Cucu Jenderal Soedirman Kecewa: Negara Lebih Hargai Pejabat daripada Veteran Kemerdekaan

Jakarta, Patriot.id — 17 Agustus adalah hari yang paling bersejarah dari segala yang bersejarah dalam sejarah Indonesia modern. Karena pada 1945–di tanggal dan bulan yang sama–pemuda-pemudi berjuang melawan kolonialis bukan dengan kemeja, dasi, dan busana yang rapi. Melainkan, semangat baja yang telah menajamkan bambu runcing menjadi berdaya mengalahkan senjata api, tank dan meriam.

Para pejuang itu menolak berhamba kepada para penjajah. Tidak ada yang namanya kompromi pada keadaan. Itulah mengapa mereka tak pernah mengenal rapi, wangi dan ruangan ber-ac. Terik dan hujan sudah biasa. Itu tercermin dalam jargon perjuangan yang tegas: diam tertindas atau bangkit melawan, karena mundur adalah pengkhianatan!

Dua paragraf di atas, ialah yang tergumam di bibir tua dari cucu Jenderal Soedirman, pada (17/8), ketika berada di Resto Teras Istana Tower 2 Telkom, Jakarta. Makanya Dia lalu meminta pemerintah untuk memuliakan para veteran perang dengan meletakkan pejuang-pejuang kemerdakaan itu berada di tempat duduk paling depan atau VIP saat upacara perayaan HUT kemerdekaan di halaman Istana Merdeka.

“Saya sudah berkali-kali (melihat negara tak menghargai pahlawan–Red) … (bahkan) ketika Presiden Pak SBY saat itu … saya itu (sungguh) inginnya … veteran itu diberi tempat duduk VIP,” pintanya penuh harap.

Menurutnya, pemerintah telah menahun memandang pahlawan sebelah mata. Selama ini para veteran selalu mendapat tempat duduk di baris paling belakang saat perayaan kemerdekaan. Sementara pejabat duduknya di deretan terdepan.

Sambung Danang, Bangsa Indonesia bisa mereka karena pengorbanan mereka. Keringat bercampur darah, luka dan air mata, telah mereka keluarkan hanya untuk satu kata: merdeka. Tangisannya dulu tentu tak sama dengan hari. “Biarkan veteran itu menangis menikmati kemerdekaan ini. Semua berkat jasa-jasa mereka,” tegasnya.

Air muka Danang, sepertinya membersitkan ungkapan yang mendalam. Kata-katanya sepertinya ingin menegaskan kembali apa yang diucapkan Bung Karno: bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Itulah kenapa dirinya sampai menegaskan bahwa para veteran berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dengan biaya sendiri tanpa mengharapkan balasan apapun dari negara.

Lanjutnya, sudah seharusnya pemerintah menghargai itu. Maka menjadi sebuah keniscayaan: kita mesti memuliakan veteran karena jasa-jasanya. Torehan-torehannya di masa lalulah yang telah membuat para pejabat sekarang menjabat; naik kenadaraan dinas ke sana-ke mari, difasilitasi rakyat sampai anak-istri/suami-nya, hingga lupa diri lalu korupsi. Tapi yang terakhir ini–baginya–merupakan penghinaan berat kepada para veteran kemerdekaan.

Melihat perilaku negara yang sudah memandang rendah para pejuang. Maka Danang sangat kecewa.  Itulah yang menjadi alasannya tak pernah menghadiri acara perayaan kemerdekaan di Istana. “Sebelum veteran mendapatkan barisan paling depan, selama itu saya tidak akan pernah menghadiri momen-momen sakral pengibaran bendera,” tegasnya penub kesal sekaligus sedih.

“Saya tidak akan bisa terima orang tua saya duduk di barisan belakang padahal Dubes bisa di depan. Mereka itu orangtua saya. Ini sudah saya sampaikan ke Presiden sejak zaman Megawati, SBY, sampai Pak Jokowi. Kalau veteran dimuliakan dengan duduk paling depan, saya akan menangis,” tambahnya dengan nada yang amat lirih.

Tutup dia, saat ini negara memang sudah bagus namun belum 100% sempurna–salah satunya–karena pemerintah belum bisa memuliakan para pejuangnya. Selanjutnya, banyak,–terutama–Indonesia yang tak berani menentang kapitalis-imperialis: modal asing, kapitalis-birokrat: koruptor, dan kapitalis-swasta: periklanan. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*