Game Online Merongrong Gerakan Mahasiswa

Oleh: Afran / BM (Aktivis Mahasiswa)

Patriot.id — Melihat kondisi mahasiswa sekarang banyak kemunduran, kemundaran dalam menangkapi hal-hal yang berbau kecurangan, berbau ketidak adilan. Yang dulunya Mahasiswa RAKUS kini Mahasiswa sekarang berubah total menjadi mahasiswa yang Apatis lebih-lebih kecanduan Games (Gemer) atau lebih tepatnya menjadi Generasi penunduk.

Banyak penulis sesali ketika melihat kawan_kawan mahasiswa yang sangat mudah di Atur dan di Stirkan oleh Smartphone atau Android. Akan tetapi penulis disini tidak mengklaim atau mencap bahwa yang salah adalah Smartphone atau Android, android juga bisa bermanfaat dan berguna ketika di arahkan ke yang positif. Semisalnya, mencari informasi dan mendapatkan informasi dengan mudah dll.

Tidak ada hak penulis membatasi atau melarang kawan-kawan untuk menggunakan Smartphone atau Android, akan tetapi disini penulis ingin mengajak kawan_kawan mengenang SEJARAH MAHASISWA atau IDENTITAS MAHASISWA kembali. Kita adalah gardan terdepan, kita adalah pioner, kita yang katanya sebagai Agen of Cangge and Agen of Cantrol, kita harus bangkit dan keluar dari ZONA nyaman tersebut. Kita harus kembali keDunia nyata, dunia yang sebenarnya kita tempati sekarang ini, dunia sudah terlalu lama terpuruk dan Dikendalikan oleh elit_elit atau oknum yang tidak bertanggung jawab. Tidak dapat kita pungkiri bahwasannya banyak sekali orang yang mengaku dirinya sebagai mahasiawa, dikarenakan ada paksaan dari keluarganya maupun menjadi mahasiswa yang ikut-ikutan. Akan tetapi mereka belum memahami apa hakikat mahasiswa yang sebenarnya (Mahasiswa pengekor istilahnya).

SALAM MAHASISWA…

MAHASISWA secara etismologi berasal dari kata MAHA yang artinya Besar, Luas, Tinggi dan Komprehensif, sedangkan SISWA adalah pelajar, artinya MAHASISWA adalah PELAJAR YANG LUAS ILMUMYA. Yang mempunya nilai moralitas dan estetikat yang berkualitas beserta intelektualitas tinggi. Sedikit penulis paparkan perbedaan Mahasiswa dan Siswa Menengah Atas (SMA).

SMA dicirikan dengan Manja, sifat kanak-kanakannya, masih berpikir polos, gak brani mengkritik pemerintah itu dikarenakan pemikirannya masih minim. Sedangkan Mahasiswa adalah yang terdaftar secara administrasi dan telah menyelesaikan syarat-syarat untuk masuk diperguruan tinggi atau tingkatan sarjana dan diidentikan dengan Idealisnya, Rebolusioner, Cerdas dan RAKUS (Rasional, Analisis, Kritis, Universal dan Sistematis). Akan tetapi RAKUSnya Mahasiswa kini telah disingkarkan dengan mudah oleh Pubg, Mobile Legend. Kita adalah generasi militan, generasi harapan, generasi yang akan membawah perubahan lebih-lebih kemajuan Bangsa ini. Harapan Bangsa adalah kita, hanya kita penerus pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa itu. Maka dari itu, buang rasa Apatisnya bangkitkan rasa optimisnya agar bisa meneruskan perjuangan dan proses dengan baik. Jadilah mahasiswa yang memiliki keikut sertaan dalam semester berjalan. Jadilah mahasiswa yang berkualitas dan yang terpenting dan mendasar adalah menjadi indikator kemahasiswaan yang berintelektualitasnya, perilakunya yang bijak sebagai orang yang terdidik untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah atau pihak Birokrasi kampus yang tidak memihak pada masyarakat.

Ingat kawan-kawan, sejarah telah mencatatnya dibuku besar Bangsa indonesia, bahwa mahasiswa telah banyak memberikan Sumbangsih dan kontribusinya terhadap kemajuan dan kemerdekaan Bangsa ini. Tahun 1908 dibentuknya Budi Utomo sebagai wadah perjuangan pelajar sebagai bentuk perlawanan dan untuk menghilangkan ketimpangan (Diskriminasi) dalam sektor pendidikan, dimana saat itu mahasiswa berjuang untuk orang-orang atau masyarakat mengenyam pendidikan tampa memandang, Bangsawan, Rakyat jelatan dan pribumin maupum non pribumi. Dan pada Tahun 1928 dideklarasikan sumpah pemuda dan mempersatukan kekuatan pemuda dan masyarakat dari seluruh pelosok tanah air, yang dari Ambon, Sulawesi, Jawa, dll untuk melawan penjajah. Tahun 1945 kembali sejarah mencatat kaum pemuda melakukan penculikan terhadap kelompok tua termasuk diantarannya Soekaeno-Hatta mereka dibawah dan dimintai untuk membacakan Proklamasi, akan tetapi kelompok tua menunggu persetujuan atau dukungan dari Jepang (Penjajah) baru akan dibacakan, tetapi kaum muda menginginkan pembacaan proklamasi, karena kemerdekaan yang hakiki adalah kemerdekaan yang dari tangan para pahlawan, bukan atas bantuan dan ulur tangan dari negara lain. Masalah terus berlanjut di Tahun 1966 mahasiswa terlibat menggulingkan pemerintah dikarenakan pemerintah dianggap tidak mampu menyelesaikan persoalan yang terjadi di Bangsa ini. Persoalan seperti, pemenuhan kebutuhan pokok, masalah kemiskinan dan pengganguran ada dimana_mana lebih-lebih kecewa terhadap kebijakan Soekarno yang ingin menjadi Presiden seUmur hidup. Di Tahun 1974 kembali mahasiswa turun kejalan untuk mengkritisi kebijakan Rezim soeharto karena tidak dianggap tidak punya komitmen dalam mengembangkan Bangsa dan ditahun yang sama juga terjadi peristiwa yang cukup memakan banyak korban dan dikenang dengan Malapetaka lima belas januari (MALARI). Di Tahun selanjutnya, 1978 mentri pendidikan Rezim soeharto (Order Baru) disaat itu pula dikendati oleh Daud Yoesuf dan dia menggeluarkan kebijakan NKK/BKK (normalisasi kehidupan kampus/Badan koordinasi kehidupan kampus) kebijakan itu dikeluarkan untuk membatasi ruang gerak mahasiswa, agar mahasiswa tidak dapat mengkritisi kebijaka_kebijakan pemerintah yang tidak memihak ke masyarakat. Tahun 1980an – 1990an masalah kerap kali terjadi dan mahasiswa seakan_akan mati suri, akan tetapi mahasiswa pada saat itu melakukan diskusi, pengkajian dengan cara tersembunyi atau biasa kita katakan PERGERAKAN BAWAH TANAH. Selama 20 tahun mahasiswa dibunuh, diculik, dipenjarakan dan dibantai jikalau ada yang brani mengkritis kebijakan pemerintah pada saat itu. Sampai akhirnya di Tahun 1998 adalah puncaknya kemarahan Mahasiswa dengan kebijakan pemerintah. Mahasiswa kembali turun kejalan, mahasiswa kembali mengerumuti lautan dunia. Semua aktivis_aktivis, dosen, buruh tani, tukang sayur, elemen masyarakat turun kejalan meneriakan Reformasi, mahasiswa melakukan tuntutan dan tuntutan tsb adalah pencabutan dwifungsi ABRI, penegakan supremasi Hukum berserta Adili dan hangguskan Soeharto dengan kroni-kroninya, masih di Tahun 1998 kembali mahasiswa kembali kejalan untuk memperlihatkan tanggung jawabnya dalam memperbaiki bangsa, salah satunya adalah massifnya pergerkan mahasiswa dan elemen lainya dalam melawan UU Badan Hukum pendidikan (UU BHP), dimana UU tersebut akhirnya dicabut oleh Mahkamah Konstitusi karena dianggap bertentangan dengan UUD 1945 dan besarnya perlawanan dari mahasiswa dan masyarakat sampai detik ini gerakan mahasiswa masih terus berlanjut, melawan ketimpangan yang ada karena mahasiswa adalah orang yang sedang menuntut ilmu, dan ilmu (intelektualitas) senantiasa menanti pertanggung jawaban. Marilah kawan-kawan kita bangun optimis kita, kita bangun solidaritas kita untuk sama-sama memajukan bangsa ini. Membuang jauh-nauh rasa Apatis kita, keluar dari Zona nyaman dan masuk pada Zona sebenarnya. Masih banyak tugas-tugas yang kita harus selesaikan. Hidup Mahasiswa

Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut sumeru sampai akarnya. Berikan aku 10 pemuda maka akan kugoncangkan Dunia. (Soekarno)
Jika disana ada 1.000 pemuda maka pastikan satunya diantaranya Aku, jika disana ada 100 pemuda maka pastikan salah satunya Aku, jika disana ada 10 pemuda pastikan salah satunya aku dan jika disana ada 1 pemuda maka pastikan itulah aku. Hidup Mahasiswa.

Semoga bermanfaat dan berguna bagi kaum intelektual dalam menangkapi sejarah mahasiswa yang sedikit penulis paparkan, lebih dan kurangnya penulis mohon maaf karena mengingat kita sama-sama masih dalam tahap proses pembelajaran. Salam perjuangan, perjuangan masih panjang.

Hidup Mahasiswa Indonesia
Hidup Rakyat Jelata
Hidup Rakyat Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*