SMUK Menduga Telah Terjadi Korupsi Pengadaan Alutsista TNI AU

Jakarta, Patriot.id – Belakangan ini militer didera intrik serius. Perseteruan antara Panglima TNI Hadi Tjahjanto dengan KASAU Yuyu Sutisna soalnya berekses pada Minimum Esensial Force Alutsista TNI AU.

Gelayutan kepentingan membuat Minimum Esensial Force sebagai pengadaan pesawat-pesawat canggih dan pengadaan ground control interceptor (GCI)/radar kontrol darat–yang dilakukan oleh serdadu dengan dasar kebutuhan TNI AU–tidak terlaksana.

Persoalan ini kemudian disoroto Ketua Solidaritas Masyarakat Untuk Keadilan (SMUK), Ahmad Dzaki. Dia meminta Kementerian Pertahanan untuk mengusut dugaan korupsi di tubuh TNI. Ia tidak ingin pengadaan alat-alat yang menduking pertahanan dan kemanan dipolitisir.

“Kami mendesak Kementerian Pertahanan, melalui Irjen Kemenhan untuk mengusut dugaan korupsi itu. Apalagi, sudah mengancam kelangsungan pertahanan udara Indonesia,” kata Dzaki ungakpnya dalam rilis, Selasa (10/12).

“Begini tulisannya ya. Dalam praktik pengadaan GCI AU mengajukan partner Tales (Prancis) kemudian Menhan mengajukan mitra Indra (Spanyol). Sedangkan Mabes TNI dalam hal ini Hadi Tjahyanto mengajukan Leonardo (Italia). Kabarnya anggota TNI AU lebih menyukai Tales karena sudah terbiasa mengoperasikannya. Rekanan dari Leonardo sudah banyak mengeluarkan biaya agar menang tender. Indikasinya adalah diduga biaya yang dikeluarkan untuk membangun Sekolah Menengah Pradita Dirgantara yang diinisiasi Panglima TNI bertempat di Boyolali. Donaturnya adalah owner merk kopi ternama,” urainya agak panjang.

SMUK merupakan LSM yang bergerak bergerak pada Advokasi Masyarakat dan Gerakan Anti Korupsi. Itu sebabnya Dzaki merasa berkewajiban menyuarakan pembersihan di tubuh TNI.

“Ini tinggal pemerintah ini serius gak memberantas korupsi. Kalau Polisi tidak mungkin masuk ke wilayah TNI, jaksa atau KPK saya yakin gak bakal berani. Tinggal Kemenhan dan TNI sendiri, berani gak membersihan dirinya,” tutupnya. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*