Hitam NTB Minta Pemerintah dan Perusahaan Bertanggung Jawab Atas Insiden PT PSI

Mataram — Pada 28 Desember 2019 lalu,  salah seorang operator unit alat berat pengeboran horizontal PT Parts Sentra Indomandiri (PSI)–anak perusahaan dari PT Amman Mineral Nusa Tenggara–menjadi korban timbunan material pertambangan. Herman (34) kala itu tengah asik melaksanakan boran. Hanya saja dinding tambang Batu Hijau di Kecamatan Sekongkang, Sumbawa Barat seketika mengalami keruntuhan.

Dia mengebor tidak sendiri karena dia bekerja dengan beberapa kawannya. Cuma kawan-kawan berhasil selamat dari bahaya. Mereka tidak seperti Herman yang terjebak dalam tumpukan reruntuhan. Kelak, setelah berhasil dievakuasi, ia memang sempat menjalani pemeriksaan kemedisan. Oleh tim medis dari Internasional SOS Batu Hijau kemudian dikirim ke Rumah Sakit di Kota Mataram hingga dirujuk ke Rumah Sakit Premier Jakarta. Tetapi nyawa tidak tertolong karena sesampai di ibu kota akhirnya tewas juga.

Ketua Himpunan Mahasiswa Tambang Nusa Tenggara Barat (Hitam-NTB), Supriadin MJ menyampaikan, dengan adanya kelalaian PT Parts Sentra Indomandiri (PSI) terhadap hilangannya nyawa pekerja maka menjadi catatan penting bagi perusahaan tambang untuk mengevaluasi aktivitas karyawan di area pengeboran.

“Untuk mengurangi dampak tersebut, perusahaan seharusnya memberhetikan atau menutup sementara operasional tambang, hingga perusahaan tersebut memperbaiki sistem kerja untuk meningkatkan kompetensi karyawan,” ucapnya di Kota Mataram, Rabu (08/01/2020).

Baginya, pelaku bisnis yang visioner tidak hanya berorientasi pada pencapaian tujuan atau target produksi perusahaan semata, melainkan juga memperhatikan tenaga pekerja sebagai aset  perusahaan yang perlu mendapat perlindungan pada aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebagai bagian yang terintegrasi dalam etika bisnis.

“Perusahaan seharusnya menjadikan K3 cukup penting bagi moral, legalitas, dan finansial. Semua organisasi memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa pekerja dan orang lain yang terlibat tetap berada dalam kondisi aman sepanjang waktu. Praktik K3 meliputi pencegahan, pemberian sanksi, dan kompensasi, juga penyembuhan luka dan perawatan untuk pekerja dan menyediakan perawatan kesehatan dan cuti sakit,” jelasnya.

Menanggapi seputar masalah inheren pada insiden itu, maka Hitam NTB menyembulkan empat pernyataan sikap:

1. Pemerintah seharusnya mengawasi dengan baik perusahaan tambang, agar memberi Hak-hak pada karyawan secara baik. Bukan membiarkan korporasi semuanya memperkerjakan karyawan tampa melihat kesalamatan karyawan. (Pemerintah Jangan main kucingan-kucingan dengan perusahaan. Rakyat harus tau tentang aktivitas perusahaan tersebut);

2. Perusahaan  PT Parts Sentra Indomandiri (PSI) harus bertanggung jawab atas kehilangan nyawa Karyawan yang terimbung material;

3. Dinas Energi Sumber Daya Mineral harus secepatnya melakukan ivestigasi sebab-sebab runtuhnya material dan publikasikan pada publik terkait hasil iventigasinya; dan

4. PT Amman Mineral Nusa Tenggara sabagai ibu perusahaan harus ikut bertanggung jawab juga terhadap perusahaan PT Parts Sentra Indomandiri (PSI) sebagai mitra bisnisnya. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*