Politik Indonesia: Masih Tahap Noise, Belum Voice

Oleh: Amiruddin (Mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Mataram)

Patriot.id — Menjelang pesta demokrasi yang diadakan selama lima tahun sekali menjadi ajang kontestasi politik bagi para politisi di negeri ini. Tahun 2019 merupakan tahun politik, yang mana akan diselenggarakan pemilihan calon presiden dan wakil presiden. Para politisi negeri ini mulai berlomba-lomba menarik simpati publik dengan berbagai cara guna mendapatkan suara rakyat, ada yang menggunakan cara positif atau bahkan negatif. Namun nampaknya politisi saat ini saling menjatuhkan satu sama lain antar sesama pasangan calon eksekutif, bukan hanya pada sesama pasangan calon saja, namun orang-orang yang berada pada kubu masing-masing pasangan calon seperti kader partai dan relawan calon ikut berpartisipasi dalam adu argumentasi untuk menarik suara dan simpati rakyat. media sosial merupakan salah satu wadah yang kerap digunakan oleh para pasangan calon dalam bersosialisasi (kampanye) dan mempromosikan pasanganan calon presiden dan wakil presiden.

Media sosial merupakan alat yang ampuh dalam menarik simpatisan dan juga menggiring opini rakyat. Media sosial kini telah menjadi sebuah alat penggorengan isu yang nampaknya cukup ampuh mempengaruhi pemikiran rakyat dalam menentukan pilihan politiknya. Dengan mudahnya berbagai isu berhasil digoreng oleh para politisi atau relawan menggunakan media sosial. Efektivitas media sosial dalam menggoreng isu dapat kita lihat dari berbagai orasi politik yang dilontarkan oleh setiap kubu, salah satu yang kini tengah santer dipermasalahkan adalah perihal Tampang Boyolali yang dinyatakan oleh calon presiden nomor urut dua dan Politikus Sontoloyo yang dilontarkan oleh presiden saat ini yaitu Joko Widodo. Bukan hanya itu, permasalah bisa membaca kitab suci Al-Qur’an dan menjadi imam shalat bahkan berbahasa Inggris serta ucapan “selamat hari raya pada nonmuslim” pun kerap dipermasalahkan, terutama oleh warganet (netizen).

Para pengguna media sosial atau yang kerap disebut dengan istilah netizen juga turut berpartisipasi dalam memanaskan persaingan politik, terutama pada kedua kubu yang berbeda atau tim sukses dari masing-masing calon. Isu-isu yang tidak perlu diperdebatkan, malah menjadi topik utama, pembahasan isu mengenai kedua pasangan calon lebih menarik untuk dibahas ketimbang beradu gagasan yang bersifat membangun dari masing-masing calon, padahal bangsa ini lebih butuh visi-misi yang jelas serta gagasan-gagasan yang dapat membangun negeri ini menjadi lebih maju.

Penulis mencermati fenomena ini sebagai isu politik untuk mengambil keuntungan bagi kepentingan politik masing-masing dari setiap kubu. Hal itu seperti yang diutarakan oleh Ibnu Khaldun tentang solidaritas sosial ‘ashobiyah, masing-masing dari kubu ini mempunyai keagresifan dalam mengambil simpati dan meraup suara rakyat, meski yang diutarakan hanya sebatas opini dan saling menjatuhkan sesama pasangan calon dari kedua belah pihak. Bangsa ini butuh gagasan-gagasan yang berilian serta visi-misi yang jelas, bukan malah mempersoalkan masalah sepele dan memperbesar kesalahan yang dibuat oleh masing-masing kubu dan calon.

Dalam teori Interaksionisme Simbolik tentang Dramaturgi menurut Erving Goffman, seorang pemikir utama terakhir yang terkait dengan aliran Chicago yang merupakan seorang sosiolog abad 20, Goffman menyatakan dalam teorinya Dramaturgi menjelaskan bahwa dunia ini merupakan sebuah panggung sandiwara, di mana terdapat panggung depan dan panggung belakang, teori ini bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena di atas terkait kedua kubu yang hanya mementingkang elektabilitas mereka saja, panggung depan yang dimaksud oleh Goffman dari kasus di atas merupakan bagaimana masing-masing kubu saling membangun citra baik bagi kelompok mereka saja, tentang bagaimana paslon nomor urut satu membanggabanggakan atas prestasi dan capaian kerja selama memimpin, membanggakan prestasi yang telah dicapai. Jika kita melihat jauh lebih dalam pada paslon nomor urut dua pun demikian, sibuk mencari kesalahan paslon nomor urut satu agar menjatuhkan elektabilitas dan eksistensi lawan, dan hal itulah yang disajikan pada publik agar citra nomor urut satu buruk.

Namun berbeda dengan panggung belakang mereka yang kerap menjatuhkan kelompok lain atas kepentingan-kepentingan yang dibangun dari sebuah persaingan politik. Persaingan politik yang sengit menjadikan warna antara kawan dan lawan nampak samar, yang terlihat hanyalah sebatas kepentingan politik saja.

Seperti yang dikatakan oleh Rocky Gerung seorang filsuf dan dosen Universitas Indonesia saat siaran di televisi swasta dalam acara Indonesia Lawyers Club, beliau mengatakan politik Indonesia ini hanya sebatas pada tahap Noise belum sampai pada tahap Voice. Artinya, menjelang pesta demokrasi saat ini, kedua kubu hanya sibuk berdebat tentang kejelekan dari masing-masing calon, saling mengklaim bahwa jagoan merekalah yang layak memimpin negeri ini. Debat seperti itu sebenarnya tidak akan membangun negeri ini menjadi lebih baik, malah menambah citra buruk bangsa ini. Pernyataan yang dilontarkan oleh Rocky Gerung memang benar adanya, sebab para pendukung kedua kubu sibuk mendebatkan apa yang tidak perlu dibahas.

Politik di negeri ini harus diperbaiki dan dihidangkan lebih sehat lagi pada masyarakat Indonesia secara luas. Politik saat ini sudah tidak layak lagi dikonsumsi oleh masyakat Indonesia, sepatutnya para elit politik menghidangkan sajian pendidikan politik yang sehat. Para politikus harus menyampingkan kepentingan partai, anggota, terutama ketua partai atas ambisi-ambisi pribadi dan kelompok. Seharusnya atas gagasan-gagasan dan visi-misi yang jelas dan bersifat membangun negeri ini. Jika berpegang pada prinsip kepentingan partai, maka kapan majunya negeri ini? Indonesia ini sudah krisis negarawan, namun kelebihan politikus.

2 Komentar

  1. Saran abang . Perlu dicantumkan Dasar Yuridisnya dalam menulis. Misalnya kalo bicara ttg Pemilihan Umum di UUD 1945 terdpt pasal 22E .
    klo di UU mggunakan UU NO.7/2017 ttg Pemilihan Umum. Itu saja. Spy Argumen nya Kuat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*