Waktunya Petani Bima Bersatu dalam Gerakan Pakaro yang Anarko

Kalau kita terus-terusan hanya melakukan hal-hal yang boleh dilakukan, maka kita tidak akan pernah bisa mencapai apapun. -Militan, Emile Pouget

Pembangkangan, bagi mereka yang pernah membaca sejarah, adalah kualitas terbaik manusia. Melalui pembangkanganlah kemajuan dicapai, melalui ketidakpatuhan dan pemberontakan. -Kamerad, Oscar Wilde

Dari data BPS 2017 kawasan pertanian di Kabupaten Bima begitu luas—132.644 hektare: sawah irigasi 28.799, sawah non irigasi 18.114, tegal/kebun 64.678, ladang/huma 26.228, dan sementara tidak diterpakai 12.825. Tanah seluas ini bukan hanya ditanami padi-padian, tapi beragam komoditas: jagung, kedelai, bawang, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, kelapa, kopi, kakao, jambu mete, kemiri, jarak pagar, dan kelapa.

Melalui kawasan seluas itu dengan tetumbuhannya yang akan beranai-anai. Maka dari 478.967 jiwa penduduk Kabupaten Bima tentu lebih banyak memilih bekerja sebagai petani. Waktu-waktunya dihabiskan untuk bertani pelbagai jenis komoditi. Hanya saja menapaki 2020 kaum tani terancam gagal panen. Soalnya distribusi pupuk bukan saja dipermainkan pengecer, tapi terutama dijagal kebijakan birokrasi.

Daraslah berita Suara NTB: PT Pupuk Kalimantan Timur (Kaltim) yang berkantor pemasaran di Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Selasa (5/12/2019)—melalui Kepala Kantor Pupuk Kaltim-NTB, Slamet Mariyono—menyampaikan bahwa stok pupuk subsidi jenis Urea masih cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan petani hingga awal 2020. Hanya saja penyebab kelangkaan pupuk ialah alokasi yang dilakukan pemerintah provinsi sedikit tak acuh: daerah yang membutuhkan 41.000 ton cuma diberikan 31.000 ton.

Kelangkaan pupuk bersubsidi kemudian amat merugikan petani. Karena dengan jumlahnya yang sedikit maka harganya akan semakin tinggi. Itulah mengapa kaum tani jadi begiru menyeringai. Lonjakan harga pupuknya mencapai–per zaknya–Rp 200 ribu. Padahal harga eceran tertinggi (HET): Rp 90 ribu. Dalam kondisi yang seperti ini Pemda Kabutaen Bima nampak ringkih. Tidak ada ketegasan menindak para pengecer yang serakah. Itulah sebabnya petani-petani—di Kecamatan Bolo dan di Kecamatan Madapangga—melancarkan pemblokiran jalan hingga pemerintah marah.

Bentuk protes yang dilakukan petani itu mendapat celaan dari Bupati Bima Indah Dhamayanti Putri (IDP). Dia bukan malah berempati pada masyarakatnya melainkan mencaci. Rakyat yang membanjiri jalanan mudah sekali disebut pakaro (bahasa daerah Bima): sebuah homonim yang bisa berarti kurang ajar, liar, hingga pembangkang. Melalui gonggongannya IDP enggan menerima aspirasi rakyat karena berupaya menghadang, meredam, bahkan berkonotasi menyerang.

IDP dalam pelbagai pernyataannya di media lokal menginginkan masyarakat mengedepankan silaturahmi dengan pemerintah: datang ke pandopo atau kantor Bupati untuk berkomunikasi dengan ramah sampil ngopi atau ngeteh. Tetapi cara-cara ini tidak mungkin dilakukan karena dia memiliki kesibukan teramat parah. Jika tak sibuk maka pasti diberi seabrek alasan untuk berkilah. Itu sebabnya petani paham betul: bupatinya begitu pongah. Kecongkakannya terjewantah kala ia menyemburkan ke wajah massa bahasa yang senonoh: pakaro.

Dia rupanya mencoba membatasi ruang publik dengan hardikan bebal, sekaligus alibi-alibi konyol. Padahal ruang publik bukan sebuah institusi atau organisasi yang legal. Karena harus bersifat bebas, terbuka, transparan, dan tidak ada intervensi pemerintah. Jika IDP menganggap ruang publik sekadar ruangan ber-ac maka itu kamuflase: ajakan berkompromi agar aspirasi mudah didaduh. Pengembang teori marxisme—Jurgen Habermas mendedah ruang publik semestinya membuat rakyat mampu menghimpun kekuatan solidaritas untuk melawan mesin-mesin pasar maupun birokrasi. Itulah kenapa ruang publik tak bakal muncul dalam relung-relung pandopo maupun bilik-bilik kantor Bupati.

Ruang publik paling ampuh hanya ada di jalanan. Melalui gerakan turun ke jalan rakyat mampu membuat pemangku kepentingan merasakan ancaman. Posisi terancam membuat Bupati sempoyongan. Dia seiras orang habis meneguk arak makanya sampai tidak mengontrol perkataan. Hanya saja lontaran kata pakaro dijustifikasinya demi kesejahteraan umum: massa yang bergentayang di jalan raya itu menganggu kendaraan.

Dalam pemberitaan Bimakini, bibirnya berkomat-kamit: ‘selama aksi penutupan jalan, banyak sekali keluhan terkait kendaraan yang membawa orang sakit dan melahirkan.’ Pernyataan semacam itu bagi ilmuwan Anarko Linguistik—Noam Chomsky, adalah eufemisme: memperhalus bahasa agar kepentingan yang sesungguhnya tetap tersembunyi. Melalui karyanya tentang Pengetahuan Bahasa, Chomsky menjelaskan parodi-parodi kata dari mulut pemegang kekuasaan sebenarnya hendak mengibuli:

“Para pemimpin kita menganggap kita terlalu dungu untuk menjadi penilai dari kepentingan terbaik kita sendiri. Mereka percaya bahwa demokrasi hanya untuk kaum elite—orang kaya dan berkuasa. Mereka percaya bahwa siapa yang memiliki negara seharusnya mengaturnya.”

IDP memang berusaha berkamuflase. Kehadirannya tidak untuk mengabulkan permintaan pupuk buat tanah-tanah ratusan ribu hektare. Karena ia menyelonong ke jalanan lalu berdiri di tengah massa membawa kepentingan spesiesnya. David Harvey menjelaskan bahwa jalan raya merupakan tempat pertarungan dua kelas-historis: rakyat (tertindas) dengan penguasa (penindas). Keduanya saling berebut kuasa atas jalan: bupati bekan mengamankan lalu-lintas kendaraan umum melainkan armada-armada pemodal–agar distribusinya lancar hingga produksi dan konsumsi meningkat. Sedangkan kelas tani mencoba menduduki jalan supaya suara-suaranya bergemuruh menyambar birokrat-kapitalis yang lihai berkelit.

Konfrontasi dua kelas itu tidak seimbang. Bupati punya beragam aparat-koersif yang senantiasa dijadikan tameng. Mereka digunakan bukan sekedar untuk melindungi, tapi terutama membubarkan massa dengan meletuskan peluru hingga tak segan untuk menyerang. Sementara petani begitu berdaya karena dirinya hanya memikul cangkul, menenteng sabit, dan mengenakan caping. Kekuatan keduanya begitu kontras. Itulah mengapa agar bisa menang maka seluruh kromo-tani harus bersatu, bahkan perlu membangun persekutuan dengan pelbagai elemen gerakan.

Nampaknya petani Kabupaten Bima mesti mengutip gerakan petani Kabupaten Rembang. Memang kasus yang dihadapi tidak serupa tapi musuh yang dilawan tetap sama: kekuasaan ekonomi-politik yang menyimpang. Kaum tani yang tinggal di pegunungan Kendeng tadi bersepakat untuk untuk menemui penguasa dengan aksi nekad: cor kaki pakai semen. Ditempuhnya langkah berani karena enggan menerima pencaplokan yang mau dilakukan pabrik semen. Perlawanan ini berhasil menyentak solidaritas, baik dari mahasiswa-pelajar atau anak muda secara perorangan maupun ormas-ormas beserta para aktivis. Perlawanan ke istana penguasa kemudian dilancarkan berhari-hari sampai niat jahat perusahaan dapat dipangkas.

Kalau saja protes yang begitu dilayangkan ke muka pemerintah maka bukan hanya pengecer dapat diatasi, tapi pasti kebutuhan akan pupuk bisa segera terpenuhi. Mungkin kala itu IDP tidak akan lagi berusaha membubarkan gerakan dengan pretensi: demi kelancaran arus kendaraan hingga keselamatan orang-orang yang sedang sakit atau mengandung bayi. Karena keselamatan yang mestinya diperhatikan adalah massa: petani-petani pemberani melambungkan aksi penuh atraksi menyeringai.

Hanya dengan gerakan bigini kemangan bisa digapai. Aksi kemudian tidak hanya memblokade jalan tapi juga mengepung kantor pemerintahan selama berhari-hari. Biar saja massa akan semakin dilabeli cemooh pakaro. Karena hanya dengan etos, konsistensi dan komitmen gerakanlah maka kaum tani merebut haknya tanpa sedikitpun membeo.

Tengoklah bagaimana perjuangan petani AoP [di] Thailand: perlawanannya terhadap kekuasaan yang coba merubut tanah-tanah adat begitu atraktif. Mula-mula jalanan diriuhkan dengan spanduk-spanduk kreatif. Tulisan yang terterah begitu unik: Desa Kaum Miskin. Sambi berjalan massa memegangi bambu yang diletakan mirip sebuah palangan pintu masuk di gang-gang: gapura pedesaan. Bambu itulah yang dipakai untuk menyanggah spanduk tadi. Aksi yang dilakukan kemudian bukan hanya membawa komoditas pertanian. Tapi juga melibatkan do’a-do’a dan percikan air suci seorang agamawan.

Gerakan perlawanan persis dengan kegiatan keagamaan: melaksanakan aksi untuk mencapai ridha Tuhan. Siapa pun, termasuk aparat-aparat kekuasaan tidak macam-macam apalagi mencoba membubarkan. Mereka justru terperangah melihat rahib yang terus merinai air-do’a ke barisan demonstran yang saling mengikatkan pergelangan tangan. Perjuangan kaum tertindas ini serupa dengan sepak terjang Kendeng barusan. Noer Fauzi—dalam Gerakan-Getrakan Rakyat Dunia Ketiga—mencatatkan keyakinan massa tani dari Bangkok memang penuh keteguhan:

“Kami berada di sini karena kami tidak melihat ada cara lain. Kami pikir inilah yang terbaik, bergabung bersama dalam satu aksi mengajukan petisi. Kami sudah mencoba cara-cara lain, seperti mengirim delegasi untuk berunding dengan pemerintahan, tetapi kami tidak memperoleh hasil apapun. Jadi inilah kami. Anda bisa bilang ini menekan pemerintah secara tidak langsung, tapi kami gunakan metode tanpa kekerasan. Maksud saya, kami tidak membuat para penduduk desa menderita, kami hanya menekan pemerintah. Bila saja massa, media massa warga Bangkok bertatap muka dengan kami, tak seorang pun yang akan mengkritik kami, dan peluang kami untuk berhasil akan besar … ada kelompok lain yang dirundung masalah dalam jangka waktu lama, sekitar sepuluh tahun atau lebih tapi tidak berani bangkit dan melawan. Ketika mereka melihat AoP; kami menyatu, mereka pun datang dan bergabung. Sederhananya mereka bergantung pada kekuatan gabungan bersama: satu  kesatuan.”

Aop Thailang memberi tauladan bagaimana solidaritas meluaskan persatuan. Dengan kekuatan massa yang besar, aksi yang bertahan hingga lima minggu depan gedung kekuasaan, ditambah keunikan penyampaian desakan—berhasil memenangkan tuntutan. Melalui pergerakan yang begini jugalah petani Bima tentu akan mencapai keberhasilan. Meski IDP boleh jadi semakin menuduh rakyatnya pakaro. Karena dengan perjuangan yang berhari, berminggu, maupun berbulan di jalanan–terutama di hadapan kantornya–dia pasti mengalami panik hingga menyerah pada aspirasi kerakyatan.

Biarlah sudah massa dicercah pakaro karena wacana ini setali tiga uang dengan anarkisme. Gerakan anarkis senasib dengannya: dibuat kabur oleh para birokrat-kapitalis, terutama mereka yang menjabat atase. Padahal terbitnya gerakan di bawah sinar pakaro maupun anarki adalah bentuk ketidakterimaan terhadap kekuasaan yang abai terhadap kebebasan, persaamaan, persaudaraan, kemanusiaan, keadilan, dan kebenaran:

Tidak mungkin rakyat gegabah memblokir jalan atau menembakan pelbagai perlawanan kalau kesejahteraan hidupnya dipenuhi oleh para pemangku kepentingan, yang katanya mengurusi persoalan kerakyatan.

Demonstrasi yang dikata-katai IDP pakaro bukanlah sebuah keburukan rakyatnya melainkan kepandiran dirinya dalam menyadari keadaan. Pakaro soalnya tak muncul dalam ruang hampa tapi dari ketidakbecusan pemerintahan. Makanya pakaro sejalan dengan anarkisme. Keduanya tidaklah menujuankan perusakan dan kekerasan. Lewat sintesanya: Apa Itu Anarkisme Komunis? Alexander Berkman mengajukan proposisi tentang gerakan anarko (pakaro) sembari sesekali melemparkan pertanyaan yang sarat kelirisan:

“Tidak kawanku, kapitalisme dan pemerintahlah [penguasa, bukan pemimpin] yang berarti kekacauan dan kekerasan. Anarkisme adalah kebalikannya; ia berarti ketertiban tanpa pemerintah dan perdamaian tanpa kekerasan … anarkis pernah melempar bom [moloto] dan kadang-kadang terpaksa melakukan kekerasan…. Namun jangan tergesa-gesa [mengambil kesimpulan] … ketika seseorang warga memakai seragam tentara, dia mungkin melempar bom dan menggunakan kekerasan. Apakah kamu akan bilang bahwa warga negara itu menganjurkan penggunaan bom dan kekerasan?… Brutus membunuh Caesar karena dia takut temannya mengkhianati republic dan menjadi raja. Bukan berarti Brutus kurang mencintai Caesar, tetapi dia lebih mencintai Roma…. William Tell … menembak tirani untuk menyingkirkan negaranya dari penindasan…. Saya menyebutkan contoh-contoh ini untuk menggambarkan fakta bahwa sejak zaman dahulu para penguasa lalim mendapati takdirnya di tangan para pecinta kebebasan yang marah. Orang-orang seperti itu adalah para pemberontak yang melawan tirani.”

Pemerintah yang hanya bisa memerintah dan menguasai namun tidak pandai memimpin dengan baik dan benar pantaslah diterjang dengan gerakan pakaro yang sejalan dengan anarko. Secara historis anarkisme adalah ilmu sosial yang mencoba menghapuskan kekuasaan dan otoritas yang ngaco. Tetapi tidak berkonfrontasi dengan pemimpin-pemimpin yang mengembangkan kehidupan dengan egaliter dan mempertajam fakultas-fakultas manusia: pikiran, perasaan, dan kehendak.

Petani Bima notabene beragama Islam maka nampak wajar apabila melancarkan tindakan pakaro yang anarkistik. P. Crone dalam Anarkisme Muslim Abad Kesembilan, sejarah Islam dengan corak anarki pernah muncul dalam bentuknya yang individualistik: kaum sufistik. Kita pasti telah mendengar cerita bagaimana Siti Jenar maupun Al Hallaj menolak untuk patuh pada kuasa kesultanan maupun kerajaan yang despotik. Bahkan ada pula bentuk anarko-sosialistik. Itu terukir dalam pergerakan kelompok Darwis Radikal, Najdiyya dan Mu’tazilah. Ketiganya menolak pemerintahan kekhalifahan yang penuh keculasan, perebutan kuasa, dan korupsi berkeruh.

Jonathan Brown melalui Muhammad: Pengantar yang Sangat Singkat, menuliskan kehidupan nabi Muhammad sebagai satu-satunya periode anarkis sejati [Ummah, masyarakat tanpa kelas dalam Islam] sepanjang sejarah muslim. Walaupun rasulullah SAW menjalankan otoritas politik dan keagamaan, tapi dengan sangat demokratis: tidak berkecenderungan menguasai dan menghakmiliki, melainkan begitu egaliter, fair, terutama membebaskan masyarakat dari tatanan patriarkal dan kapitalis yang muram.

Jika boleh kita berandai apabila Muhammad hidup sampai hari ini tentunya banyak penguasa yang akan dilawan bukan saja IDP namun pula Jokowi, bahkan sampai Donald Trump. Konsep gerakannya tentu berlandaskan pada ajaran tauhid yang mendorong untuk menentang berhala-berhala manusia modern; termasuk penguasa-penguasa korup. Karena ketauhidan ditafsirkannya secara progresif-revolusioner. Persis tafsir sarjana muslim Mesir Ahmad Amin yang—dimasukan Asghar Ali Engineer ke karyanya Islam dan Teologi Pembebasan—membuat tuhan-tuhan palsu dihadapi dengan ingkar. Sebab Tuhan yang Maha Esa tidak membusukan kemanusiaan dalam kepalsuan tapi menyegarkan bersama kehidupan yang benar:

“Orang berkeinginan memperbudak sesamanya berarti berkeinginan menjadi Tuhan, padahal tiada Tuhan selain Allah; orang yang berkeinginan menjadi tiran berarti ingin menjadi Tuhan. Padahal tiada tuhan selain Allah; penguasa yang berkeinginan merendahkan rakyatnya berarti ingin menjadi Tuhan, padahal tiada Tuhan selain Allah….”

Lagi-lagi bila Muhammad hidup di Kabupaten Bima dia pasti gandrung membangun gerakan. Pergerakan dilakukan bukan untuk mengutuk IDP selaku pemimpin perempuan–ini tentu dibencinya lantaran merupakan pandangan patriarki dan seksis. Tetapi bupati dilawannya karena gagal membela rakyat dari keculasan pengecer pupuk dan kebijakan alokasi perpukan Pemprov NTB yang agak cadas.

Penguasa-itu pasti dihadapi Muhammad serupa dengan dakwah-dakwah kepada Abu Lahab bersama istirinya, serta Abu Jahal dan pengikutnya: menyebarkan kebenaran tanpa menyerah terhadap cobaan, menolak berkompromi dalam pertentangan, dan tak mau menyerah walau terlalu banyak masalah yang menghantuinya.

Dakwah digencarkan Nabi Muhammad tak tanggung-tanggung: kontan mencercah status kelas penindas. Diserukannya berkehidupan yang adil, setara soal kesempatan, cinta kebenaran, dan tentunya sangat demokratis. Bisahkah kalian membayangkan IDP berada pada posisi orang-orang yang berkonfrontasi dengan Rasulullah SAW: apakah bupati akan menyembul umpatan—pakaro—hanya karena protes? Jawablah dalam hati!

Tetapi Jika dihardik pasti dirinya tidak berputus asa apalagi lari. Karena kecintaannya terhadap kaum tertindas serupa komitemen yang kemudian hari ditauladani oleh Karl Marx dan Bakunin. Tokoh pertama membenci kelas, sedang orang berikutnya menyerang hierarki serta keotoritasan. Perjuangan keduanya pun seperti Nabi Islam: pertentangan kelas, sabotase maupun aksi langsung terhadap kelompok dominan.

Sebelum dituangkannya pikiran Marx dalam Manifesto Komunis ternyata Muhammad lebih duluan melancarkan perlawanan kelas. Bagi rasulullah SAW perjuangan mobilisasi massa adalah pilar utama mendobrak kehidupan masyarakat yang merosot nan tandus. Itulah mengapa dia tidak mau bernegosiasi, kensensus, maupu berkompromi dengan penindas. Sejarawan Dr. Taha Husein menjelaskan itu dengan tegas:

“…jika Nabi hanya mengajarkan keesaan Tuhan tanpa menyerang sistem sosial dan ekonomi, tidak memperdulikann perbedaan kaya dengan miskin, yang kuat dan yang tertindas, budak dan majikan, tidak melarang riba, serta tidak menganjurkan orang-orang kaya untuk mendermakan sebagaian kekayaan mereka kepada orang-orang miskin yang membutuhkan, mayoritas suku Quraisy akan menerima agamanya….”

Sepanjang sejarah memang perubahan-perubahan ke arah demokrasi tidak terjadi dalam aras komunikasi melainkan kontradiksi. Setidaknya itu diajarkan oleh para pejuang kemerdekaan negeri kita ini—mereka adalah anak-anak muda yang bagi kaum penjajah dengan para cukongnya distigma sebagai pakaro. Apabila petani Bima berjuang hanya dengan jalur silaturahmi atau bicara santai di kantor Bupati maupun pandopo: seumpama mencari jarum dalam tumpukan jerami alias omdo. Ingatlah sirah nabawi! Ketika di fase dakwah Muhammad di Mekkah suku Quraisy menguasai alat-alat produksi dengan menindas kelas pekerja yang menjadi basis zaman jahiliah.

Bahasa dan himbauan moral-agamis yang disampaikan melalui kata-kata bukan sekadar tidak digubris dan ditetang dengan payah. Tapi terutama bermakna penghancuran kekuatan produktif baru yang secara idiologis berbentuk ajaran Tuhan. Rasulullah SAW latas dikejar-kejar untuk dilenyapkan. Islam malah bangkit, diterima dan berjaya lewat kerjaa-kerja pengorganisiran. Sasarannya adalah massa yang mendapatkan perbudakan. Orang-orang itulah yang dimerdekakan. Lalu setia berjuang bersama melawan kaum penguasa juga bangsawan. Tindakan begini harus jadi ditauladani kaum tani di Kabupaten Bima. Soalnya IDP dan kawanannya tahu apa yang membuat pupuk pseudo-langkah hingga harganya kemahalan. Dalam kondisi demikian tidak mungkin untuk bertamu pada sarang mereka untuk membuat kesepakatan. Melainkan hanya mampu diubah dengan membangun dan menguatkan kerja-kerja ketidakpuasan.

Kerja itu bisa berupa serangan terhadap jantung pertahanan penindas. Muhammad bukan saja memberi tauladan perjuangan kelas, tapi juga cara juang—yang hari ini—dikembangkan kaum anarkis. Dulu dia berhasil menyerang pemompa darah Quraisy melalui sabotase jalanan. Serupa apa yang dilakukan petani Bima kemarin, hanya saja perlu dibuat lama sampai tuntutan dikabulkan. Kala itu rombongan Abu Sofyan mendistribusikan barang-barangnya menggunakan karavan. Tentu yang dilalui adalah padang pasir yang—jadi tempat lalu lalangnya komoditas—seperti jalan raya kita. Maka Muhammad—yang telah hijrah dan membangun gerakan bersama rakyat Madinah—tidak mau kehilangan kesempatan melakukan perlawanan terhadap gerombolan cendala.

Nabi dan sehabat-sahabatnya bagai aktivis tani yang tempo hari memblokade rute kendaraan lintas Sumbawa-Bima. Tindakan ini sebunyi teorinya Lenin: untuk mengalahkan kekuatan kapitalisme, rangkaian benteng imperialisme mesti diserang pada titik yang rentan. Sabotase seperti tadi kelak berkembang hebat di tangan kelas pekerja. Dalam Kumpulan Tulisan Klasik Sindikalisme, Arturo Giovanniti mendefinisikan tindakan tersebut begitu rupa:

“Tindakan penuh kesadaran dan kesengajaan dari satu atau lebih pekerja yang bertujuan untuk memperlambat atau mengurangi hasil produksi dalam ranah industri, atau untuk membatasi perdagangan dan mengurangi laba dalam ranah komersial, dalam upayanya untuk menjamin perlakuan lebih baik dari majikan atau untuk menegakan janji-janji yang pernah dilontarkan atau untuk mempertahankan janji-janji yang sudah dijalankan, ketika peluang menuntut ganti rugi tidak menemukan jalan.”

Sabotase amat berguna untuk mendesakan aspirasi. Hanya butuh ketahanan fisik, kemerdekaan pikiran, dan keteguhan hati. Tapi Muhammad bukan hanya pernah menyabotase tapi juga memberikan tauladan pakaro: aksi langsung hanya seorang diri. Pemikir Anarko Amerika—Voltairine de Cleyre memberi penjelasan sederhana mengenainya: aksi langsung adalah ketika seseorang memiliki permasalahan dengan siapa dan apapun, maka ia akan pergi menemuinya untuk menyelesaikan masalahnya baik secara damai maupun tidak. Dalam kehidupan industri biasanya pekerja melakukan ‘tindakan spontan’ dalam menghadapi perlakuan-perlakuan despotik.

Bisa mogok bekerja, merisak mesin produksi, bahkan paling ekstrem: bos perusahaan dilukai. Pernah sesekali dalam sejarah Islam Muhammad secara nekad melancarkan penentangan terhadap suku Quraisy: muak melihat praktik-praktik kapitalis-berhalais keluaga besar Fikr dan Ady. Kala itu ia spontan naik ke atas bukit Shafa lalu berteriak untuk mengajak berserah diri pada yang ilahi. Itu diriwayatkan bukan saja oleh Muslim dan Akhmad, tapi juga Bukhari—seruan keras nabi mengandung ancaman juga kebenaran tersembunyi:

“Bagaimana pendapat kalian jika aku berkata bahwa di belakang lembah ini ada pasukan berkuda yang bermaksud menyerang kalian, apakah kalian mempercayai aku? Mereka berkata: “ya, kami belum pernah mendapatkan darimu kecuali kebenaran” lalu Nabi bersabda “aku menyampaikan padakamu sebuah peringatan, bahwa di hadapan sana (masa datang) ada siksa yang pedih.”

Dalam konteks perjuangan Petani Bima ada baiknya menggunakan kedua bentuk gerakan itu secara bersamaan. Sabotase yang memblokade jalan berhari-hari, dan aksi langsung terhadap penguasa dan pengusaha: boleh saja menawan mereka yang mempermainkan harga pupuk, baik kapitalis-biorkrat yang membatasi kouta subsidi maupun kapitalis-swasta yang mempermainkan HET perpupukan. Aksi langsung seperti ini juga jauh hari dilancarkan Nabi Ibrahim. Dia nekad melawan produksi tradisi dan kepercayaan pada zamannya. Bekalnya adalah keimanan yang menumbuhkan keberanian di dada. Tidak tahan dengan pemujaan patung dan kehidupan masyarakatnya yang hina maka ia secara spontan berjalan menjemput bahaya. Tindakan menghancurkan berhala merupakan cara ampuh melawan modal budaya serta politis raja istana.

Hanya ketikan Namrud mengetahui sesembahannya dihancurkan oleh seorang anak muda maka seketika terbit amarahnya. Dia menyentak Ibrahim untuk dicercah dengan makian mirip kata IDP: pakaro. Anggapan sebagai pemberontak dilabuhkan kepadanya supaya ada alasan menyerahkan Ibrahim kepada algojo. Pembunuh diperintah untuk membakarnya pada api merah bernyala. Namun kita semua tahu cerita selanjutnya: nyawanya diselamatkan berkat ridho yang Maha Kuasa.

Gerakan perlawanan di mana-mana memang muncul seperti pakaro yang anarko. Kalau tidak begitu mana mungkin penguasa dan pengusaha mau berhenti berbuat ngaco. Petani Bima bisa melakukan lagi sabotase dan mencoba aksi langsung. Kebetulan sudah banyak mahasiswa pulang kampung. Mereka tentu punya solidaritas dalam melawan kebijakan-kebijakan yang berdiri atas penindasan. Daripada berdiam diri tiada kerjaan pasti mahasiswa-mahasiswa itu memilih menghabiskan liburan dalam suasana beresiko, penuh tantangan dan agak membahayakan.

Persekutuan dengan anak-anak muda akan menyulap gerakan jadi beringas. Jalanan harus kembali diduduki, bahkan sesekali perlu diterbitkan pukulan spontan pada penindas. Makanya pertempuran harian harus tetap dikobarkan. Karena kekuatan gerakan adalah menghidupkan tumbuhnya kesadaran tidak lewat jalur transmisi pengetahuan melainkan pengalaman langsung dan proses dialektika dengan keadaan yang membutuhkan perubahan. E.P Thompson sampaikan:

“Dalam istilah kasar, kelas-kelas tidak hadir sebagai entitas yang terpisah, melihat sekeliling, lalu menemukan kelas yang harus dimusuhi, lalu mulai bertarung, orang mendapatkan dirinya dalam suatu masyarakat yang tersusun dalam cara yang telah ditentukan (menentukan, namun tidak semata-mata dalam hubungan produksi [secara ekonomi] mereka mengalami eksploitasi (atau dibutuhkan untuk tetap berkuasa atas orang-orang yang mereka tindas), mereka mengidentifikasi titik antagonis yang penting, mereka berjuang di sekitar masalah-masalah ini dan dalam perjuangan itu mendapati diri sebagai kelas dan kesadaran kelas selalu merupakan tahap terakhir, bukan yang pertama dalam proses sejarah yang sebenarnya.”

tim redaksi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*