Mahasiswa dan Realita di Zaman Sustainable Millennium

Oleh: Fathul Khairul Anam

Patriot.id — Kembali memaparkan definisi mahasiswa sudah terlalu sering kita dengar dan baca, namun merefleksi kembali peran dan fungsi mahasiswa menjadi suatu hal yang mulai terlupakan dan  sesungguhnya menggamangkan bagi penulis. Demikian kondisi mahasiswa yang rentan tergerus arus apatis dan hedonis menjadi realita yang  tengah terjadi di zaman sustainable millennium  (lanjutan era milenial).

Mahasiswa sebagai harapan bangsa Indonesia sangat lekang dari hal-hal tak seirama sebagaimana gelar yang disandangnya yaitu “mahasiswa” dan kesibukan yang seharusnya (sollen) dan senyatanya (sein) peran dan fungsi yang dijalankan olehnya, bahkan kemurniannya (pure reason) sudah tercemar modernisasi negatif karena lemahnya daya saring (filterisasi) dan kepeduliannya terhadap lingkungan kampus maupun masyarakat umumnya.

Bahkan, ketika 189 negara di dunia internasional (PBB) tengah  menggaungkan sustainable development goals (SDGS) sebagai lanjutan dari millennium development goals (MDGS) yang berakhir beberapa tahun sebelumnya. Dalam rangka  mewujudkan pembangunan berkelanjutan negara-negara internasional termasuk Indonesia di dalamnya harus menunjukan kemampuannya untuk mewujudkan agenda pembangunan berkelanjutan yang baru. Dibuat untuk menjawab tuntutan kepemimpinan dunia dalam mengatasi kemiskinan, kesenjangan, dan perubahan iklim dalam bentuk aksi nyata.

Tujuan tersebut diformulasikan  dalam 17 tujuan dengan 169 capaian yang meliputi masalah-masalah pembangunan yang berkelanjutan termasuk di dalamnya adalah pengentasan kemiskinan dan kelaparan, perbaikan kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup dan perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh yang tentunya harus  membuat kita ingin meninjau  kembali kebijakan dan program program pemerintah sekarang ini.

Lalu, mahasiswa sebagai agen of control sekaligus komponen harapan bangsa malah banyak yang tidak tahu mengenai hal tersebut. Kapan pertemuan itu diselenggarakan dan seyogyanya bagaimana mengawal dan mewujudkannya di hari-hari sekarang ataupun di hari hari esok.

Generasi yang akan melanjutkan tujuan-tujuan itu masih terlena oleh aktivitas yang direkayasa dengan eloknya zaman dan orang orang yang mengintervensinya. Permasalahan bangsa mari kita runut dengan berikut rentetannya; mulai dari Demokrasi yang berjalan liberal dan timpang hukum, keadilan dan kesenjangan sosial yang makin tajam, pemberantasan korupsi yang tidak serius bahkan menjadi candu pemangku jabatan, pendidikan  yang hanya bisa dinikmati bagi orang-orang yang berekonomi menengah ke atas, serta pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan tersedianya lapangan pekerjaan bagi warga negara dalam hal ini menjadi akar permasalahan bangsa.

Sebagai komponen bangsa harusnya inilah yang mengisi ruang-ruang diskusi dalam rangka memberi angin segar (solusi) untuk bangsa, pupusnya harapan itu kini tengah dirasakan masyarakat terhadap agent of change dalam  realitasnya bahkan sesi perkuliahan seakan bungkam karena putusnya nalar kritis yang dimiliki mahasiswa. Perkembangan zaman dan berbagai dinamikanya tidak diiringi dengan tumbuhnya sumber daya mahasiswa.

Selain itu, mahasiswa sebagai penyambung lidah masyarakat enggan bersuara, mereka lebih memilih diam dan menutup telinga atas suara jeritan masyarakat dilingkungannya baik melalui aksi menyuarakan pendapat di muka umum (demonstrasi) ataupun cara cara lain membuat naskah akademis ataupun melibatkan perannya dalam mengawal prolegnas sampai pengesahan dan pelaksanaan produk hukum (Regelling) ataupun kebijakan pemerintah (Beschiking).

Akan tetapi, mahasiswa dewasa ini malah lebih disibukan atas hal-hal yang kurang berfaedah jika dibandingkan dengan memperjuangkan hak-hak rakyat dan menjadi social control bangsa ini. Mahasiswa hari ini dapat kita renung dan sadari bersama apakah hari ini bangsa kita baik-baik saja, atau lebih khusus lagi kita pertanyakan, apakah kampus kita sudah baik-baik saja? Atau apakah kita tidak merasa sedih dan menangis melihat teman teman kita di luar sana yang tidak mampu  mengecap ilmu di bangku perkuliahan sebagaimana kita yang dengan angkuhnya menutup mata, memenjarakan rasa serta nurani kemanusiaan kita? Ataukah mereka yang sudah kuliah yang SPP-nya tinggi, sehingga sangat menambah beban bagi Irangtuanya yang serba berkekurangan?

Penulus merasa bahwa hal demikian terjadi karena mahasiswa sekarang terlalu banyak piknik sehingga tidak ada waktu untuk menengok asa para pejuang bangsa. Sungguh menakjubkan keberanian dan kenekadan para pemuda beberapa waktu silam, saya yakin dulu Douwes Dekker atau mungkin Haji Achmad Dahlan mengawalinya dengan tekad serupa. Mula-mula mereka gelisah dengan persoalan yang menimpa di kalangan penduduk terjajah. Sekolah didirikan dulu untuk memperkenalkan kembali “identitas dan kehormatan” sebagai manusia yang merdeka.

Begitupun dengan Tan Malaka, yang mengawalinya dengan mendirikan sekolah yang melarang tukang sapu, karena anak anak sekolah (mahasiswa) perlu belajar menjadi rakyat. Rakyat dari kalimat ini adalah mereka yang masih dalam ketertindasan. Mahasiswa perlu diperkenalkan dengan jurang ketimpangan yang menyelimuti kaum atau bangsanya. Atau juga, Swardi Suryaningrat mendirikan sekolah sebagai lembaga yang menyebarkan kesadaran kritis.

Mereka adalah kaum pergerakan yang percaya kalau kemerdekaan dapat diraih jika pendidikan mengajarkan kesadaran dan kemerdekaan. Entah mengapa kita terbiasa bersikap kompromis khususnya terhadap pendidikan yang berongkos mahal, dan kesenjangan sosial, pembangunan manusia dan persoalan bangsa lainnya. Pemerintah di sini selalu ketinggalan dalam soal kebijakan yang sesungguhnya benar-benar untuk kesejahteraan bangsa dan terkesan berpihak pada pemangku kepentingan.

Sadarlah mahasiswa!!! Ketika Hukum tak lagi ditegakkan dengan adil, ketika hak hak mereka tak lagi diberikan, lalu apa yang harus kita lakukan. Di tengah sibuknya alur perkuliahan, luangkan waktu untung merenung dan berpikir atas keadaan mereka. Tahukah siapa mereka yang ku sebutkan? Mereka adalah masyarakat yang di dalamnya ada keluarga kita. Mereka adalah mahasiswa yang juga kawan kita. Mereka adalah anak-anak dan Orangtua yang patut kita bantu memenuhi haknya. Sapare Aude (Beranilah berpikir) dan Aktualkan (Action)!!!

“Penulis adalah Kandidat Ketua BEM FH Unram Periode 2018/2019”

1 Komentar

  1. Kalau bisa lebih sepesifik, bicara tentang mahasiswa itu tentang biaya kuliah dan jaminan atas pendidikan, dan mahasiswa bukan agen of control karena perubahan tidak bisa hanya berjuang dgn satu sektor saja yang artinya perubahan adalah karya berjuta-juta massa, atas dasar itu mari untuk membuka komersialisasi, liberalisasi, dan privatisasi dalam dunia pendidikan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*