Ragam Bahasa Gaul di Indonesia

Oleh: Al-hidayahtul Musqoimah

Patriot.id — Bahasa Indonesia merupakan media komunikasi utama masyarakat Indonesia. Namun, ada kalanya bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua, setelah bahasa ibunya oleh karena itu masyarakat Indonesia berada dalam tataran situasi mampu memakai dua bahasa dengan baik atau mampu memakai lebih dari dua bahasa.

Hal itu juga dipengaruhi oleh perkembangan zaman, dan fenomena berbahasa sesuai usia dan lingkungan pemakainya pada suatu masa tertentu. Maka melihat perubahannya dari masa ke masa, ragam “gaul” memang selalu berkembang dan berubah mengikuti perubahan zaman; pada zaman sekarang, media internet dan ponsel sebagai penyebab utama perkembangan ragam gaul.

Selain itu, dapat juga suatu bentuk “gaul” pada masa lalu, kini dipakai lagi. Sebagai contoh, kata kampseupay, kashian deh lu, dan asoi-geboiyang pada tahun 1970-an populer, juga sempat populer lagi akhir-akhir ini. Kata-kata lain semacam agan, miapah, ciyus, dan sebagainya merupakan kata-kata hasil perkembangan baru. Di Indonesia perkembangan ragam gaul ini malah justru sering ditentang.

Fenomena yang terjadi pada tata bahasa Indonesia adalah munculnya bahasa prokem yang berkembang pada sekitar tahun 1970. Tepatnya pada tahun 1978, bahasa prokem telah digunakan oleh kalangan pelajar; anak-anak sekolah dan mahasiswa di ibukota.

Saat itu, istilah “prokem” masih kabur dan eksistensinya belum diketahui oleh masyarakat umum karena bentuknya masih berupa sarana komunikasi kelompok tertentu di ibukota, masih agak rahasia. Agar kalimat mereka tidak diketahui oleh kebanyakan orang, mereka merancang kata-kata baru dengan cara antara lain mengganti kata ke lawan kata, mencari kata sepadan.

Contoh kata-kata yang termasuk bahasa prokem yaitu sebagai berikut.

1. Katro (norak, kampungan);

2. Nyokap (ibu);

3. Resek (bertingkah, over);

4. Semok (seksi).

Fenomena lainnya adalah bahasa alay yang kerap digunakan dalam media sosial maupun percakapan sehari-hari. Bahasa alay dapat dikategorikan sebagai ragam bahasa lisan pelafan dari seorang balita yang belum fasih dalam melakukan ujaran.

Pergeseran struktur kata yang terjadi di masa sekarang dan dilakukan oleh banyak kalangan  membentuk munculnya kosakata baru yang meminggirkan keformalan dalam berbahasa.

Berikut ini contoh perubahan dalam tulisan:

1. Cemungudh (semangat);

2. Akuwh (aku);

3. Kamoh (kamu);

4. Cyank (sayang);

5. Luthu (lucu);

6. Muuph (maaf);

7. Yuks (yuk);

8. Dech (deh);

9. Nich (nih);

10. Owkayh (oke);

11. Binun (bingung);

12.Macama (sama-sama).

Penggunan bahasa alay (gaul)ini memiliki perubahan konteks antara masa awal kemunculannya dengan saat ini. Pada awalnya, bahasa alay banyak digunakan untuk menyampaikan sesuatu secara lisan, namun saat ini banyak digunakan dalam konteks senda gurau.

Dari contoh-contoh di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa fenomena bahasa alay telah banyak mengubah kata dalam bahasa Indonesia.

Hal ini masih bisa dianggap wajar jika tidak menjadi suatu kebiasaan karena bahasa Indonesia sudah sering mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Di setiap perubahannya, terdapat perbedaan yang nyata, seperti dalam perubahan tulisan dan perubahan lafal dan tulisan.

Dampak positif munculnya bahasa yang digunakan oleh mayoritas. Sebagai bahan lelucon sesama teman sehingga dapat menambah keakraban. Selain itu, terdapat dampak negatif berupa banyak masyarakat yang cenderung tidak tahu seperti apa kaidah bahasa Indonesia yang benar.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*