Tiga Pilar Utama Memimpin Peradaban KAMMI

Oleh: Liga Ayun Selatan (Caketum PW KAMMI NTB)

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mengutip perkataan salah seorang saudara, “Jika kita pernah jatuh cinta lalu kemudian kita patah hati, maka jatuh cinta di KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) ini adalah patah hati yang paling sengaja yang mestinya harus kita lakukan. Karena ia adalah labirin terindah tempat hati kita rela tersandara dan tersesat selamanya.”

Berbicara tentang kepemimpinan, baik itu menelaah pendapat para ahli dari berbagai latar belakang dan pengalaman maka kita akan sampai pada salah satu kesimpulan bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah seni dan mempengaruhi orng lain. Koonzt, dkk (1984)

Misalnya, yang mengatakan bahwa kepemimpinan itu adalah pengaruh, seni atau proses mempengaruhi orang-orang sehingga mereka mau bekerja keras secara sukarela dan bersemangat ke arah pencapaian tujuan-tujuan kelompok.

Lalu apa irisanya dengan transisi Kepemimpinan di KAMMI?

bagi saya, tagline menjayakan Indonesia 2045 belum seutuhnya banyak dipahami oleh kader akar rumput. Pun ketika kita bicara peranan apa yang bisa diambil atau yang sudah kita lakukan dalam konteks ke-KAMMI-anya di NTB sesuai dengan platform gerakan tersebut mngkn banyak diantara kita yang masih gagap untuk menjawabnya.

“Bagi saya bukan hal yang muluk, tapi adalah bukan sebuah kemustahilan karna ia narasi jangka panjang dan cita-cita luhur nan mulia.”

Bagi saya PW KAMMI NTB harus lebih fokus lagi utk menelisik dan mengawal isu-isu kedaerahan. Bukan berarti PW KAMMI NTB krisis akan narasi besar. Tetapi narasinya harus lebih tajam dan mendalam dalam tataran membangun kedaerahan.

Oleh karena itu, untuk bisa berbenah kita harus memulai transisi kepemimpinan yg baru dengan LOVE sebagai sumber utamanya . Cinta akan kebenaran, cinta akan perbaikan, cinta akan kebermanfaatan. sebab ketika virus cinta ini sudah mewabah dan menular dari semua kader maka bukan tidak mungkin akselarasi dalam perbaikan baik di tubuh KAMMI maupun eksternal KAMMI bisa kita wujudkan.

Namun, menghadirkan cinta tak semudah yg kita ucapkan. Karna cinta adalah pengorbanan maka kita harus siap dijewantahkan dengan banyak ACT; mulai dari tindakan kecil lalu bermuara pada sebuah ledakan besar.

Cinta, bertindak, apakah sudah cukup utk bisa mengambil peran ??. ternyata cinta dan tindakan belum cukup. Kita butuh POWER. Kita butuh ‘kekuatan’. Karena besar kecilnya tindakan kita dipengaruhi seberapa kuat kekuatan kita, seberapa kuat kepribadian kita.

Tiha pilar utama memimpin KAMMI: with love, act, and power.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*