Radikalisme dan Landasan Imajiner Sosial; Tinjauan Kritis Eks WNI Anggota ISIS

Ideologi tak bisa dibunuh

Dasar ideologi terorisme adalah teror. Teror memberi pembenaran terhadap semua bentuk kejahatan atas nama ideologi. Ideologi memelihara fiksi kesatuan totaliter (identitas murni). Tindak kekerasan teroris bisa dilihat sebagai proses mental, yaitu gerak perubahan mulai dari cara melihat ‘yang lain’, lalu menstigmatisasi, merendahkan, menghancurkan dan akhirnya membunuh (J.Semelin).

Jika dalam praktik perekrutan simbol-simbol dan dalil-dalil identitas dipakai itu hanyalah strategi agar mudah merayu target, para pelaku kekerasan atas nama agama merasa yakin bahwa dirinya menjadi perpanjangan tangan Tuhan yang sedang menghukum, maka sangat masuk akal bila pelaku kekerasan merasa tidak bersalah karena menganggap dirinya masuk dalam proses mistifikasi kejahatan menjadi jasa atau prestasi.

Formula baru deradikalisasi

Pada banyak kasus pelaku kejahatan terorisme yang setelah selesai menjalani masa tahanan terlibat dalam aksi-aksi terorisme lanjutan, baik sebagai pelaku langsung ataupun menjadi otak dari aksi tersebut, upaya BNPT dalam melakukan deradikalisasi terlihat belum maksimal, yang harus dipahami adalah bahwa ideologi hanya bisa dilawan dengan ideologi.

Memberikan konsesi pada mantan napi terorisme bukanlah solusi yang efektif, otak dan pikiran teroris sudah disesaki dengan ‘kebenaran mutlak’, isi kepalanya harus dibongkar, disusun ulang dengan spirit kebangsaan, nasionalisme dan kebhinekaan. Organisasi-organisasi berbasis ideologi nasionalis harus diberdayakan dan diperkuat.

Resimen Mahasiswa (Menwa) adalah contoh dari organ yang sudah teruji dan berhasil berkarya dalam menanamkan semangat nasionalisme dan kebhinekaan pada generasi muda. Perbedaan adalah keniscayaan tetapi belajar menghormati perbedaan adalah solusi dalam membangun dan memperkuat relasi kebangsaan, cara menghormati perbedaan adalah dengan menghormati perbedaan.

Bolehkah ‘mereka’ pulang

Rencana memulangkan eks WNI anggota ISIS harus diposisikan dengan proporsional, pemerintah harus mengukur diri, jujur pada keterbatasan, program deradikalisasi saat ini terhadap mantan napi dan warga yang terpapar paham radikalisme saja masih berantakan. Memulangkan mereka adalah perjudian terbesar pemerintah, taruhannya adalah disintegrasi bangsa. Jika opsi dipulangkan yang dipilih maka segera perbaiki metode program deradikalisasi, siapkan infrastrukturnya, selektif dalam memilih yang dinilai masih patut untuk dipulangkan

Oleh: Manche Kota

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*