Sosok Transformatif Sri Jumiarsih Hadir di Tengah Keterpurukan Kaum Hawa

Sumbawa, Patriot.id — Kaum hawa di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menghadapi persoalan struktural yang amat kronis. Kehidupan sebagian perempuan di bumi “Seribu Masjid” begitu lekat dengan keterbelakangan, setidaknya ini dibuktikan dengan tingginya angka buta huruf di kalangan perempuan di daerah ini.

Penyandang buta huruf di NTB adalah mereka yang berusia 15-59 tahun dan umumnya adalah kaum perempuan. Persoalan ini pun berkait kelindan dengan surplus pernikahan usia dini. Karena di antara mereka tidak sedikit yang menyandang buta aksara. Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), angka pernikahan dini pada tahun 2015 di NTB masih tinggi. Rekor tertinggi dipegang oleh Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Tengah, dengan angka 67,15 persen dan 63,28 persen.

Sesungguhnya polemik itu integral dengan kekerasan terhadap perempuan. Wilayah dengan kasus tertinggi adalah Kabupaten Sumbawa, Kota Mataram dan Lombok Timur. Khusus Kota Mataram, banyak terjadi adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kebanyakan pelakunya melibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN).

Penderitaan yang menimpah ibu dan anaknya di NTB sudah sangat memprihatinkan. Data P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) NTB, pada 2016 tercatat; 1.679 kasus, meningkat menjadi 1.821 Kasus pada 2017 sedangkan tahun 2018 sedang dilakukan rekap. Namun diyakini jumlahnya meningkat dari tahun sebelumnya.

Dari semua kasus tersebut, 70 persen adalah kasus kekerasan incest atau kekerasan seksual di mana pelaku dan korban memiliki hubungan kekeluargaan yang dekat. Ironisnya berdasarkan analisis terhadap semua kasus di wilayah NTB kecuali di Kota Mataram, dapat dikatakan pelaku dan korban 100 persen merupakan orang miskin.

Sedari awal kemiskinan telah membelenggu kaum hawa. Dilaporkan laman radarlombok.com, pada 17 Januari 2018, penderita gizi buruk tersebar di seluruh kabupaten/kota se-NTB. Data per Oktober 2017, 105 orang perempuan. Penderita gizi buruk terbanyak se-NTB ada di Lombok Timur.

Kemiskinan juga ikut mendorong membumbung tingginya jumlah perempuan yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Tak jarang di antara mereka menjadi korban human traficking. Menurut Lembaga Studi Pengkajian dan Pengembangan Masyarakat  (LSP2M) NTB, sampai 2018, sekitar 20 persen merupakan kasus kejahatan penjualan orang ke luar negeri dan sebanyak 70 persennya berangkat melalui jalur ilegal.

Sejatinya keterpurukan perempuan NTB sering kali berawal dari permasalahan ekonomi dan pendidikan–perkawinan usia dini kerap berbuntut kekerasan, perceraian dan human traficking. Menimbulkan persoalan kompleks tak ubah lingkaran setan yang tak berkesudahan.

Karena itu untuk mewujudkan kesetaraan dan kesejahteraan gender agaknya masih memerlukan perjuangan panjang dan political will dari pemerintah dan pemangku kepentingan terkait. Mengingat banyaknya kebutuhan kaum hawa hanya bisa dirasai oleh golongannya sendiri. Maka kepemimpinan perempuan menjadi niscaya.

Efektivitas penyelesaian masalah keperempuanan tentu akan optimal apabila diselesaikan oleh perempuan sendiri. Keterwakilan kaum hawa memang suatu peristiwa yang harus diprioritaskan demi menjamin hak-haknya. Di mana mereka terlibat aktif mempengaruhi pengambilan keputusan di eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Esther del Campo (2015) berucap, sudah saatnya perempuan sadar kalau keterbatasan kelembagaan mereka karena laki-laki mendominasi setiap diskusi dalam pembuatan dan pemantauan terhadap aturan dan kebijakan publik, sementara perempuan hanya mengikutinya. Serta resistensi keluarga dan juga lingkungan patrimonial merupakan persoalan kultural yang dihadapi perempuan dalam berpolitik. (Perspective and Limits of the Institutional of the Women’s Political Representation: 17-19)

Bertolak darinya, Sri Jumiarsih, dengan penuh kesadaran memutuskan untuk maju di Pileg 2019 ini sebagai calon DPRD NTB Dapil V Nomor Urut 3, dengan berkendaraankan Partai Perindo. Tokoh perempuan Inspiratif dari Pulau Sumbawa ini membawa harapan dalam memperjuangkan hak-hak kaum hawa, anak-anak miskin dan dhuafa.

Harapan tersebut bukan tanpa dasar. Sebab postulat-postulatnya, tersirat dalam latar belakang perempuan kelahiran Matatam 10 Januari 1969 itu sendiri. Pelbagai organisasi yang dia geluti telah membentuk watak dan kepribadiannya. Kepedulian terbadap perempuan dan rakyat kecil jauh-jauh hari ditanamkan dalam lembaga: Aisiyah Muhammadyah, Alhadiyah, Komonitas Cinta Berkain Indonesia, PKK, PORSAB Sumbwa, GOW Sumbawa.

Seolah berkat tempahan-tempahan itu, tatkala Sri Jumiarsih bekerja sebagai pegawai Kejaksaan Negeri Mataram (1989 – 1992), dia pun tetap fokus menjadi Ibu Rumah Tangga, mendidik ke-2 putrinya tumbuh dan sekarang anak-anaknya telah dewasa dengan penuh kepedulian terhadap sesama.

Diceritakan oleh Alwi Syahbana, SH., Ibu Sri Jumiarsih baginya, merupakan sosok perempian yang ikhlas membantu orang-orang lingkungan sekitar: kalangan yang tidak mampu dan anak yang putus sekolah. “Anak yang tidak mampu kuliah beliau bantu untuk bisa mengeyam pendidikan,” ucapnya di Sumbawa, Sabtu (13/04/2019).

Keseharian kehidupan disiapkan untuk pengabdian, menurut Alwi, Ibu Sri juga merupakan sosok wanita yang energik. Tak pernah merasa lelah dalam mengurus nasib ummat dan bangsa. “Menjadi kebanggan tersendiri ketika kita mampu menyekolahkan anak orang lain. Sebab, menyekolahkan anak sendiri keluar negeri itu bagi setiap Orangtua adalah hal yang biasa. Tapi menyekolahkan anak-anak yatim dan duafa itu baru luar biasa,” ungkapnya.

“Yang pantas diperhatikan dari riwayat seorang pemimpin … hanyalah yang telah dilakukan dan pantas diwariskan untuk masa depan.” (Voltaire)

Ketika orang-orang baru mengatakan ‘akan’, tapi Sri Jumiarsih ‘sudah’ lebih duluan. Sepak terjangnya di lingkungan sosial kemasyarakatan telah menjadi bukti riil dalam kiprahnya laiknya seorang pemimpin transformatif, dimulai dari menjadi inisiator pembangunan Klinik Surya Medika Muhammadyah Sumbawa, lalu inisiator pembangunan Panti Asuhan Anak Yatim dan Duafa Baitussyakinah Sumbawa Barat, juga sebagai pendiri dan pengelola Rumah Yatim Putri Annisa Sumbawa Besar, sampai jadi pendiri Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) Fajar Hidayah Panto Daeng Sumbawa.

Sosok Ibu Sri, sungguh mirip dengan intelektual organik yang dikabarkan Gramsci: senantiasa mentransformasikan pengetahuannya dan menyatu dengan massa rakyat. Maka tidak heran di kediamannya dijadikan tempat berkumpul dan berdiskusinya aktivis dan tokoh-tokoh Sumbawa yang sering disebut BPTITEl Bale Putih Telu. Di sinilah bersama sang suami Edy sofiyan Gole mantan Ketua Umum Pemuda Muhammadyah, menumbuhsuburkan iklim intelektual dan menorehkan beberapa karya monomental untuk Tau dan Tanah Samawa.

Setidaknya, jika merujuk pada pemikir marxis post-modern Pierre Bourdiau, Ibu Sri telah memiliki ‘habitus’ yang sangat dibutuhkan untuk melawan status quo yang menindih perempuan: kemiskinan, buta huruf, nikah usia dini, kekerasan dan human traficking. Dalam dirinya juga terdapat ‘modal’: sosial dan simbolis yang kelak akan membantu perjuangannya. Juga ‘arena’, di mana dia berada begitu menjadi stimulusnya dalam menjadi pemimpin transformatif. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*