Pemira Unram 2019 dan Dominasi Penuh Muslihat Tangan Tak Terlihat

Oleh: Rendi (Mahasiswa Prodi HI Unram)

Patriot.id — Pemira (Pemilu Raya) Mahasiswa Universitas Matatam (Unram) 2019 yang berlangsung pada Kamis 03 Desember 2019, dalam pelaksanaannya memang terjadi ketegangan. Betapa tidak, saat momen-momen pencoblosan di TPS Fakultas Hukum (FH) Unram terjadi keributan hingga mengakibatkan dihentikannya pemungutan suara.

Jika disimak dengan seksama, peristiwa itu merupakan benturan kepentingan para tim pemenangan paslon nomor 1 (Zaki – Hudian) vis a vis paslon nomor 2 (Amri – Mandele). Pasalnya, akibat ekspansi tim sukses (timses) kandidat Ketua BEM dari Fakultas Teknik (FT) yang cenderung provokatif telah membuat pemungutan di FH Unram dibekukan total.

Dari hasil investigasi, pemilihan di TPS FH Unram seharusnya berlangsung dengan lancar. Namun, ketika memasuki sore hari, segerombolan mahasiswa FT Unram datang membanjiri dan brrdiaspora di setiap sudut FH Unram dengan jumlah massa sekitaran 30 atau 40-an orang. Hal itu pun memicu terjadinya bentrok yang tak dapat dihindarkan.

Sejarah kini telah berulang kembali. Catatan kelam keributan kedua fakultas tersebut setelah terjadi pada tahun 2012-2013 lalu, akhirnya muncul lagi di Januari 2019 ini. Parahnya, selain dari pertautan kepentingan di kedua fakultas, seolah luka historis juga ikut dimainkan oleh segelintir orang yang tidak bertanggung jawab.

Betapa tidak, berdasarkan penelusuran di lapangan, mahasiswa FT Unram datang ke FH Unram pada pagi hari hanya berjumlah 5 orang (timses paslon nomor 2), dan setelah berbicara dengan satpam agar mahasiswa di setiap fakultas saling menjaga etika politik ketika berlangsungnya Pemira, akhirnya mereka secara baik-baik bersedia angkag kaki dari FH Unram agar tidak menimbulkan persepsi dan stigma yang mengakibatkan konflik.

Usut demi usut, pada sore harinya ternyata kejadian pagi itu berimplikasi pada kedatangan pasukan mahasiswa FT yang seolah-olah mengepung wilayah geografis FH Unram. Dari informasi yang diperoleh ada yang berada di; kantin FH Unram, lorong FH, meja bundar G. Timur FH, Parkiran G. Timur FH, gerbang G. Timur FH, meja kotak panjang G. Timur FH.

Dus, hal itulah yang menyebabkan 3 orang mahasiswa FH mendatangi beberapa orang mahasiswa FT untuk berbicara baik-baik demi meminta mereka pulang agar dapat saling menghargai; di saat mahasiswa FH tidak ada yang mencoba ekspansi di FT. Maka, FT pun seharusnya menghargai itu. Yang semua itu dilakukan untuk mencegah momok masa lalu kedua fakultas yang pernah bentrok.

Namun upaya itu tak kunjung berhasil. Malah mahasiswa FT dengan massanya yang berjumlah puluhan, berkumpul dan memukul duluan mahasiswa FH sehingga mengakibatkan perlawanan dari mahasiswa-mahasiswa FH lainnya. Ketika ini, salinh serang pun tak dapat dihindarkan.

Memperhatikan peristiwa na’as itu, yang terproyeksi dalam pikiran kita adalah terjadinya suatu intervensi mahasiswa FT terhadap FH dalam Pemira Mahasiswa Unram 2019. Dan hal ini seakan menjadi prolog yang menjelaskan tentang rentetan kejadian yang mengikutinya, seperti: dibatalkannya pemungutan suara di TPS FH, hilangnya Ketua KPRM (serta dicapnya Ketua DPM sebagai wanted), hingga berekses pada mandegnya penghitungan suara.

Tulisan ini sebenarnya termotivasi dari opini Hairul F., yang berjudul “Keributan Pemira Ketua dan Sekjen BEM Unram”. Ia, begitu pandai menarasikan polemik di pemira tersebut, yang kemudian menjadi rentetan baru dalam menggiring persepsi publik untuk menyudutkan beberapa pihak dalam Pemira Mahasiswa Unram 2019.

Harus diakui keributan di pemira kali ini telah membuat resah mahasiswa Unram. Pasalnya, isu-isu yang dipasang begitu sensitif akan terjadinya konflik berkepanjangan. Paling banter, dalam isu tersebut telah menyangkal beberapa realitas dan kemungkinan mengubah fakta saling terkait satu dengan yang lain. Berdasarkan perspektif Haryatmoko, dalam bukunya ” Dominasi Penuh Muslihat”, hal-hal itu berasal dari sumber yang sama yaitu imajinasi. Sebab setiap orang atau kelompok bisa mengubah dunia dengan memasukan sesuatu yang baru. Kemampuan ini membuka peluang untuk berbohong.

Kebohongan biasanya jarang yang bertentangan dengan rasio. Karena alur bohong dibuat logis. Bahkan kebohongan lebih menggoda akal budi kita daripada realitas. Mereka yang melakukan kebohongan memiliki keuntungan sebab mengetahui lebih dulu apa yang ingin didengar atau diharapkan oleh publik. Jadi versinya disiapkan dan disuaikan dengan apa yang diinginkan publik. Dalam belum dilakukannya penghitungan suara di Pemira, disebabkan oleh menghilangnya KPRM. Karenanya dapat disimpulkan, bahwa tidak ada inefisensi waktu tersebut tidak ada kaitannya dengan gempuran mahasiswa FT Unram ke FH (bentrokan). Padahal semua orang tahu, yang pertama kali melakukan intervensi pelaksanaan pemira sehingga berakibat pada hilangnya Ketua KPRM dan penghitunhan suara menjadi lama disebabkan oleh bentrokan di FH (timses paslon nomor 2, dari FH Unram berekspansi ke FH Unram).

Apabila kita buka buku “Peranh Asimetris”, karya M. Arief Pranoto dan Hendrajit, kita dapat melakukan tinjaun komparatif dengan menghilangnya Ketua KPRM. Jika menggunakan berdasarkan sekelumit pemikaran dalam buku tersebut, bahwa hari ini di Unram telah ada beberapa pihak yang mencoba menggunakan politik asimetris, yang spekturum sasarannya lebih luas (itulah yang menyebabkan kenapa Ketua DPM, WR III, sampai ke Rektor Unram ikut terkait dalam polemik yang diopinikan tersebut–Keributan Pemira Ketua dan Sekjen BEM Unram).

Dalam usahanya menggunakan gempuran asimetris, telah terlihat jelas apa yang dimaksud oleh Hendrajit, bahwa dalam mengkondisikan keadaan untuk menggolkan kepentingan suatu kelompok harus memiliki 3 unsur, yaitu: Isu, Tema dan Skema (ITS). Mencermati dinamika politik mahasiswa Unram hari ini, ITS sebagai pendorong perpolitikan asimetris telah terlihat secara nyata. Pertama, isu-nya adalah persaingan FT dan FH (membangkitkan kembali ingatan sejarah kelam kedua fakultas tersebut). Kedua, tema-nya adalah ekspansi mahasiswa FT Unram ke FH Unram hingga berujung bentrok. Dan ketiga, skema-nya adalah menghilannya ketua KPRM hingga pemungutan suara ditunda, sehingga berekses negatif bahkan dapat menekan citra Ketua DPM, WR III dan Rektor.

Lalu tidak menutup kemungkinan pada pelaksanaan Pemira Unram 2019 oleh karena adanya ITS itu telah memberikan keleluasaan kepada segelintir tangan-tangan kuasa yang tak terlihat untuk terus menghegemoni keadaan (termasuk menekan Ketua KPRM, dan mereduksi kekuatan dan citra unsur-unsur lainnya).

 

Sehingga rentetan-rentetan kejadian yang sengaja diplot itu akhirnya pun menandakan bahwa suksesi kepemimpinan BEM Unram 2019 menjadi sangat ironis. Dari awal pemilihan sampai pemungutan suara, rentetan konflik yang terjadi telah diatur dan disamarkan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Bahkan, ITS yang digunakan telah menimbulkan korban jiwa dengan strategi devide et impera. Berhasil menekan dan menjatuhkan berbagai pihak, termasuk birokrasi Unram sendiri.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*