BEM Unizar Impoten, Mahasiswa Mesti Cari Solusi Alternatif

Foto kiriman mahasiswa Unizar: kondisi Sekretariat BEM Unizar yang telah dialihfungsikan menjadi gudang.

“Kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istrahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam ini?” (Victor Serge, Bolshevik)

Oleh: Reksyah

Patriot.id — Mahasiwa-mahasiswi Univeraitas Al Azhar (Unizar) Mataram. Pemuda-pemudi yang berkuliah di Fakultas: Hukum, Kedokteran, Teknik, Ekonomi, MIPA, Pertanian. Beberapa waktu silam kalian telah sama-sama mengamanahi seorang mahasiswa dari Fakultas Hukum untuk menjadi Presiden Mahasiswa Unizar. Tetapi saat ini, dia malah mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan.

Di tengah kompleksnya aktivitas ribuan mahasiswa Unizar Mataram sepanjang 2018-2019 ini, ternyata ada sebuah penyakit kronis menghinggapi tubuh eksekutif mahasiswamu. Membuat pengakomodasian dan pengadvokasian aspirasi civitas akademik tersumbat, karena lembaga sekaliber Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unizar mengalami impoten.

Tidakkah mahasiswa Unizar Mataram ingin seperti Unram, UIN Mataram, UM Mataram, atau IKIP Matatam. Di mana Ketua BEM Universitasnya, ketika diamanahi jabatan–konsekuen dan berkomitmen memimpin mahasiswa. Eksistensinya mengharukan nama Univeraitas dengan segudang prestasi, baik di internal maupun eksternal kampus.

Mereka menjadi BEM Universitas yang peduli. Senantiasa melindungi, mengayomi dan melayani kebutuhan-kebutuhan mahasiswanya. Tak sama seperti BEM Unizar yang lari dari tanggung jawab. Ibaratkan pejuang yang kalah sebelum berperang, pada akhirnya mahasiawa rawan diakali birokrat. Sebab, tidak sesosok pimpinan mahasiswa yang berada di depam menjadi tameng dari bahaya laten birokrasi kapitalis pendidikan.

Telah lama kalian luntang-lantung tanpa kepastian siapakah pimpinan mahasiswa. Padahal hak konstitusional telah digunakan untuk memilih Ketua BEM, namun kita tidak mendapatkan perhatian, apalagi berharap ia memenuhi kewajibannya sebagai seorang pimpinan tertinggi mahasiswa Unizar. Di kala jabatan dan kepengurusan sudah dikukuhkan, tapi tidak bersedia mengurus. Bukankah ini sebuah bentuk penindasan terselubung?, yang telah mengorbankan harapan-harapan kita pada saat pemilihan. Menjanjikan perubahan yang tak mampu dikerjakan.

Semenjak pemilihan BEM Unizar penghujung 2017 lalu, sebenarnya telah mencatatkan nama Zul Fahedi Zain sebagai Presiden BEM Unizar periode 2017-2018. Namun, entah mengapa sepanjang tahun 2018, malah vitalitas kepengurusan lembaga ekskutif tersebut tidak bertaring. Hampir tidak ada eksistensi dari kepengurusannya, yang ditandai dengan nihilnya pengurus-pengurus BEM menjalankan program kerjanya.

Hingga hari-hari ini, akibat kevakuman para pengurusnya, secara eksplisit Sekretariat BEM Unizar bahkan telah dijadikan sebagai gudang tempat penyimpanan barang-barang universitas. Hal itu pun menjadi pameo yang sering ditertawakan mahasiswa Unizar. Betapa tidak, Sekret BEM yang seharusnya diisi oleh pengurus-pengurusnya dengan berbagai macam tugas, kini hanya berceceran benda mati dan debu-debu.

Paling banter, dengan tiadanya progres seorang Presma Unizar itu juga telah menimbulkan suara-suara sinis. Sebab, dengan kealpaan BEM, mahasiswa unizar seperti ditelantarkan. Percuma memilih pemimpin tapi tidak mampu memimpin. Itulah yang mereka sesalkan. Padahal banyak sekali aspirasi-aspirasi mahasiswa yang mesti ditampung, baik yang berkaitan dengan sistem perkuliahan maupun sarana dan prasarana di Unizar ataupun pengembangan potensi mahasiswa sendiri. Namun, sepanjang tahun 2018, BEM Unizar telah kehilangan taring di mata civitas akademika.

Sindrom tersebut, mungkin telah membunuh BEM Unizar. Akibatnya, gerakan mahasiswa unizar lumpuh total. Pergerakan Mahasiswa-Mahasiswi Unizar hari mengalami degradasi kelembagaan. Suatu lembaga eksekutif yang progresif sungguh jauh panggang dari api. Impilikasinya, kehidupan mahasiswa demokratis macet. Tidak ada yang melakukan checks and belances terhadap birokrat kampus. Sehingga tidak menutup kemungkinan, di tubuh Unizar sekarang berisi segudang permasalahan. Tetapi tidak diketahui dan diobati. Sebab, BEM Unizar telah mati.

Lalu apa yang bisa diperbuat sekarang? Apa iya, mereka bersikap permisif dengan hal tersebut? Sudah saatnya BEM-BEM Fakultas Unizar mencarikan solusi atas kemandegan BEM Unizar. Jika tidak, jalan satu-satunya adalah dengan menggantinya. Serta, seluruh mahasiswa mesti bersatu, jangan biarkan kehidupan kemahaaiswaan mati, tidak terakomodasi dan teradvokasi. Sudah saatnya mahasiswa melancarkan protes kepada pihak birokrasi untuk secepatnya mencopot Zul Fahedi Zain dari jabatan Ketua BEM, dan melakukan pemilihan BEM Unizar yang baru.

Apalagi yang tidak membuat mahasiswa Unizar untuk bergerak dan protes? Jika tak ada proker BEM yang menyentuh kita, apalagi tidak ada pengembangan nyata yang kita dapat, atau upaya-upaya advokasi kehidupan kampus, maka stagnasilah akibatnya. Saksikan, apa ada kemajuan di Universitas yang mati BEM-nya? Sebut, apa ada selama ini eksekutif mahasiswa Unizar yang bersedia mendengar keluhan kita soal UKT? Tolong beritahu aku apa ada BEM Unizar mudahkan kita peroleh informasi seputar perkuliahan? Katakan, siapa yang bisa sampaikan ketidaknyamanan kita tentang pengajaran dosen? Atau jelaskan, di mana para pengurus BEM ketika ada keluhan soal pembangunan dan transparansi anggaran atau keterbukaan informasi publik Unizar?

Kembali kepertanyaan pada mahasiswa: apakah selama ini kalian tidak merasa terbohongi oleh Ketua BEM Unizar, hingga kalian terlunta-lunta? Dulu, Bung Karno berkata pendidikan adalah jembatan emas untuk meraih kemerdekaan. Namun, Syahrir pejuang kita bilang bahwa kemerdekaan hanyalah jembatan kemanusiaan. Hatta juga jelaskan, kemerdekaan yang kita raih ternyata tak mampu meraih cita-cita sosialnya. Mereka berdua sadar, bahwa pendidikan yang telah memerdekakan kita terancam oleh pemimpin yang enggan dan pongah untuk mengurus.

“Jangan lupa kegilaan sesekali membuat hidup lebih berwarna, orang-orang yang selalu patuh dan penurut sangat membosankan.” (Paulo Coelhe)

“Harus ada perlawanan, entah dengan cara apa, dan jangan sampai kita ditundukkan olehnya.” (Albert Camus)

“Karena kami terlantar di jalan. Dan kamu memiliki semua keteduhan…. Karena kami kebanjiran. Dan kamu berpesta di kapal pesiar…. Maka kami tidak menyukaimu.” (WS Rendra)

Mahasiswa, kutanyakan pada kalian: apa yang bisa dibanggakan dari para pengurus BEM Unizar? Apa kalian simpan foto mereka di dompet untuk setiap hari kau lihat dan jiwai semangatnya? Akankah mereka pernah berpidato kepada kita hingga membuat kagum? Katakan dengan jujur, apa kalian yakin bahwa mereka adalah yang terbaik untuk Unizar? Bahkan, apa kalian terharu dan bangga dengan melihat gaya hidup mereka di tengah mahasiswa-mahasiswa dan sekret-nya yang tidak terurus?

Kurasa, semua di antara kita hanya bisa katakan marah dan malu. Kita marah karena Visi-Misi Ketua BEM Unizar hanya bualan belaka. Kita bahkan malu dengan keadaan internal kepengurusan yang tidak lebih baik dari zombi. Kutanya pada kalian: adakah di antara mereka meminta maaf karena telah ingkari amanah kita? Apa ada Sekretaris minta maaf karena telah gagal menginventarir, sebab tidak ada kegiatan berjalan? Apa pernah bendahara mau disalahkan saat tak ada anggaran pelaksanaan proker? Apakah Depkominfo pernah merasa bersalah jika tak ada komunikasi dan informasi kepada mahasiswa? Sanggupkah DepSDM dan Penelitian mundur jika lalai kembangkan kualitas kita? Adakah Deppenmas merasa hina jika tidak mengabdi pada masyarakat? Pernahkah Depminbak bersalah jika tak dorong minat dan bakat kita? Bahkan, maukah Depkewi mohon ampun karena tak bisa stimulus kewirausahaan mahasiswa?

Semua harapan di atas hanya mimpi. Mereka bukan yang seperti kita inginkan. Bukan tugas utama mereka membawa aspirasi dan melayani kebutuhan kita. Kepatuhan mereka mungkin hanya mengalir ke atas: birokrasi. Dijewantahkan dalam kegiatan penerimaan maba tempo hari, yang memberi untung pada birokrat dan pengurus BEM saja; atau, pada sikap mereka yang bungkam, tunduk dan patuh terhadap titah birokrasi.

Kepada seluruh mahasiswa Unizar yang terlanjur hidup dalam kepemimpinan Zul Fahedi Zain. Sudahkah kalian kehilangan nyali dan harga diri? Kutanya pada kalian: apa yang mengncam kalian selama ini hingga terus bungkam? Kuyakin ada perkara dan trauma dalam kehidupan kemahasiswaan kalian. Ketakutan atas perkara hak-hak kalian yang tidak diakomodasi dan diadvokasi oleh BEM Unizar. Sekaligus trauma terhadap Visi-Misi Ketua BEM yang telah memandang rendah suara kalian, hingga semenah-menah menghardik vitalitas dunia kemahasiswaan dengan sikap impotennya.

Ayolah, buka mata kalian lebar-lebar! Telah lama Unizar ditusuk oleh kepentingan komersil. Tiap semester kalian diburu pembayaran uang kuliah yang tak pernah turun tarifnya. Setiap jengkal kalian diguncang petuah dosen agar kuliaj dalam waktu singkat. Tiap ngobrol kalian mengeluh tentang hari depan yang gelap. Tak jarang di kampus kita dipamer-pameri kekayaan. Walau tak jelas asal usulnya ada mahasiswa jutawan yang memakai kampus untuk pamer keunggulan. Mobil dan motor digonta-ganti. Tas isinya kosmetik, bahkan ada kondom. Handphone jumlahnya melebihi jumlah buku yang dibaca, paling banter hanya dipergunakan untuk: pacaran, nge-game dan minta uang jajan ke Ortua. Laptop terus berubah seiring potongan rambut. Lebih ramai kantin yang dijadikan wahana rumpi, dari pada perpus untuk cari referensi diskusi. Dan tak lupa ke mana-mana bawa kartu kredit yang berasal dari semua bank–seperti sales. Pemuka budaya konsumtif, penjual barang apapun.

Seperti sangkar yang terkucil dari jerit rakyat itulah kalian belajar. Buku, ceramah dan kegiatan akademik tak mampu mengangkat nyali kalian. Apalagi sekarang BEM Unizar, yang seharusnya jadi pendobrak kebuntuan malah tenggelam semakin dalam dan dingin. Jika kalian tidak mampu bangkit dan hancur kebuntuan. Maka, bersedialah menjadi barisan sarjana yang mengabadikan penindasan. Kemudian kalian sekonyong-konyong berada bersama para jahanam, hidup bersama mereka dan bahkan bekerja untuk mereka.

Jika begitu, bagaimana penindasan akibat kevakuman gerakan ini dihentikan? Tak ada cara lain kecuali segera bangkitkan kembali gerakan–kembali penuliskan tekankan–mestinya BEM-BEM Fakultas secepatnya melakukan audiensi dengan pihak birokrasi, jika masih belum mampu, segeralah alirkan persoalan kemandegan BEM Unizar dalam lingkaran diskusi atau konsolidasi di kampus. Pastilah ada mahasiswa Unizar yang tidak mau tunduk dengan keadaan. Percayalah ada mahasiswa yang masih menggenggam keberanian untuk melancarkan protes. Kata Ernesto Guevara De La Sima, “Keberanian itu seperti sikap keberimanan. Jika kau peroleh keberanian maka kau memiliki harga diri, sikap bermartabat yang tidak membuatmu tidak mudah tunduk … keberanian yang membuat kalian bertahan dalam situasi apapun! Nyali sama harganya dengan nyawa. Jika itu hilang. Tidak ada gunanya kau hidup.”

Yakinlah, lewat tangan-tangan kalian sejarah perubahan itu dapat dibentuk. Setidaknya apabila ada yang punya kemampuan menulis. Buat risalah pengungkit keberanian memprotes. Susun tulisan yang mengilhami perlawanan. Sedang untuk mareka yang pintar berorganisasi bentuklah kader yang tangguh. Ajarkan pada mereka bagaimana cara menjangkau massa. Buatlah hubungan yang erat dan saling membantu dengan massa tertindas lainnya. Ingat, jangan sampai warna bendera mempolarisasi perjuangan, tapi tetaplah berusaha mengkonvergensi barisan perlawanan–Antonio Gramsci menyebutnya dengan intelektual organik, cendikia yang mampu mentranfer persoalan besar dalam nalar berfikir awam–oleh Ernest Mandel dinamakan sebuah tautan teori dan praktek.

“Jika kita menghamba kepada ketakutan, kita memperpanjang barisan perbudakan…” (Wiji Thukul)

“Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.” (Pramodya Ananta Toer)

“Sebagai Individu kita tidak mempunyai kekuatan, tetapi bila bersatu, kita kuat dan bisa melawan.” (Cho Young Rae)

Mahasiswa Unizar, perubahan sudah terjadi di kampus-kampus lain. Sesungguhnya bukan semata melalui Pemira atau kekuatan BEM atau DPM. Perubahan tampil selalu melewati jalan kesadaran massa–mahasiswa-mahasiswa pemberang yang tidak puas akan status quo. Kini soalnya, adalah bagaimana merintis hubungan aktif dengan mereka. Bisakah balik kemegahan Unizar bisa dirintis hubungan aktif dengan mereka? Tentu saja bisa, namun kalian harus mencoba sebentar saja keluar dari Unizar untuk menemukan alat pembebesan, yang aku maksud dengan organisasi kepemudaan (OKP). Jadikanlah dia sebagai kampus keduamu, jadilah seorang kader dari OKP yang kau inginkan. Agar kalian punya senjata perlawanan yang akan mendobrak kebuntuan kehidupan kemahasiswaan.

Atas dasar tidak adanya OKP dalam Unizar, yang bisa mengajarkan cara bertualang dan berlawan. Alternatifnya, untuk memenuhi kebutuhan jiwa-jiwa muda, yang tak bisa dipenuhi BEM Unizar. Jadikanlah gerbang kampusmu sebagai saksi, di mana terekam jejak langkah anak-anak muda yang mencari wadah pembebasan dari kekuasaan para jahanam pengabai keadilan–bukan saja hak-hak ditunda dipenuhi, melainkan sengaja dikhianati. Keluarlah dari gerbang kampus untuk mengikuti pengkaderan OKP.

Kuberitahu pada kalian di luar sana begitu banyak OKP yang bersedia mengkader kalian, yang bergerak dalam bidang social movement berbasis agama dan ideologi, ada Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Kesatuan Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), Hikmahbudhi, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Liga Mahasiswa Nasional Indonesia (LMND), Front Mahasiswa Nasional (FMN), dst. dst.. Khusus untuk HMI, yang aku singgahi, hari-hari ini banyak dibuka stand pendaftaran Basic Training oleh Komisariat-Komisariat pada beberapa kampus di Kota Mataram. Adapun pada bulan Maret 2019 ini, tempat pendaftatannya akan ada di Fakultas Hukum Unram, Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Dakwah UIN Mataram.

Keyakinanku tak bergeser secuilpun: solusi alternatif dari kondisi stagnasi mahasiswa Unizar, ada pada gerakan mahasiswanya. Keyakinan ku memiliki dasar historis: tak seorang pun akan percaya bahwa kemerdekaan Indonesia tak hanya disokong oleh tentara. Semua orang tahu kemerdekaan kita didukung oleh mahasiswa. Kita tahu Republik ini berdiri di atas pikiran Tan Malaka, kepiwaian Soekarno, gagasan Moh. Hatta, ide cemerlang Sutan Syahrir. Tentu, pikiran itu ditanam melalui pendidikan tinggi yang dikuatkan oleh berkecimpungnya mereka dalam organisasi.

Kenapa kita butuh OKP? Karena kita bosan dengan pandangan yang lazim. Pandangan yang selalu meyakini bahwa apa yang diterima secara umum maka itulah kebenaran yang final. Seperti rajin sekolah pasti pintar. Keyakinan pada yang pintar pasti patuh: yang patuh pasti berhasil. Janji keberhasilan itu mengundang semua lembaga pendidikan, seperti Unizar menanam kepatuhan dengan membabi buta. Korbannya pastilah mahasiswa yang punya pandangan naif seperti itu. Lagi-lagi banyak bukti yang menunjukan hal sebaliknya: kepatuhan bukan landasan keberhasilan. Membangkanglah: perjuangan dan perlawanan bersama organisasi, yang membuat semua hal jadi berbeda hasilnya.

Coba tanyakan pada dirimu sendiri hai mahasiswa Unizar, yang juga pemuda: apa yang bisa kalian lakukan dengan kuliahmu? Diri kalian, lingkungan kalian atau negara kalian? Lalu, apa sebenarnya keingan kalian jika kuliah berjalan seperti ini? Ketika kalian baca tulisan ini, berpalinglah sebentar pada apa yang melekat pada diri kalian masing-masing: kartu mahasiswa, handphone, buku, leptop, kosmetik, pakaian, kendaraan hingga kondom. Seluruh itu menandakan statusmu sebagai apa, pelajar atau pengusaha? Ayo renungkan, adakah kuliah yang bisa membuat kalian berani? Dosen siapa yang membuatmu bertantang untuk punya nyali? Jika kuliah hanya deretan absensi dan ceramah basa-basi, maka kampusmu hanya menobatkan kalian menjadi pemuda yang tidak memiliki bakti.

Kaum muda menurut Adam Malik memiliki yang namanya ciri khusus. Hati seorang pemuda mengenal keinginan dan keputusasaan yang tak dapat diajuk hanya dengan ukuran-ukuran rasional. Di lain pihak pemuda selalu di bakar oleh cita-cita dan idealisme yang tinggi. Mereka lincah, sigap dan suka meledak karena penuh vitalitas. Mereka tenggelam dalam semangat ‘tak mengenal mati’, dan untuk membuktikan semangat itu mereka punya kecenderungan melakukan tindakan-tindakan yang ekstrem.

Tiupan semangat optimis bukan untuk sekedar memupuo motivasi, tapi juga melejitkan harapan. Sebab pada dasarnya sejarah, diubah, dibangun, dirintis oleh mereka yang punya mimpi gila, keyakinan militan dan berdiri di atas landasan utopis. Itulah yang oleh Ben Anderson disebut dengan seorang pemuda. Mereka yang merasa diri siap terjun dalam pergerakan, menikmati suasana romantisme, penuh utopisme dan petualangan sejati.

Memang tidak semua mahasiwa menyukai organisasi. Kadang ada yang dengan lugunya bertanya: apa manfaafnya ikut organisasi? Kerap kali mereka menganggap akan buat buruk nilan dan repot kuliah. Hal inilah yang menjadi krisis mahasiswa Unizar dewasa ini. Mereka seperti gabus yang terapung ikuti aliran air–lebih percaya terhadap apa yang dilakukan mahasiswa kebanyakan ketimbang untuk berfikir dan bertindak lawan kelaziman. Enggan untuk cari jalan alternatif dan lebih suka pada yang sudah terbiasa. Sementara itu, kampus melarang ikur organisasi, apalagi OKP. Yang terakhir ini, mungkin kampus tak ingin mahasiswa jadi cerdas dan berani. Buat kampus mahasiswa hanya punya tugas: datang, mendengar dan kerjakan tugas. Datang tak pernah terlambat, mendengar tanpa berisik.

Mungkin juga kampus tak mau kalian punya pikiram berbeda. Tak ingin kalian mempertanyakan kebijakan kampus. Menggugat peraturan atau menyangsikan jabatan mereka. Bisa jadi juga mereka trauma dengan aksi-aksi ketika organisasi mahasiswa diisi oleh para pemberani. Sejak itu, OKP pun menjadj momok buat para birokrat kampus. Memang organisasi itu memberi manfaat keberanian. Keberanian hanya milik orang-orang yang tak gampang ditipu: tidak mudah percaya kalau kuliah hanya kegiatan datang, dengarkan dan pulang. Jika kegiatan mahasiswa seperti itu, apa bedanya dengan anak TK? Bahkan mereka juga tak yakin, IP tinggi bisa berikan kemudahan apa saja. Jiwanya selalu meyakini bahwa kuliah itu adalah petualangan. Tak menarik jika hanya berisi: parkiran, ruangan dan pacaran. Harusnya juga memuat perlawanan, pengorbanan dan empati. Maka, OKP secara mendasar melatih keberanian seseorang untuk mengubah kenyataan di luar dirinya. Termasuk, bagaimana menghadapi kevakuman BEM Unizar hari-hari ini.

Lihat saja, bagaimana kesudahan mahasiswa yang terlibat dalam gerakan berusaha memikirkan hal-hal besar di luar dirinya sendiri dan mencoba buat kegiatan yang mempengaruhi mahasiswa lainnya. Tampak yang menonjol dalam diri mereka adalah kepercayaam diri yang tinggi, diiringi dengan upaya aktif untuk meyakinkan orang lain. Semangat ekspresif seperti itulah yang membuat orang bisa berpikir alternatif: berusaha mencari jawaban di luar apa yang sudah disediakan. Dan hanya bisa kalian temukan dalam didikan dunia pergerakan, yang bukan sekedar perkuliahan.

“Penulis adalah pemuda yang pernah mengikuti LK I HMI Komfak Hukum Unram, 24-27 Maret 2016 silam.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*