Mama-mama Papua Diancam Aparat, Pigai: Rakyat Papua Akan Semakin Menentang Kejahatan

Natalius Pigai (Kritikus dan Aktivis). (Ilustrasi: Istimewa/Pribadi)

Papua — TNI-Polri sepertinya semakin kerasukan setan. Mereka tampaknya tidak punya pikiran, perasaan, apalagi kehendak yang independen. Aparat aoalnya hanya tahu: siap laksanakan tukas, Ndan. Tak peduli walau harus mempertontonkan sirkus pembunuhan.

Alasan yang menjustifilakasi kebiadabannya–dari waktu-ke-waktu–selalu sama: jaga keamanan dan ketertiban. Melaluinya kekerasan, penembakan, bahkan pertempuran mudah sekali dijadikan jawaban atas setiap persoalan. Pada Selasa (18/2) kemarin, dilaporkan bahwa bulan lalu kawanan aparat bersenjata menembak empat orang Papua. Hasilnya: dua masyarakat sipil mati dan dua lainnya nyaris nyawanya tiada.

Kejadian itu berlangsung di Kampung Yoparu, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua. Pria anonim–yang merupakan penduduk setempat–membeberkan, dari kampung inilah aparat gabungan menembak mati dua warga sipil atas nama Kayus Sani dan Meky Tipagau. “Keduanya adalah warga sipil yang tiba-tiba dibunuh di tempat kediamannya,” katanya di Papua, Rabu (19/2).

“Kayus ditembak mati di dalam rumahnya. Mereka masuk ke dalam Kayus punya rumah dan tembak mati. Kayus kena tembakan di dada tembus ke jantung dan di tangan bagian tangan. Saat ini kami sedang duka. Apalagi Meky juga bernasin serupa: aparat masuk ke dalam rumah dan ditembak mati di dalam dia punya rumah,” jelasnya.

Pemuda anonim itu tidak berhenti memberi informasi yang coba disembunyikan negara. Dia tambahkan, baru-baru ini juga aparat mencoba membunuh dua mama: Heletina Sani dan Malopima Sani. Keduanya ditembak hingga mendapat luka serius yang nyaris menambah jumlah korban mati.

“Heletina kena luka tembak di tangan dan Malopina Sani kena luka tembak di kaki. Heletina adalah ibu kandung Meky Tipagau. Heletina sedang dirawat di kampung Yoparu. Sedangkan Malopina yang terkena luka tembak sudah dikirim pada hari ini ke Timika,” terangnya.

Kejadian berlangsung Minggu (16/2). Mula-mula aparat masuk ke kampung Yoparu saat tengah malam berlalu. Mereka kemudian melakukan penembakan kepada warga sipil dimulai sekitar 03.00 WIT dini hari menjelang subuh.

Mendapati peristiwa keji sekaligua duka itulah yang membuat Natalius Pigai–seperti biasa–angkat suara: mengkritik kekerasan negara. Dia ingatkan, baru saja Presiden Joko Widodo dipermalukan di Australia terkait pelanggaran HAM di Papua, demikian pula 79 negara berkulit Hitam di Afrika, Pasifik dan Karibia menegaskan Papua menjadi wilayah Pantauan mereka. “Belum lagi tekanan dunia termasuk NGO internasional yang perihatin atas kejahatan kemanusiaan di Papua,” tegasnya, dalam pers rilis yang diterima tim redaksi, Rabu (19/2).

Pigai menuturkan kekerasaan dan kejahatan yang dilakukan terhadap rakyat Papua telah diràncang secara sistematis untuk menghabiskan bangsa Papua Melanesia, Diaspora Afrika. Serangkaian pembunuhan dan pembantaian di Papua semakin membrutal pada era otonomi khusus.

“Itu artinya otonomi khusus tidak bisa menjadi solusi menyelesaikan persoalan Papua maka sangat wajar jika Indonesia dan rakyat Papua mencari jalan keluar melalui alternatif lain selain otonomi khusus,” katanya.

Dia menyampaikan otonomi khusus lahir melalui hasil negosiasi dan dilihat di dunia internasional. Resultante akhir dari otsus hanya terlihat sebagai etàlase kematian, kemiskinan, kebodohan.

“Saya melihat rakyat Papua makin terdidik dan sakit hati karena itu bukan tidak mungkin perlawanan seluruh rakyat Papua akan semakin menentang kejahatan,” tutupnya.

About (0) 1020 Articles
berat sama dipikul, ringan sama dijinjing

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*