Pembangunan Rp 5 Miliar Mangkrak; Polres Lotim Malah Mematung, Mahasiswa Minta Alasannya

Lotim, Patriot.id — Proyek Taman Rinjani Selong di Lombok Timur (Lotim) Nusa Tenggara Barat (NTB), telah memakan dana senilai Rp 5 miliar. Namun dalam pengerjaannya tidak sampai dituntaskan. Konon, kabar angin yang bereder: setelah kontrak diputus oleh pihak ke tiga, pembangunan kandas di tengah jalan.

“Sejak tahun 2017 Taman Selong mulai seperti ladang tak berpenghuni atau bahkan tak layak lagi dikatakan seperti taman pada umumnya. Posisi yang strategis seharusnya bisa memberi manfaat untuk masyarakat baik untuk rekreasi, berdagang dan lain sebagainya,” tulis Zaky Akbar dalam pers rilisnya yang diterima tim redaksi, Senin (17/06/2019) dini hari.

Bagi Zaky, sebelum Bupati Lombok Timur HM Ali Bin Dachlan berencana mengubah nama Taman Rinjani Selong menjadi Taman Sadir, di sana dulunya sangat ramai dikunjungi dan dipenuhi kekayaan hutan lindung yang merupakan lokasi kayu-kayu langka.

“Beberapa tahun sebelumnya, hingga kini manfaat itu terkikis, tak ada lagi taman selong yang luas nan indah seperti dulu,” cuat Zaky, yang kader HMI ini.

“Miris melihat kondisi taman selong saat ini setelah mangkrak beberapa tahun setelah gagal dikerjakan proyek revitalisasi. Dengan Anggaran 5 Miliar untuk pengerjaan taman pada tahun 2017 kemudian magkrak, pemerintah dianggap gagal dan harus intropeksi diri secepatnya walaupun sudah pergantian kepemimpinan saat ini,” sambungnya.

Akibat tidak diselesaikannya pembangunan Taman Rinjani Selon, gumam berkembang di kalangan rakyat. Desakan desakan terhadap kepolisian dilakukan. Namun Kasatreskrim Polres Lombok Timur AKP I Made Yogi Pusurama mengatakan pada media radarlombok.co.id, bahwa pihaknya belum berniat mengusut mangkraknya proyek tersebut. “Kita belum sampai ke arah sana,” ungkapnya, Sabtu (4/5).

Entah apa yang dipikirkan aparat kepolisian sampai acuh terhadap masalah pembangunan yang melenyapkan anggaran miliaran ini. Bergemingnya Polres Lotim mungkin membuat hukum kurang memiliki kesegaran. Tiap tindakan kejahatan hanya ketika ada pasalnya, itupun jika dapat ditafsirkan tepat. Kian rumit soal maka penegak hukum memilih mematung.

“Seharusnya aparat penegak hukum sudah sejak lama mengusut tuntas kegagalan proyek Taman Selong ini. Harus dibuka siapa yang menjadi dalang dari semua ini, apakah kontraktor? Apakah pejabat pembuat komitmen? Apakah kuasa pengguna anggaran? Atau pihak-pihak terkait lainnya. Sampai saat ini belum jelas penyebab dari mangraknya pengerjaan revitalisasi taman tersebut,” tekan Zaky, mahasiswa FH Unram.

Fenomena kealpaan Polres Lotim mencerminkan butanya aparat atas dunia di sekelilingnya: oknum pembuat mangkrak, rakyat yang menjadi korban, kerugian ekonomi yang menyertai dan kepercayaan publik. Latar sosial maupun pergulatan di baliknya tak mampu jadi landasan hidupnya pasal-pasal hukum. Terlebih jika para pengak hukumnya tak bisa dan enggan untuk terlibat.

Benak polisi bahkan jaksa, dalam melihat kejanggalan, seperti mengobservasi sebuah benda yang diletakan dalam bejana. Dingin, objektif dan tidak mau mendapat tekanan. Begitulah yang terluap pada fenomena abstainnya penegakkan hukum terhadap janggalnya pembangunan Rp 5 miliar itu.

“Hampir sudah kurang lebih 2 tahun masyarakat tidak bisa menikmati manfaat Taman Selong secara optimal seperti biasanya. Masyarakat tak tahu apa yang sedang terjadi dan aparat penegak hukum seperti kepolisian dan kejaksaan harus memberikan titik terang terkait kasus ini kepada masyarakat,” tegas Zaky, anggota Forum Mahasiswa Pengkaji Konstitusi FH Unram.

“Sebab masyarakat harus tahu mengapa uang 5 Miliar yang telah dianggarkan pada tahun 2017 tak cukup untuk revitalisasi taman selong. Ini adalah PR dan tanggung jawab untuk aparat penegak hukum kita,” sambung pengurus HMI Komfak Hukum Unram ini.

Kendati begitu, Zaky lebih-lebih berharap banyak pada Pemda Lotim. Tentunya sebagai bentuk sikap kenegarawanannya, dalam masalah pembangunan itu, Bupati Lotim mesti mengambil sikap dan melakukan tindakan yang produktif.

“Meskipun saat ini sudah berganti kepemimpinan dikabupaten lombok timur, harapannya untuk pemerintah saat ini sembari menunggu tahap lanjutan atas magkraknya proyek taman selong tersebut, agar untuk sementara segera melakukan pemeliharaan terhadap taman selong. Sehingga dapat mengurangi sorotan dan perhatian negatif terhadap kasus magkrak taman selong,” pintanya.

“Di sisi lain, saya menghargai adanya niat baik dari pemerintah saat ini yang akan melakukan revitalisasi lanjutan terhadap Taman Selong. Dan (semoga saja) secepatnya (taman itu) dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Lombom Timur seperti sebelumnya,” pungkasnya. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*