Saat Dikunjungi Pemerintah, Mahasiswa Papua Beberkan 3 Kendala yang Dialaminya di Jakarta

Jakarta – Pada Minggu (31/5), Pemprov DKI Jakarta bersama Baznas Bazis DKI Jakarta dan anggota parlemen–mengunjungi asrama mahasiswa Papua di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Kunjungan mereka membawakan 200 paket bantuan sembako untuk mahasiswa Papua di Jakarta. Sekretaris Ikatan Mahasiswa Papua-Jakarta, Penata Wanimbo pun bersyukur atasnya.

Dalam kesempatan berbicara di hadapan para pemangku kepentingan publik. Mewakili teman-temannya, Wanimbo juga membeberkan cerita duka segenap mahasiswa Papua selama menempuh pendidikan di Jakarta.

“Yang pertama, kami kendala wifi di asrama. Sementara pihak kampus meminta kuliah di online. Di asrama ini belum ada wifi. Orangtua kami di kampung tidak mampu memenuhinya. Apalagi mereka di sana pula kesusahan terkait akses jaringan seperti itu,” ucapnya di asrama mahasiswa Papua, Ciganjur, Jakarta, Minggu (31/05/2020).

“Yang kedua, kami kendala kontrakan dan kos-kosan. Di sini, apabila kami lihat ada tulisan kontrakan dan kos-kosan. Warga justru bilang tidak ada. Yang terakhir, kami kendala juga biaya pendidikan. Kehidupan kami mahasiswa Papua di Jakarta, susah sekali,” jelasnya.

Adapun mahasiswa Papua yang sedang menempuh kuliah di Jakarta berasal dari lima kabupaten: Puncak Papua, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Tolikara, dan Puncak Jaya. Menurut Wanimbo, mahasiswa-mahasiswa ini sekarang tengah berharap sekali ketiga kendala yang disampaikan barusan itu dipecahkan oleh elit-elit pemerintahan, terutama Pemerintah Pusat pimpinan Jokowi.

Sementara terkait sikap Pemerintah RI terhadap warga maupun mahasiswa Papua, Natalius Pigai mengatakan, “Saya dengar dari seorang Pimpinan DPR RI yang bukan kader Gerindra. Covid-19 sedang ke elevasi tinggi bahayakan nyawa Rakyat Papua. Mendengar itu Prabowo turun minta langsung MENKES agar drop APD di Papua. Wagub DKI & DPR Gerindra keliling Asrama Papua itu atas perintah Prabowo. Corona buka mata siapa yang punya empati. Tidak mewakili siapa-siapa, Saya secara pribadi ucapkan terima kasih untuk Pak Prabowo Subianto,” ucapnya via whatsApp kepada tim redaksi, Senin, (1/6).

Bagi Pigai, Presiden Jokowi hanya biasa berkoar-koar sampai mulutnya berbusa-busa. Dalam dua kali Pemilu dirinya cuma bangun image begitu rupa: seakan-akan peduli pada Rakyat Papua, mencuri nurani Rakyat Papua.

“Hari ini tidak terdengar suara Presiden Jokowi dari Jawa Solo ketika Sekretaris Gugus Tugas Covid-19 di Papua menyatakan bahwa hanya 7 orang Dokter Specialis Paru dan Ventilator hanya beberapa buah. Sedari awal Papua cluster berbahaya dan mengerikan jika Gubernur Lukas Enembe dan Rakyat Papua tidak menentang kebijakan Pusat,” ucap aktivis kemanusiaan itu.

Lebih lanjut Pigai sampaikan, Pak Jokowi boleh saja benci dan dendam dengan saya, itu wajar! Toh Pak Prabowo ajukan nama saya secara resmi masuk Kabinet juga Pak Jokowi tolak. Kita gentlemen. Tapi jangan mengabaikan rakyat Papua yang mati karena selain corona; teror, siksa, dan dibunuh aparat.

“Rakyat Papua pernah berikan segalanya; suara dan kalau boleh saya buka rahasia ada bantuan Rakyat Papua dalam bentuk lain tapi di Yogya (NB: andaikan barang itu jadi),” ingatnya.

Pigai menegaskan, saya sebagai Ketua Tim Pemantauan Pemilu Berbasis HAM 2014 bersaksi, Jokowi jadi Presiden beda tipis hanya 8 juta suara. Tanpa saya belum tentu Jokowi disebut presiden hari ini.

“PDIP dan Partai Pengusung lainnya mengemis ke saya tapi saya tidak pernah mengemis, jabat tangan dan ketemu mereka hingga hari ini. Jokowi juga dia sering sms dan telepon minta tolong ke saya, tapi saya tidak pernah minta perhatian ke beliau. Kami ini bangsawan! Beda harga diri dan martabat,” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*