Kodim/P Labuhanbatu Desak Polisi Jangan Berkompromi: Panggil dan Periksa Tam Tong Chin

Labuhanbatu, Patriot.id — Terkait dengan kasus pembunuhan pada Rabu 30 Oktober 2019, di tanah negara eks PT SAB/KSU Amalia, Dusun VI, Desa Wonosari, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu. Kepolisian ternyata masih melakukan penyelidikan.

Kedua korban pembunuhan atas nama Martua P Siregar alias Sanjai (48) dan rekannya Maraden Sianipar (55). Mereka dibunuh karena berani mengusik stabilitas penghisapan yang dilakukan oleh perusahaan perkebunan.

Korban Pembunuhan:

1. Maraden Sianipar: lahir di Tanah Jawa tanggal 13 Nopember 1967–umur 52 Tahun; Kristen; Wiraswasta (Wartawan, Aktivis LSM); alamat Jalan Gajah Mada Gang Sampurna, Kec. Rantau Utara, Kab. Labuhan batu.

2. Martua Parasian Siregar alias Sanjai: lahir di Tanjung Leidong tanggal 23 Maret 1977–umur 42 Tahun; Islam; Petani/Pekebun; alamat Dusun Enam Sei Siali, Desa Wonosari, Kec. Panai Hilir, Kab. Labuhanbatu.

Mereka ditusuk di bagian perut dan disabet pada bokong dan punggung. Inilah yang membuatnya bergelinang darah sampai melepas nyawa. Sejadi keduanya mayat, tubuhnya masih disiksa: terus dihujani senjata tajam dibuang ke parit.

Awal cerita, PT Amelia berkali-kali mengusir serta memperingatkan para penggarap dari kelompok Maraden Siapiar dan siapa saja yang menggarap di perkebunan tersebut. Tetapi masyarakat tani miskin tak peduli dengan ancaman barusan.

Merek tak bisa melepas lahan yang selama ini jadi sumber hidupnya. Meski perusahaan telah menghakmiliki perkebunan petani-petani malang tak mau menyerah, tunduk, apalagi patuh. Makanya yang ditempu adalah pembangkangan: terus menggarap. Sikap inilah yang kemudian menimbulkan kegusaran pemilik perusahaan dengan para penggarap.

Harry sebagai tuan PT Amelia kemudian tidak mau pusing lagi. Dia menyuruh Joshua Situmorang untuk menghabisi salah satu toko penggarap: Ranjo Siallagan. Upah membunuh agak lumayan. Ia katanya menggelontorkan Rp 15 juta. Namun melenyapkan Ranjo tidak gampang. Terbukti sekarang dia masih hidup.

Kelak, ketika perusahaan kembali berseteru dengan kelompok Maraden Siapiar. Harry lagi-lagi mengambil sikap bengis. Dia mengancam pihak PT Amelia memerintahkan Janti Katiman Hutahean alias Jampi Hutahean untuk membunuh penggarap.

Perintah yang diberikannya sadis, gila, dan keji: kalau group Sianipar ada menggarap lagi naka usir, dan kalau melawan: habisi. Upah untuk ini akan diberikan kalau sudah ada yang berhasil dibunuh. Maka tatkala Maraden Sianipar dan Martua P. Siregar alias Sanjai bertandang ke perkebunan; mereka harus menemui ajalnya di tangan antek-antek perusahaan.

Di perkebunan dua orang tadi langsung ditemui oleh para pembunuh: Hendrik Simorangkir, membawa 1 bilah klewang; Riki Pranata alias Riki, bersenjata 1 bilah Klewang; Joshua Situmorang alias Jos, berbekal 1 bilah Parang dengan mengendarai sepada motor; Daniel Sianturi alias Niel, menenteng 1 bilah Klewang; Sabar Hutapea, mengendarai sepeda motor; dan Vicktor Situmorang, yang datang dengan sepeda motor–habis dari rumah Sabat Hutapea.

Hendrik Simorangkir  menanyakan  kepada dua orang calon mayat: untuk apa  datang  ke perkebunan. Tanya-tanya–basa-basi–dilontarkan, dengan sengaja agar timbul cekcok, yang berbuntut dibunuhnya Maredan dan Martua.

Setelah peristiwa pembunuhan itu berlangsung. Selasa5 November 2019, Reskrim Labuhanbatu dan Reskrim Polsek Panai Hilir mengamankan 2 orang tersangka atas nama Victor Situmorang alias Revii; ditangkap sekitar pukul 01:00 WIB dari kediaman tersangka–dan Sabar Hutapea alias Tati; diseret sekitar pukul 01:00 WIB dari rumahnya, di Sei Berombang Panai Hilir.

Kemudian pada hari Selasa 5 November 2019–sekitar pukul 19:30 WIB–tim yang dipimpin Kasubdit III Jantanras AKBP Maringan Simanjuntak, menjemput tersangka Daniel Sianturi di rumah saudaranya di Desa Janji Kecamatan Parlilitan Kabupaten Humbahas.

Perburuhan tersangka masih berlanjut, pada hari Rabu 6 November 2019–sekitar pukul 22:30 Wib–tim yang dipimpin Kasubdit III Jantanras AKBP Maringan Simanjuntak bersama tim Reskrim Polres Tanah Karo, berhasil menangkap Jampi Hutahaean di kos-kosan Jamin Ginting Kabanjahe.

Selanjutnya, pada hari Kamis 7 November 2019–sekitar pukul 14.00 WIB–kepolisian menangkap tersangka Wibharry Padmoasmolo Als Harry, di komplek perumahan CBD Kelurahan Suka Damai Kecamatan Medan Polonia Kota Medan.

Hingga saat ini semuanya belum berhasil ditangkap. Karena kepolisian sepertinya kewalahan dan mulai sangat lelah mengejar para pembunuh. Mereka hanya berhasil menjerat 5 orang sebagai tersangka; sementara 3 orang sisanya berstatus DPO. Polisi bukan hanya kehilangan tenaga, tapi juga berusaha dibonsai kekuatannya dalam menegakan keadilan.

Menyimak perkembangan kasus tersebut, KODIM/P (Kelompok Diskusi Mahasiswa/Pemuda) Labuhanbatu mendapati ada kejanggalan. Karena dalam kasus ini Polda Sumatera Utara belum tmemanggil atau memeriksa pemilik PT SAB: Tam Tong Chin, ttl: johor 21 januari 1941.

Tam Tong diduga menjadi dalang/otak dari pembunuhan Maraden dan Martua. Tetapi dirinya masih belum diseret sebagai saksi. apalagi tersangka. Itulah mengapa kepolisian patut dicurigai. Jangan-jangan dia tidak independen, karena tak kuat berhadapan dengan pemodal.

Berdasarkan hasil kajiannya maka Kelompok Diskusi Mahasiswa/Pemuda Labuhanbatu, menyatakan bahwa para pelaku dalam kasus ini dapat dipidanakan dengan Pasal 340 Jo. Pasal 338, dan/atau Pasal 55, Pasal 66 KUHPidana; para pembunuh dapat dihukum mati atqu seumur, atau selama-lamanya 20 tahun penjara. Tetapi sebelumnya mahasiswa/pemuda mendesak polisi untuk konsisten, tegas, dan tidak mudah berkompromi dengan pemodal.

“Kami mendesak Kapolda Sumatera Utara segera panggil dan periksa Tam Tong Chin yang menjadi pemilik PT SAB. Dia diduga keras dalang atau otak pembunuhan terhadap Maraden Sianipar dan Martua Parulian Siregar alias Sanjai,” tegasnya Nasky Tanjung sebagai perwakilan Kodim/P, di Labuhanbatu, Rabu (20/11).

Anak muda itu melanjutkan, “Melalui statemen ini kami Kodim/P LB mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama melawan mafia tanah di NRI, terkhususnya di Sumatera Utara.” pungkasya. (Rid)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*