Tak Adil, Rakyat Dibatasi Ibadah tapi Ruang Publik Beroperasi

Oleh: Baiq Famila (Mahasiswi Penerima Manfaat Beasiswa Cendikia Baznas)

Sungguh ironis dan miris membaca media-media saat ini, dan merasakan langsung fakta yang terjadi saat ini, di satu sisi masyarakat dituntut untuk berdiam diri di rumah dan tidak melaksanakan ibadah di masjid, tapi di satu sisi pusat perbelanjaan dibiarkan beroperasi begitupun dengan bandara.

Wajarlah jika masyarakat, banyak protes dan beberapa pihak mempersoalkan kebijakan ini. Sekertaris Jenderal Majelis ulama indonesia(Sekjen MUI) Anwar Abbas mempersoalkan sikap pemerintah yang tetap melarang masyarakat kumpul di masjid, Anwar mempertanyakan, mengapa pemerintah tidak tegas terhadap kerumunan yang terjadi di bandara.

Anwar mengakui pemerintah telah menjunjung tinggi Fatwa MUI yang menghimbau umat untuk beribadah di rumah. Bahkan himbauan ini masif dilakukan di beberapa masjid. Namun ia heran karena tidak ada petugas yang melarang masyarakat berkumpul ruang publik. Seperti misalnya di bandara. Inilah yang disebut Anwar sebagai ironi.

Hal senada juga disampaikan oleh persaudaraan Alumni 212 , menurut mereka jangan sampai ada diskriminasi saat pemerintah membuka akses bandara tetapi rumah ibadah tidak dibuka.

“Sebab kalau tidak ini bisa jadi bom waktu pembangkangan massal umat islam karena Merasa ada diskriminasi kebijakan, ” ujar Ketua persaudaraan Alumni 212 , Slamet Maarif, Rabu(13/5/20).

Jika dicermati maka rakyat dapat melihat bahwa pemerintah saat ini, lebih mengutamakan para korporasi dan ekonomi, dibandingkan nyawa rakyat dan ibadah. Kebijakan pemerintah seperti ini justru malah menimbulkan Masalah baru di tengah Masyarakat atau menimbukan gejolak rakyat. Karena sebagian rakyat merasa terdholimi dan akan merasa pemerintah tidak adil. Mereka berdiam diri dirumah dan terbatas dalam melasanakan ibadah, tapi di luar sana, asing berduyun duyun masuk indonesia, ranah publik aktivitas berjalan lancar.

Ibarat sebuah Aliran air salah satunya jalurnya ditutup tapi jalur yang lain tidak di tutup maka air tersebut tidak berhenti mengalir dan tidak bisa di bendung lagi. Beginilah analaogi virus saat ini.

Lalu pertanyaannya? Apakah saat ini rakyat hanya akan berdiam diri saja dengan kebijakan pemerintah saat ini? Jelas tindakan berdiam diri dan berpasrah dengan perbuatan Zhalim dan tidak Adil dari kebijakan seorang pemimpin merupakan kesalahan besar.

Islam sebagai sebuah agama dan ideologi yang sempurna dan ketika diterapkan mencontohkan bagaimana saat itu seorang pemimpin /khalifah pernah di kritik oleh rakyatnya karna ada kebijakan-kebijakan yang di berlakukan yang tidak benar.

Maka saat ini fokus umat seharusnya berani dengan lantang menyampaikan aspirasi maupun kritikan yang tentunya telah keluar dari koridor islam.

Para ulama harus menjadi Garda terdepan dalam menyampaikan aspirasi rakyat jika hal tersebut berkaitan dengan kondisi umat. Yang disebabkan oleh kebijakan Zhalim dari Rezim yang hidup dalam sistem sekuler, tentunya juga menyadarkan umat adanya wabah Covid-19 sebagai bahan muhasabah untuk umat agar segera bertobat dan segera kembali pada penerapan syariat islam secara kaffah dalam kehidupan. Agar tercapai negeri yang aman dan sejahtera sehingga bisa menjadi negeri yang Baldhatun thayyibun wa rabbun ghafur.

Waulahua’lam bi asshawwab.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*