Penguatan Pendidikan Karakter (dalam Ruang Lingkup Keluarga)

Oleh: Ayuni Johan (Mahasiswi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Univesitas Muhammadiyah Mataram)

Pendidikan pada zaman sekarang bukan hanya dipandang pada jumlah peserta didik yang semakin bertambah kuantitas peserta didik, melainkan juga melihat pada kualitas kompetensi yang dimiliki para peserta didik dan lulusannya, tidak hanya dari nilai akademik saja melainkan juga pada prestasi non akademik termasuk sikap dan perilaku peserta didik yang baik dan berkarakter mulia.

Pendidikan merupakan kunci dalam membentuk karakter anak sejak dini, karena hakikat pendidikan tidak hanya sebatas transfer of knowledge akan tetapi juga transfer of values, semua itu dilakukan untuk membangun karakter anak bangsa berkepribadian mulia serta menanggulangi kenakalan remaja dari berbagai penyimpangan social. Karakter atau akhlak mulia harus dibangun, sedangkan membangun akhlak mulia membutuhkan saranan yang salah satunya jalur pendidikan. Pendidikan dilakukan dimana saja, tidak hanya disekolah atau madrasah, akan tetapi juga di rumah (keluarga), maupun dimasyarakat.

Pendidikan Karakter merupakan proses untuk mengembangkan pada diri setiap peserta didik kesadaran sebagai warga bangsa yang bermartabat, merdeka, berdaulat, berkemauan untuk menjaga dan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan.

Jika disoroti dari pendidikan karakter dari lingkungan keluarga memiliki peranan yang sangat penting, sehingga pandangan karakter yang dilakukan di keluarga anak sangat ditentukan karakter dan akhlaknya bilamana di didik dan dibesarkan di lingkungan keluarganya,
Keluarga merupakan forum pendidikan pertama dan utama dalam sejarah hidup seorang anak, anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan keluarga dibandingkan gurunya, dan disekolah para gurunya akan berubah setiap tahun. Tetapi diluar sekolah anak-anak dibimbing dan membesarkan mereka oleh orang tua yang sama selama bertahun-tahun.

Anak diibaratkan sebagai kertas putih, yang menentukan kertas tersebut tetap putih atau tidak, salah satunya adalah orang tuanya. Dikutip dari pendapat (Dimerman) menyatakan bahwa keluarga adalah sekolah pertama kebajikan dalam keluarga kita belajar tentang cinta, komitmen, pengorbanan, dan meyakini sesuatu yang lebih besar dari pada diri kita sendiri.

Keluarga adalah pelekat dasar pendidikan moral. Seiring dengan beberapa pendapat ahli yang menyatakan bahwa keluarga merupakan peletak dasar pendidikan karakter. Oleh karena itu, mengingat pendidikan karketer mengalami proses paling lama dalam keluarga.
Peran keluarga (Orang Tua) dalam membentuk karakter anak memilik factor yang penting dan penentu bagi perkembangan anak baik fisik maupun mentalnya. Terutama peran seorang ibu, karena ibu adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anak yang dilahirkan sampai dia dewasa. Dalam pandangan islam ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya (Al-ummu Madrasah Al-ula ).

Dalam proses pembentukan pengetahuan, melalui berbagai pola asuh yang disampaikan oleh seorang ibu sebagai pendidik pertama sangatlah penting, sehingga pendidikan dalam lingkungan kelurga sangat berperan penting dalam mengembangkan watak, kepribadian nilai-nilai, budaya, nilai keagamaan dan moral.

Dalam perspektif Islam, pendidikan anak dimulai saat bayi masih dalam kandungan ibu, dengan cara memberikan makanan yang halal, komunikasi, mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran, music klasik, yang dapat membantu perkembangan otak anak. Ada anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah usia sekolah dasar, ternyata tidak benar. Bahkan pendidikan yang dimulai usia taman kanak-kanakpun sebenarnya sudah terlambat. Menurut hasil penelitian di Bidang Neurologi seperti yang dilakukan oleh Dr. Benyamin S. Bloom, seorang ahli pendidikan dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0-4 tahun mencapai 50% (Cropley,1994). Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka segala tumbuh kembang anak baik fisik maupun mental tidak akan berkembang secara optimal.

Mendidik anak dengan perbanyak berkomunikasi. Baik komunikasi dalam bentuk bercerita, mendengarkan, berempati maupun komunikasi dalam memberikan perlakuan yang bersifat untuk menirukan ketelatadanan orang tua kepadanya anak. Komunikasi yang tepat memudahkan anak ataupun orang tua untuk menyampaikan apa yang ia rasakan dan yang diketahui. Dengan komunikasi orang tua dapat mengenal setiap anaknya sebagai pribadi yang unik dan dapat menjalin hubungan yang akrab

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk membentuk watak dan kepribadian anak yang baik, antara lain adalah :
1) Mengenalkan Allah SWT sejak dini, pengenalan kepada Allah SWT. Pada saat kelahiran bayi disunnahkan untu segera mengadzankan bayi ditelinga kanan dan mengiqomatkan bayi ditelinga kiri, upaya ini mempengaruhi penanaman dasar aqidah dan iman bagi anak.

2) Menjauhkan kata-kata tidak baik dihadapan anak.
Biasakan anak untuk jujur. Berhati-hati terhadap kata-kata yang kita ajarkan dn ucapkan, jangan sampai di dalamnya terdapat benih-benih kebohongan. Orang tua adalah teladan bagi anak-anaknya.

3) Beri contoh dalam menjaga amanah. Anak adalah seorang peniru maka orang tua berkewajiban memberi contoh yang baik. Ajaklah anak sholat tepat waktu, ketika umurnya tujuh tahun saat itu dia melalaikan sholatnya maka pukul dia, hal ini dikarenakan untuk mengajari dia dalam menjaga amanah atau belajar tanggung jawab.

4) Luangkan waktu untuk bermain bersama anak, mendengar keluh kesahnya sehingga anak aan merasa lega dengan berkurangnya beban yang ada di hatinya.

5) Ajaklah anak untuk mengambil setiap ilmu dimana saja dia berada. Sediakan bacaan yang bermutu bagi anak di rumah, kondisikikan agar dia mau dan senang membaca.

Pembentukan karakter anak itu tidak bisa dilakukan oleh sekolah tanpa kerjasama dari keluarga. Orang tua mendidik karakter melalui pengasuhan yang baik, mencontohkan perilaku dan pembiasaan, pemberian penjelasan atas tindakan, penerapan standar yang tinggi dan realitas bagi anak, dan melibatkan anak dalam pengambilan keputusan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*