Ciptakan Ideolog, BPL PB HMI Akan Selenggarakan ToT NDP

Jakarta, patriot.id — Kegelisahan Badan Pengelola Latihan (BPL) PB HMI atas minimnya instruktur NDP di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) akan terjawab dengan diadakannya Training of Trainer (ToT) NDP HMI, yang akan dilaksanakan 26 Mei – 02 Juni 2018, di Graha Insan Cita, Depok, Jawa Barat.

Training untuk melahirkan ideolog HMI itu mengangkat tema, ‘Menciptakan instruktur NDP yang profesional dan mampu mentransformasikan gagasan keislaman NDP dalam lingkup keindonesiaan.’

Selama belasan tahun terakhir, stok instruktur mengalami gap dengan besarnya permintaan akan seorang ideolog dalam pengajaran NDP HMI.

Ahmad Fauzan selaku Ketua Panitia Pelaksana mengatakan, “Hampir 18 tahun terakhir ini HMI mengalami kekurangan instruktur NDP. Fakta dilapangan menunjukkan, jumlah kebutuhan untuk menyampaikan materi NDP tidak berbanding lurus dengan jumlah instruktur yang ada,” ungkapnya saat di konfirmasi di Sekretariat PB HMI, Jl. Sultan Agung No. 25a, Jakarta Selatan, Senin (21/05/2018).

Kondisi itu tentu akan mengancam elan vital pengkaderan yang membuat stagnan-nya kaderisaai. Maka, dengan adanya pelatihan intstruktur diharapkan mampu menjadi pemecah kebuntuan dalam perjuangan.

“Jika dibiarkan hal ini akan mempengaruhi proses kaderisasi pada tingkat lanjutannya, atau pendalaman materi NDP menjadi tidak maksimal. Oleh sebab itu, dibutuhkan pelatihan khusus seperti ini, guna mencetak para instruktur NDP yang handal dan memiliki kemampuan yang diharapkan oleh organisasi, sebagai penyampai lidah doktrin perjuangan HMI,” ucap Ahmad.

ToT NDP dilaksanakan untuk melahirkan instruktur baru, dan melakukan pengkritalan ideologisasi agar mampu memahami perkembangan Islam kontemporer serta meminimalisir monopoli keagamaan.

Arif Maulana selaku Ketua Umum BPL PB HMI mengatakan, “Selain bertujuan menyiapkan instruktur-instruktur NDP baru, kegiatan ini juga sebagai upaya untuk melakukan transmisi ideologis organisasi yang sesuai degan cita-cita semula. Jika kita mencermati perkembangan diskursus keislaman kontemporer, ditemui wacana keislaman begitu terpinggir, dimonopoli oleh satu dua kelompok saja,” tuturnya.

Arif menambahkan, “Masa kini saya sebut sebagai ‘Pertarungan pemberian makna atas Islam’. Di sini HMI akan diuji sebagai organisasi Islam yang lama telah memberi pengaruh terhadap diskursus keislaman Indonesia. Maka, kembali memikirkan persoalan Keindonesiaan dalam perspektif keislaman menjadi penting untuk HMI,” pungkanya.

Menyandang status sebagai organisasi mahasiswa tertua di Indonesia bukanlah suatu hal yang ringan. Agar dapat terus survive, HMI harus optimal menanamkan paham keislaman-keindonesiaan.

Arif mengatakan, “HMI saat ini harus memberikan sejumlah kemampuan pada kadernya agar mampu memformulasikan gagasan keislaman di lingkup keindonesiaan,” katanya.

Ia menegaskan, “Bagi HMI, ketika berbicara tentang keindonesiaan sekaligus juga mengafirmasi keislamannya, atau sebaliknya, ia ibarat sisi mata uang yang tak bisa di pisah. Di sinilah proses bagaimana kita meneguhkan tentang visi Islam Keindonesiaan,” tutup Arif. (***)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*