Klenteng Avaloketisvara : Simbol Pluralitas Masyarakat Religi di Banten

Jahuri., S.Pd

(Mahasiswa Program Magister Pendidikan IPS Pascasarjana UNINDRA PGRI)

Sekilas Sejarah Warga Tionghoa di Banten

Sebelum menjadi Kerajaan bercorak Islam, Banten ialah Wahanten Girang(Banten Girang/Hulu) yang merupakan Kerajaan Sunda di bawah pimpinan Prabu Pucukumun, putra Prabu Sada. Sedangkan dari keterangan ekspedisi Laksamana Chengho yang ditemani Ma-Huan sebagai pencatat perjalanannya dalam Ying-Yai Sheng–Lan(1433) menyebut Banten sebagai Shun t’a(Sunda), yang memberi gambaran sebelum Kerajaan Islam berkuasa sudah disinggahi oleh orang-orang Cina. Bahkan lebih jelas lagi dari gambaran sketsa lautnya yang berasal dari berita kunjungan Cornelis de Hutman sekitar tahun 1596. Sketsa laut kota Banten dahulu dengan tanda-tanda huruf dan digambarkan dengan lengkap, seperti adanya: Keraton raja, Paseban, Gerbang darat, Gerbang gunung, Gerbang air, Selui boor, Menara, Banten, Masjid, Perumahan orang-orang Cina, Kediaman Pangeran Gebang, Sungai yang menembus kota, Kediaman Syahbandar, Kediaman Admiral, Kediaman Cati Maluku, Kediaman saudara Mangku Bumi, Kediaman Senopati, Kediaman Ngabehi Panjang Jiwa, Pasar Pacinan, Kediaman Adamohi Keeling, Loji gudang Belanda, Rumah orang-orang Gujarat dan Benggalai serta Gudang amunisi dalam Banten Abad XV-XXI: Pencapaian Gemilang Penorehan Menjelang(Tjandrasasmita, 2011: 54-60).

Dari catatan sejarah Lombard-Salmon dalam Banten Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII(Guillot, 2008: 98), ada batu bertulis tertua di Klenteng dari tahun 1747 beserta sumber sebuah akta notaris yang menjelaskan adanya sebuah lahan di sebelah barat pusat Kesultanan Banten, yakni “Chinees Tempel”. Sedangkan dalam sejarah lisan masyarakat Tionghoa sendiri adanya komunitas Tionghoa di Banten yang paling membekas dalam benak pemahaman sejarah warga masyarakatnya ialah sejak dimulai dari kedatangan Puteri Kaisar Tiongkok bernama Puteri Oeng Tien pada abad ke-16 (Warga Tionghoa biasanya menambahkan kata Nio= Ibu). Kedatangan Puteri Oeng Tien dengan beberapa orang pengikutnya yang berlayar dari Tiongkok ke teluk laut Banten yang kemudian menyusuri kali Kemiri (sungai depan Klenteng) dengan bermaksud dan tujuan menjalin hubungan perdagangan dengan Banten. Sehingga kadatangnnya disambut oleh Sultan Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati yang kemudian Sang Puteri menjadi isteri Sang Sultan (Wawancara, Romo Assaji Manggala Putera).

Dalam Riwayat Kesultanan Banten(Hafidz, 2006: 58) adanya peran serta etnis Tionghoa di Kesultanan Banten dengan jabatan tertinggi sebagai Syahbandar, maka dalam penggunaan nama mata uang sebagian menggunakan nama-nama Cina. Hal ini dapat dilihat dari tahun 1640 diera Sultan Abdul Ma’ali Ahmad Kenari (Pangeran Pekik) sebagai putra Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir yang meninggal terlebih dahulu dari ayahnya. Dimasanya bersama ayahnya, Sang Sultan mengedarkan uang Banten yang dibuat dari besi/timah, berhuruf Arab yakni Wang Sawe, Wang Bribil, Wang Cepeng (bahasa Cina), dan Wang Goweng (0,1 gobang). Tiga biji tersimpan di Museum Gajah, Jakarta.

Sebelum keruntuhan Kesultanan Banten, bisa dikatakan jika penduduknya termasuk terbanyak setelah pribumi yang tersebar dibeberapa wilayah. Bisa dilihat dari sebaran penduduk warga masyarakat Tionghoa dalam Sejarah Bangunan Pendopo Gubernur Banten(Mufti Ali dan Darmayanti, 2014: 59) yang ada di Banten baik di Serang, Pandeglang, dan Lebak pada 1857-1865 dan 1888 sebanyak 7.958 jiwa. Sedangkan orang Tionghoa di Tangerang pada 1888 berjumlah 27.996 jiwa.

Pendirian Klenteng/Vihara Avaloketisvara

Klenteng/Vihara Avaloketisvara atau Dewi Kwan Im atau Mak Kwan Im Pouw Sat(Boddhisatva) di kawasan cagar budaya Kesultanan Banten Lama yang sekarang berada di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang-Banten ialah termasuk yang tertua di Jawa dan tidak pernah sepi dikunjungi oleh jamaatnya dari berbagai daerah ini ada sejak awal mula Kesultanan Banten bercorak Islam dari syiar dakwahnya Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah (1526) bersama anaknya Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570). Berdirinya Kesultanan Banten sendiri dalam sejarahnya ditandai dengan dibangunnya Keraton Surosowan sebagai pusat kepemerintahan. Sedangkan puncak dari kejayaan Kesultanan Banten terjadi pada masa Sultan Ageng Tirtayasa/Abul Fat Abdul Fatah (1651), dan berakhir diera Sultan Muhammad Rafi’udin (1813). Klenteng/Vihara Avalokitesvara yang masih berfungsi sebagai bangunan suci hingga saat ini merupakan peninggalan sejarah masa lampau Kesultanan Banten yang banyak menyimpan mitos kosmologinya, bahkan tidak jauh dari lokasi Klenteng/Vihara saat ini terdapat sebuah situs bekas Masjid peninggalan Kesultanan Banten yang menggunakan nama sesuai dengan pemukiman etnis Tionghoa, yakni Masjid Pecinan Tinggi yang memberikan bukti bahwa adanya dua tempat ibadah yang saling berdampingan dan merupakan situs bekas sebuah kota besar pada zamannya.

Awal pendirian Klenteng/Vihara yang berada sekitar 500 meter sebelah barat Masjid Agung Banten, diperkirakan dibangun pada abad ke-16. Pendirian Klenteng pertamakali berada di Kampung Dermayon, persis didekat situs Masjid Pecinan Tinggi, yang dibangun pada 1652 masa pemerintahan Sunan Gunung Jati. Akan tetapi, saat ini sudah tidak ada bekas dari sisa bangunan Klenteng tersebut, yang ada hanya sebuah gundukan batu bata yang dipercaya bekas makam orang etnis Tionghoa dahulu. Dalam tradisi lisan sejarah pendiriannya didasari oleh semakin banyaknya warga masyarakat Tionghoa yang berada di Banten, maka dalam memenuhi kebutuhan rohani sepiritualnya didirikanlah Klenteng/Vihara.

Sedangkan Klenteng/Vihara yang sekarang masih digunakan untuk beribadah oleh jemaat ialah berada di kampung Pabean, berhadapan dengan benteng Speelwijkpeninggalan Belanda yang dipisahkan oleh sebuah kanal sungai. Nama Pabean sendiri dahulu merupakan istilah untuk kantor pengawasan bea cukai di Banten. Selain itu juga ada yang menyebutnya dengan kampung Pamarican, Pecinan, dan kampung Petekong. Perpindahan dari lokasi semulanya dari kampung Dermayon, dalam tradisi lisannya terjadi ketika Banten dilanda wabah penyakit yang menyebabkan banyak penduduk meninggal dunia, maka atas jasa warga Tionghoa yang mengusir wabah penyakit tersebut dengan tradisi mengarak/Gotong PetekongDewi Kwan Im (kini tinggal tradisi Onde Berkah), akhirnya diberikan lahan yang lebih luas oleh Sultan untuk mendirikan Klenteng/Vihara yang tidak jauh dari lokasi pertamanya di Kampung Pamarican sekarang. Hal tersebut dikarenakan di lokasi pertama kapasitasnya sudah tidak memungkinkan. Kemudian, Klenteng yang masih tegak berdiri tersebut diyakini dibangun pada 1774 atau sekitar awal abad ke-17 M. Sedangkan saat terjadi bencana meletusnya gunung Krakatau pada 1883, Klenteng/Vihara ini menjadi tempat berlindung bagi penduduk sekitar bersama-sama dengan masyarakat etnis Tionghoa. Dimana bencana tersebut, selain menimbulkan abu vulkanik juga menyebabkan bencana air bah (tsunami) yang menyebabkan perkampungan terendam. Akan tetapi, atas kuasa Tuhan YME, Klenteng tidak ikut terendam. Kemudian pasca-letusan tersebut, Dewi Kwan Im menampakkan diri ke bumi, menandakan welas asihnya kepada ummat manusia, jika bencana tersebut telah usai  (wawancara Romo Assaji Manggala Putra).

Secara umum, menurut Kuan Ming: Buddha dan Bodhisatwa dalam Agama Buddha Tionghoa(2012: 3-19), bahwa agama yang banyak dianut oleh panteon agama Buddha Tionghoa ialah agama Buddha Mahayana yang dalam tradisinya tidak menolak keyakinan setempat dari tradisi keyakinan masyarakat lokalnya. Alasannya, karena sampai pada titik tertentu, agama ini terpengaruh oleh pemikiran ajaran Taoisme, termasuk di Banten. Utomo dalam Buddha di Nusantara(2013: 22), menjelaskan jika dalam mazhab agama Buddha Hinayana tidaklah dikenal istilah Bodhisatwa, sedangkan sebaliknya, di Mahayana (Wahana Agung) dikenalnya. Seingga di Klenteng/Vihara Avaloketisvara ini terdapat Dewi Kwan Im yang termasuk juga Bodhisatwa. Akan tetapi, kedua (mazhab) besar agama Buddha tersebut sama-sama memiliki ajaran dasar yang sama dari Buddha. Sehingga memudahkan penerimaannya di masyarakat terutama keberadaan tempat ibadah Klenteng/Vihara Avaloketisvara di Banten ini, yang juga memiliki sejarah panjang bersama Kesultanan Banten.

Kini Klenteng telah mengalami perbaikan/pemugaran beberapa kali, terkhir dilakukan oleh Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia dan diresmikan oleh Bpk. Drs. A. Joko Wuryanto pada 21 November 2012, bertepatan dengan Imlek 2563 Cap Gwee Ce Phe. Sehingga bentuk aslinya telah berubah dikarenakan kondisi bangunan sudah tua, serta pernah terjadi kebakaran. Akan tetapi, strukturnya tetap mempertahankan bangunan Klenteng yang lama. Benda peninggalan sejarahanya sendiri masih tersimpan dengan baik seperti patung Dewi Kwan Im beserta Altarnya yang didatangkan langsung dari Tiongkok, dua pengangkut patung Dewi Kwan Im atau Mak Kwan Im Pouw Sat (Djoli Kwan Im Hoed Tiouw) yang khas dengan ornament Tionghoa berasal dari Batavia (1895) yang ditempatkan di kanan-kiri Altar Dewi Kwan Im, tiang bulat besar dari batu yang tegak berdiri berukirkan naga khas etnis Tionghoa, dan salinan lukisan yang menggambarkan kemunculan Dewi Kan Im setelah terjadi letusan gunung Krakatau dan Stunami (aslinya tersimpan di Museum Banten Lama). Bangunannya didominasi oleh warna merah dan kuning dengan ornamen-ornamen khas Mandarin ini merupakan bangunan Klenteng megah. Dari bentuk maupun strukturnya terlihat penuh akan makna filosofis yang ada. Tak luput pula, berbagai simbol religiusitas khas agamanya pun sangat mendominasi setiap sudutnya yang menandakan citra kedalaman spiritualitasnya. Sehingga, jika berkunjung (wisata religi) ke bangunan ini menyiratkan betapa warga masyarakat Tionghoa di Banten selain memiliki peran penting dibidang ekonomi era Kesultanan Banten dahulu, juga tidak melupakan aspek religiusitas bagi warga masyarakatnya.

Ada beberapa bagian atau aspek yang khusus dan umum untuk benda-benda yang ada di Vihara Avaloketisvara Serang-Banten ini yakni: untuk yang khusu ialah Patung Dewi Kwan Im sudah berusia ratusan tahun (benda cagar), Tiang bulat besar dari batu bermotif Naga khas Tiongkok (benda cagar), dan Altar Kwan Im Pho Sat (benda cagar). Di dalam Klenteng terdapat guratan relif yang menceritakan awal kedatangan Puteri Oeng Tien di Banten hingga menceritakan kondisi sosial masyarakat Banten tempo dulu sampai kejadian meletusnya gunung Krakatau. Yang unik di Klenteng ini ialah adanya Sumur Banten/sumur keramat ”Mbha Banten”, yang dianggap keramat oleh orang Tionghoa (Ummat Tri Dharma) dan penduduk lokal maupun dari luar daerah yang mayoritas Islam, meyakini jika airnya memiliki tuah keberkahan dan berbagai khasiat.

Benda-benda sakral yang secara umum di Klenteng/Vihara ialah berbagai patung Dewa secara keseluruhan berjumlah 16 patung/altar dewa-dewa dari Altar utama Dewi Kwan Im, Altar Tuhan Yang Maha Esa (Thi Kong) dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk benda dan patung pelengkap sebagai hasil akulturasi budaya setempat yang sering dihormati dan dilakukan praktek ritus seperti Sumur Mbah Banten (Tjing Shen), Patung Singa Putih (Fu Sen), Empe Banten dan Altar Abu Leluhur. Di dalam Klenteng terdapat juga ruang Bakti Salaatau Altar yang paling besar, ruang meditasi, perpustakaan, taman, pemondokan/Arama, pohon Boddhi besar, Kutiatau tempat tinggal Bhikkhu, Pagoda, lilin dari yang kecil hingga besar, Lonceng dan Bedug yang berada di dalam menggantung di atas sebelah kiri ruangan, dan sesaji (dupa/hio, air mineral, bunga, dan buah-buahan karena Dewi Kwan Im terkenal sebagai vegetarian/Ciak Cay yang welas asih terhadap semua makhluk hidup yang bernyawa.

Dari sejarah dan kultur budaya inilah diharapkan timbul suatu kesadaran/pemahaman sejarah bersama yang baik sebagai fenomena dari ummat manusia yang beragama atas fakta sosiologi-antropologi dalam kaitannya dengan pluralisme harmonis, dan toleransi (sosial-spiritualis) antar masyarakat dan ummat beragama dalam membangun peradaban yang luhur.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*