tolonglah itu bocah malang. Zahwa masih bayi tapi penyakitnya udah masuk kelaster pejabat yang biasa terserang sakit tumor, kanker, gagal jantung dan sejenisnya. Sayangnya bayi mungil tersebut lagi-lagi tak pinya harta banyak sebagaimana para elit. Maka dari itu, ada baiknya  negara bertindak gesit urus rakyatnya!

Ini alamat rumah Zahwa Julia Akhila; dia bermukim di Gubuk Jero Buwuh, Dusun Sebolet Desa Mujur Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah. Nomor teleponnya tak mesti disebutkan. Coba aja cari sendiri. Biar pemerintah tahu rasanya kesusahan, karena mencari kontak orang itu juga bikin susah kan (?). Namun susahnya untuk mengetahui nomor telepon seseorang tak seberapa jika dibanding susahnya Orangtua Zahwa: kiri-kanan cari bantuan duit buat berobat penyakit si buah hati. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*