Birokrasi Kampus Rakus: Hasil Pembangunan Gedung Baru UIN Mataram Bermasalah

Mataram — Di Nusa Tenggara Barat (NTB), Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram merupakan kampus Islam ternama. Mungkin karena nama besar itulah yang membuatnya menambah lagi gedung-gedungnya.

“Sebagaimana yang bisa dilihat tengah membangun gedung megah. Tercatat ada sembilan gedung yang dibangun yang dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya (Persero). Sejumlah gedung tersebut di antaranya Polyclinic, General Library & ICT Center, Integrated Class Room tiga gedung, Integrated Laboratory, Training Center, Multi Purpose Building & Research Center dengan total luasnya sebesar 25.000 M2,” ungkap mahasiswa UIN Mataram Supriadin/Landa, dalam rilis yang diterima tim redaksi, Sabtu (08/02/2020).

Mula-mula Soft Launching proyek pembangunan sembilan gedung baru dan infrastruktur pendukung UIN Mataram itu berlangsung pada Selasa, 15 Oktober 2019. Acara tersebut dihadiri oleh banyak sekali orang yang dianggap penting: bukan saja rektornya sendiri (Prof. Dr. Mutawali), tapi juga Menteri Agama RI (H. Lukman Hakim Saifuddin) dan Gubernur NTB (H. Zulkieflimansyah).

Kala itu Gubernur NTB H. Zulkieflimansyah berharap UIN Mataram memiliki peran besar di tengah arus informasi dan teknologi yang berkembang pesat. Terutama dapat membimbing seluruh masyarakat ke arah hidup yang lebih baik dan bermanfaat.

Sedangkan Menteri Agama RI Lukman Hakim memiliki harapan yang begitu besar kepada UIN Mataram. Kampus ini diharapnya menjadi mercusuar yang mampu membimbing manusia melewati kehidupan modern yang agak temaram.

Sementara Rektor UIN Mataram Mutawali sendiri punya harapan yang sama dengan kedua orang tadi. Hanya saja gedung-gedung baru tersebut dibangun di atas anomali. Lukman/Carces mewanti: pembangunannya ilegal karena tidak memperhatikan implikiasi terjadap lingkungan dan apa saja yang akan terjadi.

Dalam rilisnya dia mengutip bagaimana pernyataan Bagian Perizinan A Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMTSP) Kota Mataram–Bachtiar Yulianto, soal pembangunan gedung UIN Mataram:

Tidak ada pengajuan izin ke kami, Tidak ada pengajuan perizinan mengenai (pembangunan 9 gedung) UIN yang masuk ke DPMTSP [Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu].” 

Carces yang merupakan mahasiswa UIN Mataram ini juga menyatakan, “Sebagaimana dalam audiensi dengan WR dan WD diruang rektor, teman-teman mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UIN Menggugat, tahun 2019 kemarin: bahwa pembangunan sembilan gedung baru, renovasi gedung FTK dan sekaligus Pasca Sarjana UIN Mataram, mendapat bantuan dari Bank Islam dan Kemenag–itu bermasalah,” tegasnya.

“Kala itu WR menjelaskan, semua gedung akan selesai dan bisa ditempati pada bulan Januari 2020. Tapi kenyataannya gedung-gedung yang dijanjikan justru sampai sekarang masih dalam tahap penyempurnaan, terlebih gedung-gedung yang ada di FTK dan gedung Pasca Sarjana yang direnovasi akibat gempa yang menimpa pulau lombok kemarin, belum rampung sampai sekarang,” bebernya. 

Melalui rilis ini, Supriadi/Landa dan Lukman/Carces menilai: dalam pembangunan di UIN Mataram, kemungkinan besar terjadi penyalah gunaan dana pembangunan (Korupsi) oleh pihak-pihak rakus. Mereka sepertinya tidak bertanggung jawab atas kerja-kerjanya. Soalnya bangunan yang didirikan menghadirkan bahaya. Bukan saja soal amdal, tapi juga terkait keamananpenggunaan bangunan.

“Gedung yang baru direnovasi, kemarin (7/2), Jum’at sore. Sekitar pukul 16.00 Wita, terjadi hujan di Wilayah kota mataram. Maka UIN Mataram pun terkena hujan, namun yang mengejutkan adalah plafon gedung C jatuh dan rusak. Padahal hujan dan angin yang terjadi kemarin sore tidak terlalu besar, hal ini sebagaimana dalam rekaman video berdurasi 11 detik, yang direkam oleh salah satu mahasiswa yang bernama Akhmad Nurissobakh jurusan PBA semester VI yang sedang melakukan bakti sosial di gedung tersebut,” kata mereka dalam rilisnya.

Dari hasil pembangunan yang ringkih maka kedua mahasiswa itu yakin: gedung-gedung baru UIN Mataran dibangun oleh para koruptor. Soalnya anggaran yang digelontorkan tak sedikit: Rp 303 miliar. Tapi hasilnya pembangunanya cepat rusak, amat rapuh, dan tentunya bikin semua mahasiswa geger.

Lihat saja bagaimana kondisi bangunan baru itu. Datanglah ke UIN Mataram maka akan kalian temui hasil pekerjaan yang abu-abu. Keadaan toilet dan fasilitas-fasilitas lain mampu menjelaskan pengerjaan gedung dikerjakan dengan asal-asalan. Ini dikhawatirkan akan berdampak buruk, bahkan menghambat keberlangsungan perkuliahan. “Terlebih lagi mahasiswa-mahasiswa di FTK yang sudah lebih awal resah dengan kondisi gedung kuliah yang dipindah-pindah keberbagai tempat, pemangkasan SKS/jam kuliah, dll.,” kata Landa.

“Sekarang, fisik bangunan yang  tidak terlalu kuat itu jelas memperlihatkan bahwa ada tokoh-tokoh rakus yang mencari keuntungan dalam proses pembangunan. Hal ini juga sekaligus memperlihatkan bagaimana tokoh-tokoh rakus birokrasi memperlakukan FTK sebagai anak tiri yang tidak layak ditaruhkan dan dihormati. FTK selalu menjadi objek dan sekaligus dampak atas kerakusan dalam memuaskan hasratnya. Tikus-tikus yang tidak pernah bersyukur, sudah kerja di kampus, cari makan dan minum di kampus, malah menggrogoti kampus lagi. Terutama mahasiswanya,” tutup Carces. (*)         

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*