Mulyana Dituntut 7 Tahun Akibat Korupsi, Tapi Dia Minta Hakim Lebih Adil

Jakarta, Patriot.id — Korupsi di negeri ini sudah bukan persoalan baru. Koruptor juga tidaklah asing di mata bangsa Indonesia. Itulah mengapa segala urusan negara berpotensi dikorupsi. Sifat korup memang telah menjadi budaya lembaga pemerintahan. Kredo yang kemudian terbentuk adalah: kalau nggak korup, kurang enak.

Geliat korupsi semacam menjadi bumbu pekerjaan. Jika tidak korup, maka kerja-kerja tak sedap. Demikianlah yang dilakukan Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Mulyana. Setelah meraup uang sebesar Rp 400 juta, ia resmi menerima gelar koruptor. Prestasi buruk, sekaligus prestise yang hina untuk seorang pejabat.

Meski sudah korup dana hibah–dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Mulyana merasa kurang ajeg atas putusan hakim. Makanya dia keberatan sekali atas tuntutan 7 tahun penjara yang didapatkannya. Nada keagamaan pun tersontak merdu dari kedua bibir merahnya. Tuhan kini telah diingatnya. Yang Maha Kuasa diharapkan membantunya atas musibah yang tengah dihadapinya. Seolah Sang Pencipta menciptkan hambanya untuk bertugas jadi koruptor.

“Saya mengucapkan innalillahi wainnailaihi rajiun, ini musibah buat saya. Saya sudah mencoba kooperatif, jujur, terbuka, kemudian apa yang saya mau sudah saya lakukan dan saya juga bukan pelaku utama,” kata Mulyana dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (15/8) lalu.

“Kedua, saya memang betul menerima hadiah, tetapi bagaimana dengan yang Rp 11 miliar, yang hanya Rp 400 juta saja saya,” lanjut dia.

Mulyana mengambil porsi yang baginya sedikit, namun tuntutannya dirasa berat. Lalu itulah yang membuatnya berharap–bukan lagi pada Tuhan tapi majelis hakim–untuk memberikan keadilan dalam menjatuhkan hukuman pada kasus itu. Hakim diharapkannya menampilkan sifat ketuhanan.

“Jadi saya mohon kepada yang mulia, apalagi saya mengusulkan JC ditolak tidak dikabulkan, tentu bagi saya ini musibah yang sangat besar. mohon kepada yang mulia untuk mempertimbangkan asas keadilan terkait masalah hukum saya. terima kasih, yang mulia,” ucap dia.

Mulyana dituntut 7 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan. JC ditolak. Tapi ini baginya musibah. Di mana sebelumnya dia diyakini jaksa bersalah: menerima suap dari eks Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy. Padahal ia juga disebut jaksa menerima Rp 400 juta dan mobil Fortuner serta handphone dari Ending Fuad Hamidy.

Pemberian suap Ini dan itu sesunggunya guna mempercepat proses pencairan dana hibah yang diajukan KONI ke Kemenpora. Mereka digiurkan oleh uang bermiliaran rupiah. Tetapi kejahatannya telah diungkap. Mulyana dihukum hukum lama. Sementara yang lain tidak terlalu berat, katanya.

Mungkin, karena tidak terima dituntut lama sendirian ini kemudian membuat Mulyana galau, sendu dan merana. Itulah kenapa ia sangsi atas putusan hakim. Dia sepertinya mau teman-temannya–sesama pelaku korupsi–mendapat ganjaran yang semenderita dengannya.

Mulyana ingini bukan hanya dia yang dituntut 7 tahun. Tetapi jika temannya lebih banyak mengkorupsi darinya, harus diberi tuntutan berat juga. Mungkin inilah artian mendalam dari lantunan Innalillahi darinya.

Mulyana ingin keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu, tak peduli harus dihukum berat. Tetapi bukan hanya dirinya yang diganjar tuntutan lama, melainkan rekannya yang lain juga. Itulah kenapa hakim mesti adil, karena kepedihan memang harus ditanggung bukan hanya satu orang tapi semua pelaku korupsi. Intinya, sama rasa! (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*