Unram Naikan Ongkos Kuliah Pakai Cara Machiavelli, Tidakkah Mahasiswa Sadar dan Lawan?

“Orang miskin tidak punya masa depan. Mereka hanya mempunyai hari ini. Dan hari-hari yang telah berlalu.” (Perempuan Tanzania)

Mataram, Patriot.id — Univesitas Mataram (Unram) sebentar lagi mengadakan ujian akhir semester (UAS). Sebuah keniscayaan bagi mahasiswa untuk mempersiapkan bekal berujian; belajar malam hari hingga larut malam, atau tidak sama sekali; menyiapkan kertas jawaban kecil untuk dimasukan ke kantong ajaib; bahkan bermodalkan kouta internet dan ijin ke buang air kecil, searching bisa di toilet. Kerja keras ini dilakukan demi kelancaran ujian: segala tindakan dilakukan serupa seorang machiavelian, yang menghalalkan segala cara.

Datangnya UAS memacu adrenalin. Membuat mahasiswa sangat tegang. Detak jantungnya begitu kencang sebagaimana penghisap sabu: mereka tak bisa tidur dan tidak lelah belajar secara eksesif. Tatkala UAS, dalam pikiran mereka juga diguyur segudang hayalan entang soal-soal yang diujikan. Mirip tukang hayal bak pemakai ganja: tersenyum-senyum sendiri ketika mengahayalkan jawaban dan mencatat dikertas contekan. Bahkan pembelian paket internet mirip seorang pesakitan gim: kouta mesti stand by buat bermain tanya-jawab dengan pustaka google.

Inilah yang biasanya sedang dan akan dialami mahasiswa Unram; tatkala ujian meraka menjadi abnormal. Mahasiswa seketika tirukan strrotipe pecandu. UAS menjadikan mereka paranoid. Serupa penoptik yang menurut Foucault memompa ketakutan. Takut akan nilai rusak, tunda belajar, dan tak wisuda cepat. Sebab selama ini universitas mencekoki mahaiswa dengan candu yang namanya ‘nilai’. Nilai telah menjadi tolak ukur kecerdasan, kesuksesan, bahkan kemapanan.

Orientasi nilai telah mengaburkan makna ujian yang sesungguhnya. Sehingga UAS bukan untuk dijalani dengan keterterimaan, melainkan ingin diloncati dengan memaksa. Maklum ujian tak bernilai karena yang punya nilai itu hanya dipandang dalam angka-angka. Makanya kampus juga seenak jidad menaikan ongkos kuliah. Proses belajar mengajar pun selalu berujung untuk nilai dalam nominal uang.

Kampus yang seperti ini bukan lagi membesarkan anak muda harapan bangsa, tapi bibit koruptor perusak institusi. Mahasiswa dipertontonkan cara menjadi pembunuh berdarah dingin. Unram setiap tahunnya menikam jantung mahasiswa sewaktu disibukan dengan ujian: kampus meisbatkan tradisi penaikan biaya pendidikan menjelang UAS.

UAS jadinya tak ubahnya infus yang menjadi kebutuhan pasien rumah sakit. Hanya saja pelayannnya bukan memasukan alkohol lewat urat, melainkan melalui mulut. Pemberian cairan yang seharusnya baik malah menjadi buruk. Seperti itulah kejahatan Unram sewaktu UAS ini. Ujian difungsikan selaksa minuman keras yang mengaburkan pandangan atas perbuatan kampus yang menaikan ongkos kuliah.

Sayangnya mahasiswa Unram terlanjut abai terhadap melonjaknya bayaran pendidikan. Padahal mana bisa ikut ujian kalau tidak mampu bayar biaya administrasi perkuliahan. Jarang terlintas di benak sebagian besar mahasiswa untuk memboikot UAS sampai uang kuliah diturunkan. Di pikiran mereka hanya persoalan IP dan IPK. Akibat mengejar nilai, UAS tak dipandang sebagai ujian kejujuran dan kecerdasan melainkan sebatas tangga naik semester. Maka kuliah tidak lagi bermakna mencerahkan tapi menggelapkan.

Ujian menjadi ingin cepat-cepat dituntaskan agar mendapatkan relaksasi berupa liburan berbulan lamanya. Sikap bahagia menjelang libur panjang buat mahasiswa terlena. Orientasi mereka selalu terarah pada pelbagai pilihan liburan bersama sanak famili di tempat wisata maha dahsyat. Lagi-lagi, persoalan uang kuliah yang melambung tinggi tak disoalkan. Terpenting adalah liburan. Maka tradisi Unram menaikan bayaran pendidikan akan menjadi status quo, yang diselundupkan lewat UAS dan liburan akhir semester.

UAS dan libur panjang secara integral dijadikan jalan tikus oleh birokrasi dalam melancarkan akal bukusnya agar tidak mendapati protes.┬áJika mahasiswa menghalalkan segala cara untuk dapat nilai bagus–bertindak seolah Machiavelli–maka elit-elit Unram pun tak mau kalah. Merekalah yang sempurna menerapkan perilaku politik dari buku ‘Sang Penguasa’.

Strategi dan taktik Rektor Unram begitu mempuni. Penguasa ini memposisikan dirinya dalam kuasa yang ditakuti sekaligus disayangi. Ketakutan diciptakan di atas bayang-bayang kedatangan UAS–yang lamanya dua minggu, kemudian kasih sayang diraup melalui rasa bahagia yang muncul atas imbalan liburan selama dua bulan.

Sebenarnya tidak ada yang salah dalam UAS dan liburan. Namun kesalahan ada pada penaikan ongkos kuliah. Apalagi ketika pejabat kampus mempolitisasi ujian dan libur–menjadikan sebagai staratak dalam menggolkan kebijakan yang menghisap. Itulah bentuk kejahatan politik terbesarnya: mahasiswa dibodohi oleh kampus yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Mahasiswa dibikin kikuk oleh kelincahan birokrasi. Apabila mereka masih bergeming, efeknya sangat parah. Kenaikan semester simultan dengan naiknya bayaran. Makin tinggi tingkatan kuliah, semakin membubung pula pengeluaran Orangtua. Tak peduli Orangtuamu buruh tani, buruh pasar, buruh terminal, buruh pelabuhan, nelayan, sopir, kornet, ojek, pedagang kecil atau apapun. Terpenting adalah bayar kuliah, meski biaya makan, minum, bedak, gincu, sampo, sabun dan rokok harus ikut dikurangi. Bahkan ketika kalian berhenti ngekos gara-gara tambal biaya pendidikan, Unram sama sekali tak berempati.

Gambar 1: keterangan terkait tarif kenaikan UKT Unram 2019.

Coba bayangkan, bagaimana nasib mahasiswa sepulang liburan. Cermati dan tempatkan dirimu berada di kelompok mana–UKT Unram–kelompok I: Rp 500 ribu; kelompok II: Rp 850 ribu-1 juta; kelompok III: Rp 1,65-8,75 juta; kelompok IV: Rp 2,75-15 juta; kelompok V: Rp 3,85-20 juta; kelompok VI: Rp 5,1-22 juta. Tidakkah kenaikannya begitu mencengangkan?┬áPada 2019 ini, Upah Minimum Provinsi (UMP) NTB saja sebesar Rp 2.012.610, mengalami kenaikan sebesar 10%. Sementara UKT malah meroket melebihi tarif Rp 20 juta.

Gambar 2: keterangan mengenai kenaikan uang pangka Unram 2019.

Untuk uang pangkal pun demikian, meningkat drastis; Fakultas Ekonomi dan Bisnis: Rp 3-15 juta; Fakultas Hukum: Rp 9,5 juta; Fakultas Pertanian: Rp 4-4,5 juta; Fakultas Perternakan: Rp 2-3 juta; Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan: Rp 4 juta; Fakultas Tekhnik: Rp 8-15 juta. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam: Rp 4,5 juta; Fakultas Kedokteran: Rp 30-ratusan juta; Fakultas Tekhnologi Pangan: Rp 4 juta; bahkan sampai Prodi di bawah Rektor: Rp 8 juta.

Pimpinan Unram nampak banal, seperti kata Hannah Arendt, bukan tak punya pikiran melainkan tidak mau berpikir. Pembangunan jadi dalih kegagapannya. Aturan-aturan dibacanya bahkan, bagai seorang buta huruf; atau pasti selalu ada pembenaran yang dibenar-benarkan di balik tindakannya. Makanya kenaikan ongkos kuliah tidak didahului permintaan saran dan pendapat mahasiswa, melainkan langsung dilaksanakan secara opresif.

Mahasiswa, sudah tidak bisa kita harapkan adanya tindakan komunikatif seperti yang diajarkan Habermas; malah sekarang mahasiswa diperlakukan serupa benda. Aturan diterapkan untuk mahasiswa namun mereka dirugikan. Inilah alienasi, menurut Eric From, manusia bekerja dengan tidak memiliki tujuan pada dirinya. Sederhannya, keuntungan yang harusnya bisa didapatkan dari kerjaan mahasiswa, malah diambil alih kemudian diakumulasi eksploitator; kini mahasiswa diperbudak, diperas dan ditindas birokrasi.

Tidakkah kalian mendengar kabar tentang puluhan mahasiswa yang ijazah terancam dianulir. Demikian terjadi disebabkan kong kalikong. Ternyata sewaktu pelaksanaan KKN tempo hari; ada mahasiswa yang katanya lakukan KKN namun tidak pernah ikuti kegiatan di tempat KKN, dalihnya, lagi-lagi pakai jalur khusus. Yakni, sepongah jalan tikusnya Unram dalam menaikan biaya kuliah. Ada oknum mahasiswa yang membayar oknum pejabat kampus dengan perjanjian diluluskan KKN. Namun kepicikan ini terbongkar setelah status sarjananya dinyatakan ilegal oleh dikti. Konon kasus ini tengah diselidiki, namun yakin saja pasti tidak tuntas selama kampus dijabati streotipe para kaum fulus.

Mereka telah membuat kita, lama-lama, menelan mentah-mentah setiap kenaikan UKT. Sebelumnya, agar mahasiswa diredam sikap penolakannya, UAS dan liburan yang ibaratkan narkoba dan alkohol dijadikan batu loncatan untuk menggolkan misinya; pada saat itu mahasiswa tak berdaya: mengikuti ujian dan liburan. Namun sekarang masih–sebelum semuanya lewat–tidak maukah kita melancarkan protes secara bersama? Penolakan yang bukan ditengarai rasa senasib sepenanggungan terhadap nasib mahasiswa yang ditusuk biaya kuliah mahal.

Unram telah manafikan aturan terkait UKT dan uang pangkal. Wajar bila mana ramai gunjing tentang institusi pendidikan ini; dengan dinaikannya ongkos kuliah, menurut mahasiswa FH Unram Dhen Malaka, kita berhak tidak percaya bahwa ketaatan pejabat kampus terhadap aturan itu cacat. Unram tidak berkeyakinan hukum mendatangkan keadilan, karena kekuatan aturan telah dikalahkan oleh kekuasaan Rektor Unram.

Percuma ada aturan yang menyuruh kampus memasang tarif sesuai keadaan soial-ekonomi mahasiswa. Kampus yang tak memanusiakan mahasiswa, mesti dirasakan sebagai institusi pendidikan otoriter. Kesewenang-wenangan menaikan uang kuliah, mengajarkan kepada magasiswa cara mengambil kebijakan yang efektif, cepat dan pasti diterima.

“Rektor Unram perlu mengatensi khusus dasar hukum UKT dan uang pangkal dalam Permenristekdikti No 9/2017,” kata Dhen Malaka ketika dimintai keterangannya terkait penolakannya atas kenaikan uang pangkal, yang dipostingnya di status Fb-nya–dijumpai di Kota Mataram, Minggu (16/06/2019) siang.

“Segera turunkan biaya UKT dan uang pangkal. Kalau Unram segitu mahalnya. Sama halnya orang miskin dilarang kuliah di Unram. Kasian teman-teman dan adik-adik kami nantinya. Jangan biarkan Unram dikapitalisasi: kami tak ingin Pak Rektor bercumbu dengan kapital, yang kokoh di atas tangisan mahasiswa dan calon mahasiswa,” lanjutnya.

Bagi Dhen Malaka, kalau Unram teguh mempertahakan bayaran yang mahal, hanya mereka yang punyabuang dan mampu saja dapat mencicipi bangku kuliah. Jika terus begini, pendidikan akan menjadikan kampus buta dengan realitas dan buas dalam melakukan pelbagai kegiatan yang menghasilkan laba.

“Ini merupakan wajah buram, yang akan menggerogoti Unram dan generasi yang dilahirkan. Maka dari itu, menggapa persoalan ini begitu urgen, mahasiswa perlu melingkar dan rapatkan barisan untuk melawan,” ungkap Dhen Malaka.

Saatnya, mahasiswa memberi antidot dalam mengembalikan kesadarannya yang dirusak oleh grand candu lembaga pendidikan: ketaatan buta. Nietzche katakan, semua individu itu cenderung interiorisasi individul: menerima kebenaran moralitas tanpa syarat. Prosesnya, individu di bius sebagaimana Unram memakai UAS dan liburan dalam membius mahasiswa lalu menjamin keberlangsungan moralitas: lebih mengutamakan nilai dan kepentingan lulus memuaskan daripada mempersoalkan biaya kuliah.

Jangan sampai anak-anak muda menjadi pecandu realitas palsu yang tampilkan Unram. Apalagi jadi seorang pesakitan yang tak dapat merasakan penderitaan teman yang tidak mampu bayar ongkos kuliah. Cobalah jangan takut tidak bisa UAS dan berlibur, karena itu akan dimanfaatkam oleh kampus secara diam-diam menaikan ongkos kuliah; di sini ujian dijadikan peredam yang menebar ketakutan. Mahasiswa tidak diberi kesempatan mengunyah realitas: mahalnya pendidikan, yang membuat tak bisa belajar. Namun ditakut-takuti secara halus: ujian itu kunci kesuksesan, apabila tidak UAS maka terancam gagal studi.

Fenomena ini masuk kategori yang diucap Thomas Hobbes: manusia ditentukan oleh emosinya, bukan akal budinya. Dia yakin, manusia biaa dikendalikan dan diatur apabila dibuat untuk merasa takut. Kekuatan ketakutan itulah yang disemai kampus dalam membungkam keresahan mahalnya kuliah.

Jika memang kita dikendalikan emosi. Ada baiknya rasa takut diganti dengan perasaan kasih sayang. Menarik bila mengutip kata penyair Maya Angelou: perasaan apa yang ada dalam dirimu semasa berada di kampus ini? Sudahkah pengetahuan yang kau peroleh membawamu dalam rasa empati, keberanian yang kuat dan kemauan untuk berpetualang? Mahasiswa, Mata Amritanandamayi bilang: dapat menempatkan diri di posisi orang lain, dapat melihat dan merasakan sebagaimana orang lain lihat dan rasakan, inilah karunia yang langkah!

Maka tatkala pendidikan yang kita dapatkan terbentur oleh kenyataan mengecewakan tentang naiknya UKT dan uang pangkal mesti diresapi dalam-dalam. Tadi Dhen Malaka tersiksa ketika kuliah di FH Unram: belajar bahwa hukum itu ada. Padahal sebenarnya hukum telah hilang. Sehingga kebijakan sekakiber rektor abai pada permenristekdikti. Kekuasaan rektor tidak lagi bekerja dengan akal sehat melainkan lewat insetif, maka pendidikan mahasiswa Unram dijadikan pelampiasan nafsu bisnis sebagaimana tercermin di kasus KKN jalan tikus.

Bertolak dari semua itu maka mahasiswa Unram mesti merebut keberanian. Dengarlah petuah Al Gore: ketika fakta memihak kepada Anda, berdebatlah dengan fakta. Ketika hukum ada dipihak Anda, bertahanlah dengan hukum. Ketika tak punya dua-duanya, berteriaklah. Kesadaran seperti ini pasti membuat kita tergerakan.

Jika boleh beberkan, sebentar lagi bakal ada pertemuan mahasiswa untuk menyoal terkait ongkos kuliah yang mahal. Hal ini dicuatkan oleh Dhen Malaka tatkala patriot.id melihat komentarnya dengan teman-temannya di Fb. Bila mana nanti ada konsolidasi gerakan, bisakah mahasiswa Unram turut andil?

Beberapa mahasiswa dari pelbagai Fakultas telah menyatakan diri siap mengikutinya. “Persoalan ongkos kuliah sangat vital. Jika terus melambung tinggi, banyak mahasiswa terancam gagal bayar. Hal ini menghaduskan semua mahasissa bersedia melawan. Kami siap ikut bergerak,” ucap teman-teman mahasiswa di beberapa Fakultas di Unram, tatkala dimintai pendapatnya terkait masalah ini.

Ternyata mahasiswa Unram masih ada yang punya jiwa perlawanan. Mereka katakan, jika biaya kuliah naik maka pendidikan bisa jadi biang proses pemiskinan. Pertama, melalui pintu penarikan ongkos yang amat tingg. Kedua, diperbanyaknya kegiatan kampus menarik profit seperti menyewakan bangunan auditarium untuk acara publik. Ketiga, bekembangnya prilaku korupsi sebagaimama suap KNN dan seterusnya. Sampai permenristekdikti dikerdilkan. Mengutip dari Marx, hukum terjatuh dalam empirisme kasar, yakni kenikamatan untuk menuai prinsip-prinsip praktis.

Mereka mengajarkan pada kita cara menjadi manusia jahanam. Inilah yang dinamakan pembodohan. Maka, tidak beelebihan kiranya segenap mahasiswa Unram mesti sadar dan lawan. Horace Grreley jauh hari telah berucap: masa tergelap dalam sejarah anak muda adalah ketika mereka duduk belajar bagaimana mendapat uang tanpa mencarinya dengan jujur. Kampus tidak mengakarkan itu pada kita, melainkan sebaliknya.

Saatnya mahasiswa tentukan sikap. Menelan mentah-mentah ongkos kuliah yang tinggi, atau protes terhadapnya. Bahkan, jika setuju, secara serentak kita mogok UAS sabelum UKT dan uang pangkal diturunkan kembali. Ingatlah! Hal ini dicetuskan di tempat suci, melainkan di bangunan yang dipenuhi kehinaan. Itulah Unram yang berlakukan aturan baru pencekik mahasiswa, seperti ucapan Romain Rolland: dulu kekuasaan mendahului hukum. Kini keadaan lebih parah lagi, yang pertama telah menelan yang kemudian. (*)

About (0) 1018 Articles
berat sama dipikul, ringan sama dijinjing

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*