Valentine Day Virus Bucin Mematikan

Oleh: Rahmatul Aini (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Mataram)

Hari Valentine’s Day akan segera tiba momennya bertepatan pada 14 Februari, tentu hari kasih sayang ini di sambut ria oleh para pemuda pemudi. Valentine’s day ini memang berbeda-berbeda cara seseorang merayakannya, ada dengan cara memberi bunga, coklat dan lain-lain. Memberikan cinta yang melimpah ruah sampai pada malam yang romantis, dan faktanya memang Valentine’s Day ini mampu menghipnotis para penyanjungnya.

Tak ketinggalan toko-toko seperti minimarket, menjual alat kontrasepsi laris pembeli ketika mendekati hari hari Valentine’s Day, para pembelinya kebanyakan anak muda, tak hanya itu tespek atau alat tes kehamilan juga laris pembeli. (Tempo.co)

Pengakuan seorang Penjual alat kontrasepsi dan tes kehamilan di yogyakata melonjak naik 300 persen pada hari kasih sayang

Ironisnya lagi, ajang Valentine’s Day ini selalu di gunakan oleh muda mudi untuk mlakukan maksiat, hura-hura hingga pesta miras dan narkoba

Seorang remaja yang masih SMP menjadi korban perkosaan dari sejumlah pria saat perayaan valentine day. (TribunJambi.com)

Valentine’s Day ini lebih berbahaya di bandingkan virus corona, jika virus corona hanya menjangkit Amerika, China, Kamboja, Malaysia, Korea Selatan, Prancis, Russia, Spanyol, justru virus bucin berbalut Valentine’s Day ini menyerang belahan dunia, menjangkit para generasi-generasi muda.

Semua problem tadi adalah buah dari sistem kapitalistik, penjajahan pemikiran sehingga bentuk hidup Muslim menjadi liar, memiliki gaya hidup bebas tak di ikat dengan aturan Islam. Perayaan kasih sayang ini sangat jauh dari norma-norma Islam.

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)

Jika hari Valentine’s Day ini adalah ajang maksiat, hura-hura mengapa demikian pemerintah tak melarang setiap rakyat yang dipimpinnya untuk tidak merayakan Valentine’s Day?

Ia begitulah jika kita di pimpin oleh pemimpin yang sekuler, Kapitalistik, mereka tidak bisa berkutik padahal hanya sekedar menolaknya saja tidak bisa.

Maka di sinilah perlu adanya sang pemimpin muslim sejati, meriayah ummat mejadi generasi-generasi sholeh dan sholihah, memiliki kontribusi untuk ummat, Mampu menjadi sang leadership.

Dan para gemerasi tersebut hanya akan ditemui ketika Institusi juga menjadi penunjang, pendorong mencetak generasi yang berkualitas, adalah Khilafah sebagai Institusi yang shohih bagaimana dulu para ilmuan Ibnu Sinna, Al Kawarizmi, Mariam Al Asturlabi, dan para penemu lain nya, mereka memiliki kontribusi besar bagi ummat, mereka tak ada yang terlena oleh mabuknya asmara, apalagi Bucin Dunia dan Manusia. Maka jika kita menginginkan hal demikian Syariat Islam, Khilafah harus di tegakkan karena terbukti dengan adanya Institusi Khilafah mampu mencetak para generasi cerdas, bahkan memberikan sumbangsih mereka terhadap Dunia.

إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ، وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)
Wallahua’lam.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*