Politik Dianjurkan oleh Agama: Cuitan Negatif Tentang 212 Bukti Generasi Buta Agama

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ijinkan saya untuk sedikit menstimulus pemikiran saya lewat tulisan sederhana ini, semoga bisa menjadi pembuka wawasan berpikir kita bersama. Saya juga tidak menutup diri akan masukan dan saran dari abang-abang saya yang seiman, senegara, sekultur dan seidiologi.

Oleh: Kharismafullah

Patriot.id — Gerakan dengan simbol 212 kembali menggelora, membangkitkan semangat seluruh elemen dan lapisan masyarakat. Semangat yang mempersatukan umat islam dalam visi menjaga stabilitas negara serta menjadi pesan halus bagi negara-negara yang ingin mengganggu dan menginfasi bangsa dan negara kesatuan republik indonesia.

Kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Cahaya Purnama alias ‘Ahok’ telah meledakkan kembali ingatan sejarah masa lampau, teriakan Allahuakbar Bung Tomo membangkitkan rakyat indonesia khusus umat Islam untuk melinggis Inggris yang ingin mencabik-cabik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ingatan itu diaktifkan kembali, ketika laporan penistaan diperlambat proses hukumnya. Teriakan ‘allahuakbar’ menggema diseluruh penjuru negeri. Kode bagi pihak berwajib untuk segera menindas sang penista. Waktu berjalan, umat semakin marah, kepolisian adem ayem. Menyatulah teriakan ‘allahuakbar’ dengan simbol 411. Umat dibawah komandi sang Habib Reziq Syihab mendorong negara dalam hal ini polisi untuk segera ambil sikap, sebab ummat tidak bisa ditahan. 411 masih dianggap biasa, ummat marah, 212 menjadi sejarah dan menegaskan bagaimana cintanya ummat islam dengan bangsa ini. Tujuh juta manusia menggelar aksi meminta presiden jokowi untuk mengingatkan kepolisian agar cepat menangkap penista. Ujung cerita Ahok sang penistapun tertangkap dan dijatuhi hukuman. Itulah sejarah lahirnya gerakan kolektif 212.

Romantisme 212 tetap melekat dalam jiwa dan ingatan, hingga tiap tahun akan selalu diadakan. Tepat 2 desember 2018, gerakan 212 yang mengambil momen maulid kembali bergulir, aroma penghadangan serta penggiringan opini terus tercium, media-media menampilkan opini busuk yang tidak dipercayai ummat, usaha untuk meyakinkan ummatpun sebulan sebelum acara terus dilancarkan. Hingga tuduhan separatis dengan melabelkan gerakan 212 merupakan gerakan politik. Jebakan demi jebakan terus dimanikan, demi gagalnya agenda 212. Gubernur jakartapun ikut ditekan, agar mencabut ijin pelarangan memakai arena monas untuk agenda 212. Tuduhan reuni 212 merupakan agenda yang dipelopori HTI berusaha digulirkan, semangat ummat terus menggelora. Tuduhan demi tuduhan semakin mempertegas keyakinan ummat, hingga 8 juta ummat memadati ibu kota.

Gerakan politik terus dinaikkan tensinya, prabowo datang, jokowi tak jadi diundang. Bola panas atas peristiwa pembatalan jokowi terus digulirkan, tapi ummat terlalu kuat untuk di retas dengan isu recehan.

Jika yang beragama dilarang berpolitik, maka yang melarangnya tidak suka agama, pertanda kebangkitan hantu sejarah (PKI) telah masif. Hanya paham Komunis yang tidak suka agama, apalagi dengan massifnya kelompok agama berpolitik.

Kaula muda ikut bercumbu dengan dalil kebijaksanaan, demokrasi menjadi paparan, setiap individu beragama berhak mendapat hak yang sama. Namun islam tidak membatasi hak yang lain, namun kitab suci kudung jadi petunjuk untuk mendekatkan diri pada sang pencipta. Hingga teriakan untuk memilih sesama muslim dan melarang memilih non muslim merupakan suatu kewajiban dan ketaatan. Kalaulah kelompok seberang mencoba membatasinya, maka tegaslah mereka membeci agama dan bahkan mereka tidak beragama.

212 itu simbol kecintaan ummat islam terhadap bangsa. Karna kemerdekaan merupakan hadiah ummat beragama bagi generasi selanjutnya. Jangan kaget ketika ummat berpihak, karna demokrasi memfalitasinya.

Jangan mengaku beragama kalau kau melarang ummat beragama untuk berpolitik, karena agama menganjurkan ummat untuk berpolitik. Salah satu anjurannya adalah memilih pemimpin yang terdapat dalam Al-kur’an sebagai berikut :

Pertama;

لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (waly) pemimpin, teman setia, pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kamu kembali.” (QS: Ali Imron [3]: 28)

Kedua;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُواْ لِلّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً مُّبِيناً

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah kami ingin mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?”(QS: An Nisa’ [4]: 144)

Ketiga;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الَّذِينَ اتَّخَذُواْ دِينَكُمْ هُزُواً وَلَعِباً مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik) sebagai WALI (pemimpinmu). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (QS: Al-Ma’aidah [5]: 57)

Keempat;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ آبَاءكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاء إَنِ اسْتَحَبُّواْ الْكُفْرَ عَلَى الإِيمَانِ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara- saudaramu menjadi WALI (pemimpin/pelindung) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka WALI, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS: At-Taubah [9]: 23)

Lima;

لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- nya. dan dimasukan-nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-nya. mereka itulah golongan allah. ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS: Al Mujaadalah [58] : 22)

Enam;

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً

الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ العِزَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً

“Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (pemimpin/teman penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS: An-Nisa’ [4]: 138-139)

Itulah penegasan agama menganjurkan ummat untuk berpolitik.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*