Ditengah Pandemi, Milenial Pesta Demokrasi

Foto : Renol F Asdi

Oleh :Renol F. Asdi
Wasekum Badko HMI Sumbar

Pemerintah indonesia memutuskan tatanan baru untuk beradaptasi dengan Covid-19. tatanan baru (New Normal) di ikuti dengan dilanjutkanya tahapan pemilu serentak 2020. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2020 akan memilih 9 gubernur, 224 bupat dan 37 walikota secara bersamaan.

Berdasarkan perpu Nomor 2 Tahun 2020, Pemerintah menetapkan pilkada serentak dilaksanakan pada 9 Desember 2020
Diskusi-diskusi membahas pilkada serentak 2020 mulai alot. para pengiat pemilu mulai mencari strategi untuk menghadapi pemilu yang diprediksi akan berbeda dari pemilu sebelumnya. melalui pasal 8C Peraturan KPU Nomor 5 Tahun 2020 tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Penyelenggaraan Pilkada Tahun 2020 pelaksanaan pemilu harus sesuai protokol penanganan covid-19. hal ini akan menghambat sosialisasi kandidat kepala daerah. kampanye bagi kandidat kepala daerah pada situasi tidak normal ini tentu sangat tidak mudah. Kampanye pemilu Indonesia yang identic dengan pengumpulan massa tentunya akan bertabrakan dengan peraturan pemerintah dalam hal physical distancing atau social distancing.

Wacana KPU membatasi peserta dan tempat kampanye tentunya akan menjadi pengahalang bagi peserta pemilu. Kebiasaan kampanye di tempat yang terbuka dengan mengerahkan ribuan massa tidak lagi dapat dilakukan. Penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) maupun kebijakan New Normal akan memusingkan calon kepala daerah. Pertentangan antara kepentingan calon kepala daerah dan peraturan protokol penanganan Covid-19 akan berpeluang merepotkan KPU dan Bawaslu.

Hamabatan sosalisasi/kampanye mengahruskan calon kepala daerah melakukan kampanye secara daring. Kampanye melalui dunia maya tentunya akan menggantikan metode kampanye yang klasik dengan kerumunan masa yang besar. Pandemi Covid-19 mengharuskan calon kepala daerah terbiasa dengan teknologi dan metode kampanye yang baru, dengan begitu peralihan metode kampanye akan dipenuhi dengan ide dan gagasan dalam dialok secara santai dan nyaman

Meskipun begitu calon kepala daerah harus jeli melihat potensi pemilihnya. Dengan begitu suahrusnya calon kepala daerah dapat memutuskan penggunaan aplikasi dan teknologi yang di gunakan. Bukan hanya media yang digunakan, calon kepala daerah juga harus mempersiapkan diri untuk melakukan kampanye secara digital. Menjual gagasan atau ide-ide calon kepala daerah melalui media sosial sharusnya akan kita temui pada pemilu serentak 2020 ini.
Melihat potensi pemilu serentak kali ini, peran milenial sangat dibutuhkan.

Pengguasa media sosial terbesar saat ini adalah generasi milenial yang cakap medial. Peranya dalam menyukseskan pemilu dimasa pandemi Covid-19 sangat di harapkan. Menurut penelitian LIPI 40 persen suara di pemilu 2019 didominasi anak muda. Seharusnya calon kepala daerah harus mulai menyadari itu. Mengaet generasi milenial yang cakap media adalah peluang besar untuk memenangkan pertarungan pilkada dimasa pandemi.

Momentum pilkada 2020 memberikan ruang bagi generasi milenial. Kecakapan bermedia sosial akan melahirkan ide-ide dan gagasan yang kreatif serta inovatif dalam berkampanye. Langkah-langkah strategis generasi milenial sangat diperlukan para calon kepala daerah untuk menyampaikan gagasanya.

Penelitian We Are Social mengungkapkan bahwa ada 175,4 juta pengguna internet  pada tahun 2020 di Indonesia, dengan rentang umur 16 sampai dengan 64 tahun. Dibandingkan tahun sebelumnya jumlah ini ada kenaikan 17% atau 25 juta pengguna internet di negeri ini. Tak kalah menariknya, ada 160 juta pengguna aktif media sosial (medsos). Menurut We Are Social Adapun medsos yang paling banyak ‘ditongkrongi’ oleh pengguna internet Indonesia dari paling teratas adalah YouTube, WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, Line, FB Messenger, LinkedIn, Pinterest, We Chat, Snapchat, Skype, Tik Tok, Tumblr, Reddit, Sina Weibo.

Penemuan tersebut mengambarkan 64% dari 272,1 juta jiwa masyarakat Indonesia sudah cakap media. Data tersebut mengharuskan calon kepala daerah untuk menawarkan ide dan gagasanya dalam dunia media sosial. Fakta ini tentunya perlu di kaji ulang oleh para elit pemilu. Penempatan orang-orang yang berkompeten dalam bidang pengonsepan pemilu digital seharusnya sudah dilakukan sejak sekarang.
Begitupun prakteknya di lapangan, Tujuan sosialisasi dan kampanye calon harus menjangkau 36% masyarakat yang gagap media. Disini peran generasi milenial juga sangat menetukan. Maka pada kesimpulanya, pemilu serentak 2020 adalah pesta demokrasi para generasi Z. semua lini mengharuskan generasi milenial untuk turut andil.(*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*