Pesan Mohon Bantuan untuk Muhlis Viral di Medsos

Bima — Pesan itu dibuka dengan salam: ‘Assalamualaikum Wr… Wb….’ Entah siapa yang menulisnya, yang jelas tanpa tertanda tangan atau nama penanggung jawab. Hanya saja dia tersuntuh untuk menuliskan surat terbuka dengan tutur yang amat santun, begitu hangat, dan terkesan akrab.

“Selamat pagi, mohon izin sebelumnya. Ada keluarga kita di kampung [Desa Muku, Kec. Bolo, Kab. Bima, NTB–red], sedang berjuang menghadapi penyakit besar,” dikutip tim redaksi dari salah satu grup WhatsApp, Senin (10/8) malam.

Koresponden anonim itu memberitahu terkait penderita penyakit: namanya Muhlis; umurnya 23 tahun; penyakitnya paraplegia dan decubitus; dan terserang sakit sejak bulan Agustus 2019.

Setelah dihubungi tim redaksi, pihak kekuarga terbuka menjawab lalu membenarkan penyakit yang sedang dialami Muhlis. Kronologisnya amat ironis. Mula-mula anak muda itu jatuh dari pohon saat berkebun. Badannya yang kurus krempeng kontan rasakan kesakitan.

Sakit yang dirasakan bukan sekedar tergores, memar, atau lebam. Karena sakitnya membuat badannya susah tegak tapi mudah melempem. Setelah diraba ternyata insiden jatuh dari pohon mengakibatkan luka parah. Tulang pingganngya patah.

Muhlis kemudian dibawa ke rumah sakit: RS Kabupaten Bima. Tapi institusi kesehatan ini justru angkat tangan: tidak mengobati, merawat, apalagi menyembuh totalkan lukanya. Maka korban lalu dilarikan ke RSUP  Mataram.

Di rumah sakit provinsi itulah Muhlis dioperasi tulangnya yang patah. Setelah menjalani operasi dia diminta untuk berada di kamar pengobatan hingga pulih. Pasien lantas dirawat kurang-lebih satu bulan lamanya. Hanya saja dalam kurun pemulihan korban kembali alami sakit lainnya: dirinya kena infeksi berbahaya.

Infeksi itu akibatkan bagian pantat hingga kelaminnya membesar tak karuan. Pembengkakan bokong dan kontol inilah yang kemudian menyebabkannya derita kelumpuhan. Pengobatan penyakit Muhlis ibarat kata: gali lubang, tutup lubang. Walhasil, akibat tak mampu bayar ongkos berobat maka dirinya kemudian seakan ditendang.

“Karena kehabisan biaya, pasien terpaksa dipulangkan di rumahnya (Bima, Sila Muku) dan dirawat seadanya,” jelas penulis anonim tadi.

Dijelaskannya bahwa Muhlis adalah anak golongan penduduk yang berasal dari keluarganya kurang mampu. Itulah mengapa dia tidak saja bermasalah dengan kesehatannya tapi juga keungannya yang seumpama bunga tapi sedang layu.

Dari hasil pembicaraan dengan salah satu keluarga Muhlis. Dikatakan tanpa tendeng aling-aling: perekonomian keluarganya memang tidak cukup untuk mengurus sakit korban sampai tuntas. Maka ketika didepak dari ranjang rawat. Pihak rumah sakit seolah sampaikan: orang miskin tak boleh sehat, bahkan orang miskin juga dilarang sakit.

Dalam keadaan fisik dan kondisi ekonomi seperti itu Muhlis pasti membutuhkan uluran tangan bukan hanya dari tetangga dekat rumah. Tapi terutama, pemegang kantong anggaran: pemerintah daerah, terkhusus dinas kesehatan.

Bantuan kiranya tidak hanya diminta dari pejabat, melainkan pula mahasiswa. Termasuk pada paguyuban mahasiswa Bima, terutama ‘yang Sila’–entah apa namanya. Karena melalui kerja gerakan merekalah Muhlis menaruh harap untuk dibantu: baik dengan galang dana di medsos maupun jalan raya, bahkan menyeret datangnya uluran tangan penguasa.

“Muhlis benar-benar membutuhkan perawatan segera. Mohon bantuan dan ringankan tangan untuk membantu saudara kita,” perilis tulisan yang misterius tadi.

Kini di rumah sederhana nan kecilnya, Muhlis hanya bisa; terbujur kaku, bersitegang dengan penyakit, sampai kulit-kulitnya nampak mengernyit–hingga semakin terkulai dengan cairan dengkul dan penis yang surplus tapi badannya kurus. Inilah yang memang biasa terjadi pada penderita praplegia dan decubitus.

Paraplegia kata dokter, adalah penurunan motorik atau fungsi sensorik dari gerak tubuh. Penurunan itu menyebabkan hilangnya rasa atau fungsi di ekstremitas (badan bagian) bawah. Paraplegia juga dapat berkontribusi untuk sejumlah komplikasi medis termasuk decubitus: matinya jaringa darah di sekujur kulit; dari tulang kaki hingga wajah.

Biasanya decubitus menimpah orang tua saja. Seperti yang seumuran dengan Gubernur NTB atau Bupati Bima. Hanya saja kini penyakit itu dialami anak muda belia. Penyebabnya–dalam bahasa medis–adalah hasil komplikasi dari Paraplegia. Sebab ini tidak ditemukan pada kamus sosio-ekonomi. Karena kamus ini lagi-lagi akan mengatakan: masalahnya bukan virus tapi kondisi sehari-hari terkait baik-buruknya kesejahteraan hidupnya, hingga ketersediaan uang untuk ongkos RS supaya dokternya enggan setengah-setengah dalam mengobati. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*