Ironi Mahasiswa

Oleh: David Putra (Aktivis HMI)

Patriot.id — Dulu Ahmad Dahlan pernah mengatakan, “Setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru.” Kalimat ini sering kita gaungkan kepada kerabat, kawan, bahkan junior kita sehari hari.

Mahasiswa sebagai orang terpelajar yang terdaftar di perguruang tinggi negeri maupun swasta. Tugas sebagai agent of change dan agent of control, yang setiap perannya harus mampu mengabdikan dirinya dalam kehidupan yang nyata, tanpa embel-embel kemahasiswaan. sebagai harapan masyarakat untuk mengontrol kebijakan dan mampu memberikan suplai pengetahuan terhadap masyarakat awam.

Kendatipun demikian bahwa perjuangan yang dikisahkan oleh para founding fathers kita ternyata sekarang menjadi buayan semata dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Harapan yg selalu di cita-citakan ternyata menjadi tong kosong nyaring bunyinya. Berangsur terbalik dengan yg pernah di katakan Tan Malaka: kemewahan terahir yg dimiliki mahasiswa iyalah idealismenya.

Di era yang begitu kompleks ini hadir revolusi industri 4.0, sebagai pelopor perbudakan baru di dalam tatanan mahasiswa, mahasiswa sering kali melupakan jati dirinya, amanah yang terpental dari tanganya, walaupun kehadiran Revolusi industri 4.0 ini sebagaian besar ada kemanfaatannya. Tapi, lagi lagi kita sering melupakan bahwa ini adalah semangat kapitalisasi bagaimana masuk untuk menyerang dari pada aktor “mahasiswa” sebagai ujung tombak pengontrol kebijakan segala kebijakan. Oleh sebab itu, mahasiswa harus dididik dengan pengetahuan dan keterampilan yang belum bisa dilakukan mesin atau kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Mulai dari terbentuknya boedi utomi thn 1908, serta pada tanggal 28 oktober 1928 soekarno dan kawan-Kawan memproklamirkan sumpah pemuda, kesemuanya itu merupakan kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya bangsa indonesia dan berbagai kalangan ikut meneriakan dengan lantang, bahwa pada hari itu penyatuan gagasan dan ide untuk mempertahankan negara kesatuan dan tanah lahirnya,

Puncak dari pada perjuangan itu pada tanggal 17 agustus 1945, dimana soekarno dan kawan kawannya menyatakan di hadapan tentara jepang, di tempat kediamanya sendiri, suatu momen yang membuat seluruh darah rakyat mendidih, momen sakral, yang sayangnya kita hanya nikmati dengan gaya-gaya hedonis skarang ini.

Dengan diproklamirkannya negara Indonesia sebagai negara yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bebas dan berdaulat. Selain itu, proklamasi kemerdekaan dijadikan tonggak awal mendobrak sistem hukum kolonial menjadi sistem hukum nasional yang sesuai dengan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia bebas dalam menentukan nasibnya, mengatur negaranya, dan menetapkan tata hukumnya. Konstitusi yang menjadi dasar dalam penyelenggaraan negara kemudian ditetapkan pada tanggal 18Agustus 1945.

Dari berbagai aspek kehidupan mahasiswa dalam tatanan kampus maupun diluar kampus. Sebenarnya dalam mengatur pola pikir serta pola tindaknya, seorang mahasiswa di berikan kebebasan untuk bersuar dan berpendapat di khalayak umum dan itu ada dalam “UUD 1945 pasal 28 E”

Sekarang ironinya mahasiswa, bukan lagi menjadi agent of cange atau agent of control yang sering di gaungkan, kalimat itu sdah lama larut dan mati dalam kehidupan dan gerak gerik mahasiswa itu sendiri.

Kemunduran kemunduran yang terjadi, mulai dari hilangnya minat baca, penguatan literasi, kini mahasiswa menjadi budak kecanggihan buatan manusia, katakanlah kehadiran gamers, dsb. Itu menjadi faktor, sehingga mahasiswa sekarang lebih identik dengan ketidak sopanan dalam bentuk pembelajaran.

Mahasiswa harus bisa berperan aktif dengan sering memperkaya literasi dan melakukan penelitian mengenai hal-hal yang belum diketahui agar kreasi dan inovasi dapat tercipta. Sudah seharusnya mahasiswa memiliki wawasan yang lebih luas dalam hal perkembangan teknologi, memanfaatkan waktu bukan hanya untuk memenuhi kepuasan diri sekedar mengetahui perkembanganya, namun memilah, mempelajari hal yang bernilai dan berpeluang yang dapat mengasah keterampilan mahasiswa dalam menyongsong era industri 4.0 ini.

Mahasiswa dituntut untuk mengembalikan roh perjuangannya pada koridor yang berlaku, untuk bersikap rakus, rasional analisi kritis universal dan sistematis, hanya ditangan pemuda dan mahasiswa lah bangsa dan negara ini akan baik baik saja. Seperti yang dikatakan Soekarno: berikan aku 10 pemuda maka akan ku guncang dunia.

Sejarah akan mencatat itu, sebagaimana dalam alquran yg berbunyi, “Wal tandhur nafsun, ma qadammat li ghad–perhatikan sejarahmu untuk hari esokmu,” (QS 59: 18).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*