Tim Hore – Hore Pilkada ?

Foto : Bobby Darmanto

Bobby Darmanto
Pemantau Tim Hore – Hore Pilkada

Politik itu unik bahkan nyentrik dalam berbagai karakter, namun yang paling unik adalah tim hore – hore pemilihan kepala daerah.

Dalam pilkada kepala daerah atau eksekutif pada umumnya menyiapkan beberapa tipikal tim untuk mampu memuluskan rencananya dalam kemenangan, utamanya dalam pemenangan sangat dibutuhkan 2 tipe tim, pertama tim Strategis dan kedua tim Taktis (lapangan).

Tim Strategis
Tim Strategis biasanya di huni oleh elit-elit Partai Politik, Pemodal, Konsultan Politik.
Biasanya konsultan politik di bagi kedalam 2 wadah pula, konsultan nasional yang bertumpu pada data dan statistik dan kedua konsultan daerah yang memahami kedalaman pemilih pada wilayah pemilihan biasanya yang memahami kearifan lokal serta merajut simpul jaringan. Dalam pembahasan perihal ini akan saya klasifikasi lebih rinci di tulisan berikutnya, karena kita akan fokus pada tim hore – hore untuk tulisan kali ini.

Tim Taktis
Disinilah unik dan berkarakter nyentriknya dalam setiap daerah, akan ada bermacam-macam model dan tipikal, sangat jauh berbeda dengan tim strategis yang variabelnya selalu sama, namun dalam pelaksanaannya atau taktisnya akan memiliki pola yang unik dan berbeda, dan cenderung yang bukan komandan hanya di anggap sebagai tim hore – hore, yang bisanya berkarakter “endong aia, dondong dadak” (kemana arus air lebih kencang kesitulah mereka berkumpul).

Sadar atau tidak justru peran tim hore – hore lah yang sebenarnya menjadi kunci, mereka bekerja selalu ikhlas walau pembagian jatah selalu mendapat porsi terkecil bahkan setelah menang pun selain berfoto dan bisa mengadu ke komandan komandan walau hanya di dengar saja dan tak akan merubah kebijakan si penguasa yang telah mereka dukung habis – habisan bahkan banyak dari mereka yang acok kanai berang dek bini, salasai pilkada jarang “mambaok” (membawa) pulang selain tumpukan cucian baju tim yang semakin hari semakin pudar atau topi yang di berikan langsung calon saat pilkada yang digunakan sebagai gimik menarik empati tempat pemberian tersebut, kasihan ya begitulah faktanya kebanyakan tim hore – hore.

Padahal dalam porsi pekerjaan tim hore – hore selalu mendapatkan bagian yang sangat sulit, saya coba klasifikasi kan tim hore hore dalam beberapa tipikal kerjanya yang cenderung atau bahkan menjalankan semua fungsi sekaligus, berikut 5 fungsi tim hore – hore :
1. Menyampaikan opini yang disusun oleh tim strategis.
2. Mengajak orang – orang untuk memilih pilihannya.
3. Menangkis pernyataan miring terhadap calonnya
4. Membuat kesan lebih sejahtera dari tim lain
5. Mengawasi proses pemilihan di tps ke tps, dari tps ke kelurahan, dari kelurahan ke kecamatan, dari kecamatan ke kota kota atau kabupaten, kalau sdah sampai disini ini bukan domain mereka lagi, mereka cukup sampai disini ini harus yang ahli yang bekerja atau yang akan menerima semua peluh darah para tim hore – hore, dan menikmati hasil jika memenangkan pilkada.

Lima fungsi ini selalu mereka lakukan kapan pun dimana pun dari mulai “liua barih masih di muncuang” (bangun tidur) hingga mau tidur tak henti-hentinya menjalankan 5 fungsi ini, ya begitulah fungsi mereka sehingga keriuhan benar benar terjadi, bahkan selalu memiliki dampak besar pasak dari pada tiang.

Maka dari itu dari pada hanya menjadi tim hore – hore lebih baik untuk fokus bekerja, usaha untuk membangun mimpi mimpi sendiri, dari pada setiap pagi bangun hanya untuk membangun mimpi dan cita – cita orang lain.(*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*