Fenomena Tik Tok Dilihat Dari Segi Psikologis

Jakarta, Patriot.id — Tik tok merupakan aplikasi yang merekam video selama 15 detik dan menghiasinya dengan berbagai musik, filter, atau efek-efek seperti telinga kelinci, gambar hati. Aplikasi Tik Tok pun telah terkenal di Indonesia dari mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Di Indonesia, Tik Tok resmi diluncurkan pada September 2017 dengan sebuah pesta peluncuran di Jakarta. Aplikasi ini dengan cepat menarik banyak perhatian masyarakat.

Tik Tok pun menghasilkan sebuah selebritas baru yang terkenal karena mengabadikan aktivitasnya ke dalam aplikasi tersebut.

Salah satunya yaitu anak yang bernama Prabowo yang dikenal sebagai bowo yang merupakan siswa Sekolah Menengah Pertama di Tanggerang.

Menurut Lenny Utama Afriyenti Dosen Psikologi Uniiversitas Bhayangkara, “Anak-anak dan remaja sekarang ini termasuk generasi milineal, artinya begitu mereka lahir, mereka sudah terpapar dengan teknologi yang di berikan Orang tuanya,” katanya ketika diwawancara di Jakarta, Jum’at (06/07/2018).

Ia melanjutkan, “Seiring berjalannya waktu, anak anak penasaran dan jadi semakin ingin tahu mengenai dunia smartphone yang menarik tadi. Tiktok salah satunya. Mereka memainkannya. Anak dibawah umur seperti usia 5 tahunan sudah main Tik tok,” ucap Lenny.

“Kemampuan kognitif anak itu kan masih terbatas, dia belum mampu mengabtraksi informasi atau sesuatu hal yang ia lakukan atau terima,” sambung Lenny.

Tik Tok pun menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat, banyak dari kalangan yang berpandangan bahwa aplikasi tersebut merupakan aplikasinya orang alay.

“Hematku sih Tik Tok tidak ada masalah. Gak jauh beda dengan platform media sosial lainnya,” ujar Rahmat Ferdian selaku Peneliti di Pusat Kajian Kebijakan Publik dan Hukum (Puskapkum) Saat dihubungi patriot.id, pada Jumat malam (6/7).

Kominfo sudah melakukan pertemuan dengan manajemen Tik Tok. Hasil pertemuan itu membuka peluang aplikasi Tik Tok diaktifkan lagi. Namun, Kominfo pun mengajukan sejumlah syarat.

Syarat pertama, Tik Tok diminta melakukan pembersihan konten-konten yang mengandung pornografi di dalam platform tersebut. Kedua, Tik Tok diminta melakukan filterisasi agar kejadian serupa tidak terulang.

Rahmat juga menyatakan, soal ada penyimpangan di dalamnya, ya semua Media Sosial (Medsos) juga ada penyimpangan di dalamnya oleh penggunanya. Mungkin perlu ada filter, konten berbau pornografi, yang diperbaiki.

“Seperti pepatah, jika ada tikus di lumbung padi, bukan lumbung padinya yang dibakar, tapi tikusnya yang diburu,” tutupnya. (Rid)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*