Peradaban yang Maju; Generasinya Unggul, Moral dan Intelektualnya

Patriot.id — Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa para pahlawannya. Dalam bahasa umum yg serinng kita dengar: Jangan sekali-kali melupakan sejarah (JAS MERAH).

Istilah ini muncul manakala setiap orang ingin berkontemplasi masa sekarang dengan masa lalu. Terlepas dari kepentingan masing-masing pihak dengan istilah Jasmerah, bagi saya dalam tulisan ini yang ingin saya maknai adalah: kaitannya dalam rangka memperingati Hari Ulangtahun Kemerdekaan Indonesia ke 74.

Pertanyaan dasar yang ingin saya sampaikan, apa yang perlu kita ingat dari sejarah perjuangan kemerdekaan negara bangsa dengan sebutan Indonesia ? Agar objektif saya membaginya dalam beberapa kriteria, secara filosofis, historis dan sosiologis.

PERTAMA secara filosofis bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia telah mencantumkan nilai-nilai dasar negara bangsa yang tertuang di alenia ke IV pada pembukaan UUD 1945; …yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini wujud nyatanya menjadi dasar negara yang kita kenal dengan PANCASILA. Sebagai nilai dasar tidak bisa dirubah atau diganti dengan nilai-nilai dasar lainnya. Artinya jika kita masih mengakui kita Orang Indonesia, maka saat kita “bicara tentang Bangsa dan Negara Indonesia, filter pikiran kita harus merujuk nilai-nilai Pancasila”.

Implementasi nilai-nilai Pancasila secara operasional dalam proses politik kebangsaan dan bernegara sudah dibuat menjadi ketentuan NORMA HUKUM di UUD 1945. Oleh karenanya Indonesia disebut sebagai negara hukum. Dengan demikian setiap pihak yang mengaku Orang Indonesia harus mau mempelajari dan patuh atau tunduk dengan konstitusi Indonesia. Karena UUD 1945 yang dalam pembukaannya menjadikan Pancasila sebagai dasar negara untuk tetap tegaknya NKRI ; sebagai “pandangan hidup kebangsaan” yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia ; sebagai idiologi negara bangsa yang memberikan arah hidup berbangsa dan bernegara. Ketiga konsep yang saya tegaskan ini adalah konsep berpikir kebangsaan secara filisofis yang menuntun kita agar tidak lupa sejarah bahwa Pancasila dasar negara ini saat diproklamirkan sebagai negara bangsa Indonesia.

KEDUA secara historis yang harus kita maknai bahwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia sudah dimulai sejak pergerakan semangat kebangsaan yang terakumulasi dalam kebangkitan nasional pada tahun 1908, yang kemudian berlanjut dengan sumpah pemuda 28 Oktober 1928, dan titik puncak perjuangan menjadi satu bangsa yaitu proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Pokok pikiran sebagai kata kunci historis bahwa “kemerdekaan Indonesia hasil pengorbanan jiwa dan raga dari darah para pejuang bangsa bukan pemberian penjajah”. Artinya bahwa dalam mengisi kemerdekaan ini kita harus menghargai nilai perjuangan merebut kemerdekaan NKRI, sehingga kita tetap meneruskan semangat perjuangannya sesuai tujuan berbangsa yaitu untuk melindungi seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut menjaga ketertiban dunia. Inilah perjuangan kita pasca kemerdekaan.
Pertanyaannya adalah, konsistenkah kita dalam implementasi tujuan berbangsa dan bernegara tersebut ? Mari kita uji dalam pertanyaan dasar, apakah kita sudah ikhlas menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan ? Karena semua bentuk kesenjangan terjadi diakibatkan adanya ketimpangan sosial. Demikian juga bahwa kemajuan peradaban bangsa akan sangat ditentukan oleh kemajuan intelektualitas generasi mudanya. Sebab hakekat pendidikan hasilnya 20 tahun ke depan sebagai fase pancaroba manusia sebagai bagian dari bangsa.

Hal itu terlihat dari proses pejuangan bangsa dari mulai pergerakan 1908 ke 1928 dan sampai tahun 1945. Seharusnya kita mau belajar bagaimana untuk mencerdaskan bangsa. Apa yang terjadi saat ini (belum optimalnya kesadaran akan jatidiri bangsa) karena kita tidak konsisten dengan karakter bangsa sejak reformasi 1998. Konkretnya kita lengah terhadap nilai juang untuk menjaga jatidiri bangsa dan lebih konyol atau tidak sadar kita merusak sendi-sendi perjuangan para pendiri bangsa. Kita lupa bahwa nikmat kemerdekaan yang kita rasakan saat ini adalah hasil dari perjuangan pahlawan bangsa. Harusnya kita malu dan merasa bersalah karena masih ada di antara kita yang tidak menghargai jerih payah perjuangan leluhur kita.

Kalau kita renungkan benar apa yg dikatakan Mochtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia; “kita kadang jadi bangsa Pelupa”. Konkretnya lupa diri.

KETIGA secara sosiologis bahwa sejarah berdirinya bangsa Indonesia bukan perjuangan individu, kelompok atau golongan tetapi hasil konsep ke gotong-royongan dengan jiwa persatuan dan persatuan yang berpedoman semangat senasib sepenanggungan dalam suka dan duka memperjuangkan kemerdekaan.
Saat perjuangan para leluhur kita tidak pernah risih dengan perbedaan baik suku, agama dan ras tetapi Bhineka Tunggal Ika untuk NKRI. Inilah konsepsi sosiologis para pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia. Pertanyaan dasar, sanggupkah kita menjaga nilai kebhinekaan ? Tentu harus, karena itulah kekuatan atau modal memahami persatuan Indonesia. Yang ingin saya katakan, janganlah kita berorasi persatuan tetapi sikap dan perilaku kita masih belum sanggup menerima keberagaman dalam bingkai NKRI.

Pandangan saya sebagai penutup , sesuai bunyi pembukaan UUD 1945 bahwa Indonesia merdeka adalah berkat Rahmat Allah Tuhan Yang Mahakuasa serta didorong keiinginan yang luhur. Artinya kita harus mensyukuri nikmat kemerdekaan Indonesia, jangan kita menghianati perjanjian luhur tersebut. Tugas nyata kita adalah mengisi kemerdekaan sesuai dengan talenta atau karunia yang kita miliki masing-masing. Meskipun kita berbeda diperlukan kebersamaan dalam pembangunan nasional.

Kemajuan peradaban satu bangsa ditentukan kematangan berfikir (kapasitas intelektual) generasinya.
Untuk itu sesuai tema HUT RI Ke 74 : kita songsong SDM UNGGUL INDONESIA MAJU. Merdeka !!! Salam Pancasila.

Penulis: Bangun Sitohang, MPN Pemuda Pancasila Bid. Idiologi, Politik dan Pemerintahan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*