Tragedi Sape 15 Februari, Aktivis: Bima RAMAH Slogan Politik Omong Kosong

Bima, Patriot.id — Sape kembali berdarah, pada Jum’at (15/2) kemarin, massa aksi dari Persatuan Pemuda dan Masyarakat Sape mendapat pukulan, tendangan dan tembakan peluru tajam dari aparat kepolisian.

Dalam aksi itu, para demonstran menuntut Pemerintah Kabupaten Bima: pertama, mempebaiki Jalan Desa Bugis Lintas Desa Sangiang, Jalan Desa Na’e Lintas Desa Sangiang; kedua, membuatkan saluran irigasi jalan di Dusun Bajo, Sara’e dan Dusun Gurung, Desa Bugis dan memperbaiki Jalan Lintas Toi.

Sejak 2016, Bupati Bima Indah Dhamayanti Putri (Umi Dinda) dan Wakil Bupati Bima H. Dachlan M. Noer (H. Dahlan), keduanya berencana menggenjot pembangunan daerah, baik memperkuat daya saing dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bima.

Dalam pembangunan tersebut, Hj. Indah Damayanti Putri – H. Dachlan M. Noer memiliki grand design yang tertuang dalam visi BIMA RAMAH sebagai penujuk jalan ke mana arah Kabupaten Bima sehingga mencapai tujuannya.

Visi Pemerintah Kabupaten Bima “Terwujudnya Kabupaten Bima yang Ramah, yaitu Religius, Aman, Makmur, Amanah dan Handal.” Visi pembangunan Kabupaten Bima tersebut diwujudkan melalui 5 (lima) Misi pembangunan :

1. Meningkatkan masyarakat yang berkualitas melalui penerapan nilai-nilai religius dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

2. Mewujudkan masyarakat yang aman tertib dan nyaman dengan mengedepankan penegakan supermasi hukum.

3. Meningkatkan kemajuan dan kemandirian ekonomi masyarakat, dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan pengangguran didukung tersedianya sarana dan prasarana berbasis tata ruang dan pengelolaan lingkungan hidup.

4. Meningkatkan kemampuan, kejujuran aparatur pemerintah dengan mengedepankan rasa tanggungjawab melalui tata kelola pemerintahan yang baik.

5. Membangun masyarakat yang maju, mandiri, dan berdaya saing.

Visi Bima RAMAH amat elok dihiasi misi yang indah-indah seanggun jiwa keibuan Hj. Indah. Namun menurut Aktivis Kemanusiaan Sahru Ramadham, penjelasannya tentang Religius, Aman, Makmur dan Handal terlalu banyak tenaga dan pikiran yang terbuang sia-sia karena tidak ada realitas yang bisa menjelaskan dari RAMAH itu sendiri.

“Malah kenyataan hari ini lahir anti tesis dari RAMAH menjadi MARAH, Artinya IDP-DAHLAN gagal mempertanggungjawabkan visi-misi Bima RAMAH: Religius Aman Makmur dan Handal,” tutur Pemuda Asli Bima ini, dalam rilisnya yang diterima redaksi, Kabupaten Bima, Sabtu (16/02/2019).

Sape dan Kebebasan Berpendapat

Konstitusi kita sudah memberikan jaminan kebebasan berpendapat itu tertuang dalam peraturan perundang-undangan seperti dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Pasal 28.

Tindakan represif dengan dalil pembenaran atau tembakan peringatan. Bagi Sahrul, manakala hukum membenarkan tindakan pengamanan tersebut berarti di dalam aturan kita bersemayam kejahatan kemanusiaan.

“Ironisnya kita menyaksikan sikap reaktif aparat negara, begitu indah dipertontonkan, seakan-akan kekerasan di perbolehkan untuk siapa saja dan dimana saja. Seakan-akan HAM hanya menjadi slogan,” tegasnya.

Dengan mengalir derasnya darah di Jalanan Sape. Penembakan sadis aparat kepada anak-anak. Pemerintah Kabupaten Bima di bawah kepemimpinan IDP – DAHLAN gagal mengakomodir kebutuhan masyarakat.

“Gerakan yang dibangun oleh masyarakat Sape adalah menuntut hak dan keadilan sebagai warga negara sekaligus ultimatum alternatif masyarakat terhadap pemerintah. Mereka bukan gerakan kelompok sparatisme,” tekan Sahrul

Seharusnya Pemerintah hadir untuk memberikan pelayanan dan perlindungan tanpa diskriminasi, karena esensi dari pemerintah NRI adalah pelayan untuk rakyat. Pelindung segenap tumpah darah Indonesia.

“Hentikan kekerasan terhadap siapapun, atas dasar apapun, dengan alasan apapun. Jangan budayakan pragmatisme yang menghalalkan koboinisme. Hadir dan temui rakyat itulah idealnya pemimpin,” pintanya.

Ia berharap pemerintah IDP – Dahlan. Mulai hari ini jangan sampai memunculkan lagi kekerasan-kekarasan aparat lainnya, karena sudah banyak air mata dan darah yang tumpah.

“Jika hukum tidak lagi kita ta’ati. Jika Agama tidak lagi kita yakini, apa yang kita dapatkan dari Islam yang rahmatanlil’alamin? Dan apa guna Bima RAMAH? Apa itu semacam slogan politik omong kosong!” tutup Sahrul Radmadhan, Aktivis Kemanusiaam kelahiran Monta Kabupaten Bima. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*