Orangtua Imran Kumis Mohon Presiden Memaafkan dan Membebaskan Anaknya

Mataram, Patriot.id  Inilah perjuangan dari Orangtua Imran Kumis, tersangka kasus penghinaan Jokowi. Pada Jum’at pagi (25/1), karena  menjadi penyandang disabilitas, ia dirinya merangkak di lantai hanya untuk menemui anaknya di balik jeruji besi Polres Kota Mataram.

Dia datang bersama kakak wanita Imran Kumis untuk menjenguk, membawakan pakaian untuk IS sekaligus mengajukan permohonan penangguhan penahanan demi mengurangi penderitaan anaknya.

Orangtua Imran Kumis a.n. Saidi sewalaupun sebagai penyandang disabilitas, hal itu tidak menyurutkan langkahnya meski mesti merangkak dan ngesot-ngesot dalam usaha bertemu dengan sang buah hati.

Imran Kumis yang menulis status facebook, “BODOHNYA ORANG ISLAM YG MILIH JOKOWI!!! DASAR MUNAFIK!!!!” Tulisan tersebut kemudian menjadi pemicu sebab penangkapannya oleh Polres Mataram. Sebab, kata-kata itu dinilai dapat mengundang kekacauan di suasan politik menjelang Pilpres 2019.

Saidi yang ditemui beberapa media berharap Presiden Jokowi memaafkan anaknya. Karena di rumah, dia hidup hanya bertiga sejak lama bercerai dengan istrinya.

“Mudah-mudahan pak Presiden bisa memaafkan dia. Ampuni dia. Saya sangat minta maaf, bebaskan dia,” ujar Saidi sambil menangis haru.

Saidi mengakui anaknya bersalah telah menulis status yang diduga berisi ujaran kebencian. Dengan segala kerendahan hati dia memohon agar Bapak Presiden Jokowi memberikan maaf kepada Imran Kumis.

Dikesempatan berbeda, pengacara Imran, Muhanan Gibest mengatakan kedatangan Orangtua dan pengacara untuk mengantar surat penangguhan penahanan pada Kapolres Mataram.

“Kita datang ke sini untuk mengantar surat penangguhan penahanan. Alasannya karena IS kita jamin tidak akan melarikan diri atau mengulang perbuatan serupa,” jelasnya di Kantor Polres Kota Mataram, Jum’at (25/01/2019).

Pengacara lainnya, Abdi Negara, meminta kebijaksaan polisi untuk menangguhkan penahanan. Dia mengatakan selain IS adalah korban gempa, unsur pasal 28 ayat (2) UU ITE belum terpenuhi.

Dia melanjutkan, unsur ujaran kebencian harusnya terpenuhi jika telah membuat kegaduhan atau permusuhan antar-anak bangsa.

“Tidak terpenuhi unsurnya karena tidak menimbulkan akibat dari status yang dibuat, yang mana terjadi suatu permusuhan antar golongan,” jelasnya. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*