Bergeloralah Gerakan Mahasiswa 2019

Setiap kesakitan adalah hutang/dari orang-orang yang kejam/Firman dari langit dan lontara di bumi/telah bersepakat di putik-putik cempaka/Bahwa keadilan bukan balas dendam. –D. Zawawi Imron

Ketenangan yang membuat kita terlena mungkin lebih berbahaya daripada ribut yang membuat kita terus terjaga. –Paulo Coelhoe

Kami percaya, akan lebih terhormat mati dalam perlawanan daripada mati tanpa pernah melawan. –Darsono

Mahasiswa. Bersama telah kita turun ke jalanan memperjuangkan yang benar dengan menggugat pelbagai kesalahan. Itulah saat di mana penguasa dituntut untuk segera mewujudkan keadilan. Karena hari-hari bangsa ini terganggu oleh ketidakadilan. Menengok aksi 25 dan 26 September 2019, selalu tersembul kisah pedih: empat orang anak muda ditikam oleh kekejaman aparatur represif pemerintah sampai melepas nyawa, dan beberapa lainnya luka-luka karena terkena peluru karet, tongkat, sepatu dan gas air mata, hingga kini mereka masih belum pulih. Lalu ketika melangkah pada 30 September-01 Oktober 2019: puluhan mahasiswa bukan hanya dihadiahi pukulan dan tendangan, melainkan diringkus aparat lantaran tuduhan sebagai provokator.

Gerakan mahasiswa berkali-kali coba dibubarkan. Tuntutan massa pun hampir belum ada yang goal. DPR dengan Presiden masih belum beringsut dari sikap berpangku tangannya. Entah mahluk-mahluk seperti apa yang tengah berkuasa hari-hari ini. Yang jelas hubungan mereka dengan rakyat telah membuat bangsa ini saling mengakali dan menikam satu dengan lainnya. Inilah fenomena yang terjadi dalam demonstrasi; aparat dengan para demonstran sepertinya sengaja diadu demi kepentingan segelintir kalangan dalam parlemen dan istana.

Kepentingan orang-orang serakah mengakibatkan pemerintahan dipenuhi perampok dan perampas. Inilah yang membuat pemerintah tidak peduli lagi dengan kejujuran, kebaikan dan kebersamaan. Itu sebabnya kekuasaan masih belum mengeluarkan sikap yang jelas terkait deretan aturan, pembakaran hutan, dan kriminalisasi aktivis yang merugikan perjuangan rakyat miskin dan tertindas. Tanggapan mereka pada desakan mahasiswa persis dengan caranya menangani segudang permasalahan di Papua: terkesan diselesaikan dengan setengah hati dan menggunakan cara sadis.

Lama-lama kekuasaan, tidak-boleh-tidak, akan menambah banyak barisan penderitaan rakyat. Tumpukan korban yang dihasilkannya tak bisa lagi diingat karena sudah terlalu banyak. Deretan korban penindasan itu meski diketahui siapa orangnya tapi sukar dipenuhi haknya. Itulah kenapa tulisan ini tak menawarkan suatu data, melainkan hanya ingin meneguhkan kembali sikap berlawan segenap mahasiswa. Pendirian yang diinginkan ada pada gerakan saat-saat ini adalah sebagaimana sajak Wiji Thukul:

apakah nasib kita akan seperti
sepeda rongsokan karatan itu?
o, tidak, dik!
kita akan terus melawan
waktu yang bijak bestari
kan sudah mengajari kita
bagaimana menghadapi derita
kitalah yang akan memberi senyum
kepada masa depan
jangan menyerahkan diri kepada ketakutan
kita akan terus bergulat

Hariman Siregar pernah menyatakan bahwa gerakan mahasiswa adalah pilar ke lima demokrasi, selain eksekutif, legislatif, yudikatif, dan pers sebagai penyuplai informasi. Oleh karena itu, kita tidak akan pernah berhenti berharap pada gerakan mahasiswa. Mereka mungkin tidak punya uang atawa senjata, tetapi kaya akan tenaga dan dukungan massa. Kondisi beginilah yang telah menorehkan sejarah mahasiswa internasional pada abad ke-12 dan 13. Semboyan mereka saat itu adalah ‘KITA BERGEMBIRA SELAGI KITA MUDA’. Dari simbol yang berdiri di jiwa muda inilah yang membuat mereka melancarkan suatu gerakan yang tertuju pada masyarakat dan banyak membawa perubahan pada pada perkembangan sejarah; gagasan-gagasan anyar muncul; teori-teori baru timbul; rantai pemikiran konservatif terputus; sistem penindasan yang ada dijungkirbalikan; dan struktur penindas dirombak—segala torehannya menuju pada kemajuan.

Di abad ke-20 ketidakadilan kembali menjamur. 17 November 1939 para serdadu-serdadu Hitler berusaha membinasakan gerakan mahasiswa di Praha, Cokoslowakia. Pada Perang Dunia II ribuan nyawa melayang, jutaan badan terluka, namun mahasiswa tak pernah mundur. Mereka tak mengenal putus asa sampai akhirnya Nazi lenyap dari peradaban. Benar kata Tan Malaka: idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Semangat mahasiswa penuh dengan cita-cita. Mimpi tentang keadilan dan kemerdekaan memang menjadi pancaran dalam jiwa anak muda. Itulah mengapa dalam perjuangan itu mahasiswa merelakan kuliahnya terbengkalai guna misi pembebasan. Ilham gerakan inilah yang juga ikut mendorong keterlibatan mahasiswa—sebagai kelompok kecil—dalam revolusi Kuba.

Mahasiswa-mahasiswa Kuba sama sekali tidak takut pada pemerintahan totaliter Batista. Itu sebabnya perjuangan revolusioner yang berhasil melengserkan Batista bukan hanya dilakukan oleh petani yang dipimpin Che Guevara dan Fidel Castro, tetapi juga melibatkan mahasiswa. Salah seorang mahasiswa dari Fakultas Hukum Guvana menceritakan kisah mereka dan memberikan pandangan segar untuk mahasiswa-mahasiswa dari perbagai kampus di seluruh dunia:

“Pada saat krisis melanda negara, maka para mahasiswa harus ikhlas meninggalkan kuliah. Mereka harus melibatkan diri pada masalah-masalah nasional! Demi perjuangan mewujudkan demokrasi dan kemerdekaan…. Justru itu, universitas bukan hanya membentuk tenaga ahli, melainkan juga bagaiamana merek amenjadi warga negara yang patriotic, efisien dan produktif untuk kemajuan….”

Mahasiswa memang tidak pernah ketinggalan dari proyek besar sejarah peradaban. Apakah di tahun 2019 ini mahasiswa Indonesia juga akan mengukir sejarahnya sendiri? Entahlah! Ada baiknya kita mendengarkan kisah yang disampaikan Laszlo Becke. Ia adalah seorang mahasiswa yang bersal dari jurusan seni rupa di Budapest. Dalam beberapa tulisannya, dia menceritakan bagaimana kondisi Hongaria pada tahun 1956 yang ternyata persis dengan keadaan Indonesia: dikuasai oleh rezim boneka—kaki tangan kapitalis asing.

Kaum muda Hongaria tidak senang terus berada dalam keadaan yang demikian. Semangat keberangan dari mahasiswa tergugah ketika ada demonstrasi kecil-kecilan. Kuantitas berubah jadi kualitas. Gerakan mereka bertambah panas dan membara. Mimpi mereka adalah tentang revolusi. Meski perlawanan mereka menuai kegagalan namun kisah mereka sekarang jadi inspirasi bagi gerakan mahasiswa-mahasiswa di negeri lainnya. Petuah yang didapat dari gerakan mahasiswa Hongaria begitu lugas, tegas dan berani:

“Bangun Magyar! Tanah air memanggilmu! Pakai kesempatan ini, apapun terjadi. Jadi rakyat merdeka atau tetap diperbudak? Kobarkan semangat jiwa besarmu!”

Kelak, perjuangan dan perlawanan dilakukan pula oleh mahasiswa Yunani. Pada 1965, sebanyak 10 ribu mahasiswa mengadakan pertemuan untuk memproklamasikan tuntutan kolektif: pemerintah harus menormalisasi sistem politik dan raja harus menghormati konstitusi. Gerakan mahasiswa Yunani ternyata ikut didukung oleh rakyat. Itulah kenapa kemudian buruh melaksanakan pertemuan raksasa dan masyarakat Athena juga terlibaat dalam gerakan mahasiswa. Dalam aksi-aksi mereka sesungguhnya mirip dengan apa yang dilakukan mahasiswa Indonesia hari-hari ini: polisi menjadi penyerang massa untuk menstabilkan kekuasaan. Namun penguasa Yunani pada akhirnya menemui kehancurannya; raja jatuh dan melarikan diri ke luar negeri.

Gerakan mahasiswa Yunani seperti halnya gerakan mahasiswa Portugal dalam menentang diktator Salazar. Pada tanggal 1 Februari 1965, demonstrasi meledak di Lisbon. Polisi dengan menggunakan topi baja, bersenjatakan senapan mesin, dan tidak ketinggalan gas air mata, berusaha membubarkan massa. Perjuangan mahasiswa ini berlangsung dengan amat panjang berminggu bahkan berbulan. Puncaknya adalah tumbangnya si tiran dari singgasananya.

Poin penting dari perlawanan mahasiswa adalah kesabaran, ketekunan dan kemampuan merajut persatuan dengan rakyat. Itulah kenapa proyek sejarah mahasiswa Portugal ditemukan pamflet yang menempatkan kampus sebagai suluh penggugah kesadaran persatuan pergerakan:

“Bersatu dengan universitas dalam perjuangan mencapai kebebasan negara … mahasiswa tidak ingin mengacau atau melakukan agitasi, tetapi mahasiswa tidak rela menerima kekerasan dan ketidakadilan. Kami menuntut, bahwa penyiksaan polisi harus dihentikan. Kami menuntut, bahwa konstitusi harus dihormati.”

Permasalahan yang menyelimuti gerakan mahasiswa Portugal boleh jadi seperti yang tengah dirasakan mahasiswa Indonesia sekarang. Polisi jadi perisai elit-elit basi. Sementara mereka menyelundupkan pasal picik atas dasar kepentingan kelas penguasa. Saking sibuknya para pemegang kekuasaan dalam melancarkan berlakunya aturan yang bisa menguntungkan kelompoknya itulah yang membuat banyak persoalan urgen tidak terurus.

Penglihatan parlemen dan istana tidak pernah lebih luas dari pembuatan dan pengesahan peraturan. Makanya pembakaran hutan oleh perusahaan perkebunan di Sumatera dan Kalimantan tak mampu ditanggulangi. Pelenyapan hijau alam linear dengan penghisapan merah darah manusia di Papua. Tanah mutiara hitam bukan saja dieksploitasi dengan perusahaan pertambangan, tidak sekedar dibodohkan oleh pembangunan bohong-bohongan, tak pula hanya dijauhkan dari pendidikan dan kesehatan, tetapi yang teraktual manusia-manusia yang ada di sana dipentaskan dalam teater berdarah yang mengharuskan mereka saling membunuh.

Di manakah keadilan dan kemerdekaan dapat ditemui kalau negeri ini diselimuti hawa kematian? Bisakah gerakan mahasiswa berhenti dalam kadaan yang begini? Tentu dalam situasi yang sdemikian kita berharap gerakan mahasiswa semakin kuat dan besar. Tidak hanya diawalai dengan teriakan dan diakhiri dengan pernyataan sikap ataupun pembuburan paksa. Bukan pula diiringi dengan seruan, pidato dan ceramah yang menggebu-gebu untuk kemudian berakhir begitu saja lalu muncul kembali gambar-gambarnya di media sosial. Tetapi bukankah sebaiknya gerakan mahsiswa mengambil tauladan dari gerakana AoP Thailand. Mereka ajak semua orang untuk merebut jalanan. Yang diajak tak hanya mahasiswa dan pelajar, tetapi para pedagang kaki lima, gelandangan, buruh, petani, tukang becak, abang ojek, bahkan agamawan—pokoknya semua kaum miskin dan tertindas terlibat di dalamnya. Laju kendaraan di jalan tentunya aman, karena mereka tahu bahwa itu sudah menjadi tugas polisi dalam mengatur lalu lintas.

AoP hanya mengubah makna jalanan. Itulah kenapa di jalanan mereka proklamirkan pendirian sebuah ‘Desa Kaum Miskin’. Berdirinya perkampungan di atas jalannya gerakan ini melibatkan rahib. Tokoh agama menjadi bagian utama yang membuka aksi dengan penyucian dan do’a. Peristiwa sejarah ini jadinya tak sekedar demonstrasi, melainkan juga ibadah perlawanan.

Ketika jalanan berhasil direbut maka AoP melaksanakan gerakan berminggu-minggu lamanya sampai pemerintah mau melaksanakan apa yang menjadi tuntutannya. Di sini pusat perhatian aksi tidak sebatas berada pada jumlah massa, tetapi menggumpalnya tuntutan yang tak lagi bisa ditunda. Kekuasaan tak ditunggu untuk diganti, melainkan dipaksa melaksanakan keinginan massa. Mereka berkeyakinan bahwa dengan merebut jalanan, kekuasaan akan memberi perhatiannya. Karena penguasaan atas jalan membuat massa diperhitungkan posisinya oleh penguasa.

Gerakan orang-orang Thailand itu tentu dapat memberi hikmah pada gerakan mahasiswa hari-hari ini, yakni, kita harus mempertahankan tuntutan melalui aksi yang lama, berdisiplin, teguh dan diikuti oleh ribuan bahkan jutaan rakyat. Aksi harus melibatkan banyak orang ke dalam gerakan yang disatukan ke dalam kelas ‘miskin dan tertindas’. Gerakan mahasiswa harus memberitahukan bahwa massa sama-sama disatukan oleh kemiskinan dan penderitaan akibat korupsi dan kebijakan tengik para predator kekuasaan.

Aksi-aksi mahasiswa di tahun 2019 ini haruslah menjadi titik berangkat perubahan besar untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Gerakan sudah saatnya bukan hanya bertumpu pada ‘perubahan, penetapan, atau pembatalan’ sebuah pasal. Tetapi segenap persoalan yang mengguyur kehidupan kaum miskin dan tertindas.

Ingatlah! Kerja pembebasan akan hampa makna bahkan terciutkan kalau hanya sebatas tampilnya aturan baru. Tidakkah percaya bahwa konsentrasi kekuasaan pada kalangan yuris, legislator dan para professional beserta pelipatgandaan peran mereka dapat mengakibatkan lahirnya berbagai produk hukum yang memayungi kepentingan-kepentingan penguasa. Lihat saja bagaiaman aturan-aturan dilahirkan dan coba diterbitkan tanpa bisa menegaskan apa yang oleh Lenin dinamai: mata rantai imperialis. Pusat mata rantai penindasan ekonomi secara kasat mata mengakar dalam rancangan aturan ketenagakerjaan, pertanahan, minerba dan sumber daya alam.

Tugas utama gerakan mahasiswa sesungguhnya bukan sekedar menolak peraturan ini, karena hal itu dapat membuat kerja-kerja perlawanan terjebak dalam apa yang dikatakan Trotsky sebagai ‘jebakan yudisial’. Tugas utama gerakan mahasiswa adalah lebih dari itu, yakni menjalankan peran pedagogis: mendorong lebih aktif batas-batas kelas untuk membedakan kedudukan antara kepntingan rakyat yang dibawa oleh kaum pergerakan dengan kepentingan pragmatis penguasa. Dengan begitu, pergerakan dituntut untuk mendorong kesadaran revolusioner, bukan malah reformisme. Maka hawa revolusi mestilah dikobarkan kembali di jalanan, karena inilah yang menjadi kerja historis dari kaum pergerakan. Untuk itulah komitmen perjuangan mahasiswa hari-hari ini ada baiknya mengambil sikap keras seperti dalam pendirian seorang Jose Rizal:

“Aku yakin bahwa penataan masyarakat yang ada sekarang ini buruk: aku ingin berjuang melawannya untuk mempercepat pelenyapannya. Kuhadirkan dalam perjuangan ini suatu kebencian mendalam, yang diperkeras setiap harinya oleh pemandangan yang memuakkan suatu masyarakat di mana segalanya dangkal, segalanya pengecut, di mana segala sesuatunya menjadi penghalang bagi perkembangan hasrat-hasrat kemanusiaan … aku ingin menunjukkan kepada kaum borjuis bahwa kenikmatan mereka akan terganggu.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*