Pilkada Tangsel dan Kerajaan Boneka

Oleh : Rudy Gani, Founder Tangsel Institute

Patriot.id – Meski pelaksanaan Pilkada Desember 2020 masih enam bulan lagi. Para kandidat sudah mulai grasak grusuk sejak pertengahan tahun lalu.

Karena berdasarkan Peraturan KPU No 1 Tahun 2020 tentang pemilihan gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, walikota/wakil walikota, pasangan yang diusung oleh partai politik atau gabungan partai politik harus mendapatkan surat pernyataan dukungan.

Ada yang sudah merasa aman. Ada pula yang masih deg-degan karena belum mendapat kejelasan atas surat rekomendasi dari partai pengusungnya.

Meski sempat terhenti, pilkada akhirnya tetap diselenggarakan tahun ini setelah Kemendagri memberikan keputusan. Tangsel yang juga kebagian Pilkada sangat menarik perhatian.

Airin tidak bisa maju lagi secara konstitusi

Partai Golkar dimana Airin sebagai ketuanya merekomendasikan Benyamin Davnie dan Pilar Saga Ichsan sebagai walikota dan wakil walikota tangsel. Benyamin sendiri adalah pasangan Airin selama 10 tahun kebelakang sebagai wakilnya.

Loyalitas Benyamin pada Airin tidak dapat lagi disangsikan. Pada tahun 2013 silam dimana Airin tertimpa kasus sang suami, Benyamin tetap setia meski godaan politik cukup liar menjungkalkan Airin saat itu.

Namun langkah itu tidak dilakukan Benyamin. Kesetiaan Benyamin pada Airin dan keluarga berbuah manis.

Pilkada Tangsel 2020 ini Airin dan keluarga sang suami mengganjar Benyamin dengan dukungan full partai serta jaringan keluarga. Ketika berbicara Benyamin Davnie, masyarakat tentu sudah mengetahui rekam jejaknya.

Mulai dari dirinya masih menjadi aktivis KNPI,  hingga jam terbangnya sebagai birokrat, lalu pernah juga mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Banten, sampai Benyamin berlabuh dan mengundi nasib sebagai Walikota Tangsel pengganti mantan pimpinannya, Airin pada pilkada 2020 ini.

Sedangkan Pilar adalah anak dari Ratu Tatu, Bupati Serang yang juga adik dari Ratu Atut Choisiyah, mantan Gubernur Banten.

Dari penelitian yang penulis lakukan, hanya sedikit informasi yang bisa dibaca tentang Pilar.

Pria kelahiran tahun 1991 ini merupakan arsitek yang kini bergelut di dunia profesional. Di dunia professional sendiri prestasi Pilar biasa saja.

Hanya disebutkan bahwa profesinya sebagai arsitek memiliki klien tingkat nasional dan perusahaan multi nasional. Dari jejak digitalnya, Pilar sebagai anak muda tampak sama dengan anak muda lainnya.

Secara prestasi ataupun kelebihan lainnya belum ada yang menonjol. Dalam konteks keterkenalan pun juga sama.

Beberapa kali penulis melakukan riset kecil-kecilan pada masyarakat Tangsel. Dari riset itu diketahui bahwa banyak yang belum mengenal sosok alumni Universitas Parahyangan ini walaupun billboard nya ada dimana-mana.

Singkatnya, Pilar tidak banyak dikenal masyarakat Tangsel. Lucunya lagi, berdasar pengakuan dari masyarakat mereka tidak ingin mengenal siapa Pilar yang dipilih Airin sebagai calon penerus kepemimpinannya.

Diilhat dari kontribusinya ke Tangsel, Pilar tidak memiliki satu rekam jejak pun yang berkaitan erat dengan hajat hidup masyarakat Tangsel, baik secara individu, organisasi maupun komunitas.

Menurut media yang memuat profilnya, Pilar tercatat hanya ada dibeberapa organisasi seperti Karang Taruna, pengurus klub sepakbola Perserang, AMPG dan Mahasiswa Pancasila sebagai Bendum.

Itupun tidak diketahui pasti apakah Pilar aktif dalam organisasi tersebut atau hanya pengurus yang bersifat pasif.

Sejak Kota Tangsel berdiri tahun 2008, nama Pilar serta kontribusi konkretnya bagi warga nyaris tak pernah terdengar.

Melihat fakta diatas, sangat disayangkan apabila kota Tangsel dipimpin oleh mereka yang tidak dikenal rekam jejaknya serta memiliki akar kuat di kota ini.

Tangsel bukan kos-kosan atau tempat mencari makan. Kenyamanan serta kehadiran pemerintahnya yang mengakar kuat sangat dirindukan.

Tangsel butuh pemimpin yang mengerti Tangsel. Bukan pasangan pemimpin karbitan yang dipaksakan maju sebagai bagian dari oligarki keluarga tertentu.

Pilar memang tidak salah. Bahkan secara konstitusi tidak ada pelanggaran yang dilakukan.

Hanya saja kita perlu mengkritik langkah yang dibuat oleh kelompok-kelompok yang mendukung Pilar hanya untuk menjaga oligarki dan kongkalikong proyek yang selama beberapa tahun kebelakang ini mereka nikmati.

Atau dalam bahasa lainnya, Pilar boleh muda, tetapi dibaliknya ada gerbong “tua” yang memegang saham mayoritas.

Itu artinya, pimpinan boleh berganti kepada Benyamin dan Pilar jika mereka memenangkan pilkada Tangsel nantinya.

Tapi jangan harap ada perubahan dan penyegaran gaya kepemimpinan.

Sebab, dengan adanya paparan diatas, masyarakat Tangsel sudah dapat menyimpulkan bahwa hanya  wayangnya saja yang berganti orang, tetapi dalang dan ceritanya akan sama dan bahkan bisa lebih “bobrok” dibanding sebelumnya. Tangsel bukan istana boneka??

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*