Wanita Pertama Dunia Yang Menjabat Chief U9 UNAMID Adalah Prajurit TNI-AU

Bandung, Patriot.id — UNAMID atau United Nation African Union Mission in Darfur adalah misi gabungan PBB dengan Uni Afrika atau African Union untuk menyesaikan krisis kemanusiaan dengan mengurangi tindakan kekerasan yang terjadi serta untuk memantau perjanjian perdamaian atau Darfur Peace Agreement (DPA) antara pemerintah Darfur dengan para kelompok rebel bersenjata di Darfur, Afrika Selatan.

Saat ini Darfur sedang mengalami krisis kemanusiaan dimana terjadi konfik bersenjata antara kelompok militan Janjaweed dukungan pemerintah dan puluhan kelompok rebel, beberapa diantaranya seperti Sudan Liberation Movement (SLA) dan Justice and Equality Movement (JEM).

Perseteruan itu diwarnai dengan penyerangan dan pembunuhan masal terhadap penduduk sipil, menurut data PBB telah menyebabkan lebih dari 300.000 jiwa melayang dan kurang lebih 2,5 juta jiwa lainnya kehilangan tempat tinggal sehingga menginap di tempat penampungan organisasi-organisasi kemanusiaan WHO, UNICEF, UNHCR dan beberapa organisasi pemerintah maupun non pemerintah lainnya.

Indonesia saat ini sudah mengirimkan 9 srikandi Polwan dalam misi UNAMID yang bertugas sebagai civilian Police atau Police advisor serta 1 unit Formed Police Unit (FPU), dan tidak mau ketinggalan seorang Letnan Kolonel Sus Revila Oulina, M.Pd, M.Si Wanita TNI Angkatan Udara yang pernah berdinas di Korpaskhas Bandung juga mendapatkan tugas yang mulia menjaga perdamaian dunia dan Aksi Kemanusiaan di Drafur dibawah naungan PBB.

“Selama bertugas di Sudan semenjak Juni 2017 lalu,¬† tepatnya di Kota Elfasher banyak program yang sudah kami lakukan, diantaranya Renovasi Klinik, Renovasi Mesjid, Renovasi Jalan, Perbaikan Sekolah, Perbaikan Saluran Air, Pengobatan Massal Gratis pada Masyarakat, Memberikan bantuan Buku- buku Sekolah, Pemberian Alquran dan Sajadah, Insya Allah misi kami bertugas di Negeri Tanpa Awan ini berakhir Juni 2018,” tegas Revila yang pernah di Menwa (Resimen Mahasiswa) Maharuyung, asal FKIP Universitas Bung Hatta tahun 1990 ini menurut Let. Kolonel Lina ketika diwawancarai media ditempat kediamannya, Lanud Sulaiman, Bandung, Sabtu (05/05/2018).

Revila menambahkan, “dipasukan ini Alhamdulillah saya dipercaya sebagai¬† Chief U9 yang setara dengan Kepala Dinas Atau Ketua, membidangi CIMIC (Civil Militer Coordination),” ungkapnya.

Dalam Misi PBB ini, ada 9 Chief, yaitu Chief U1 sampai Chief U9. “Saya di Chief U9 yang mana bergerak menangani tentang CIMIC yang bergerak langsung ke tengah-tengah masyarakat disana, jabatan yang saya emban ini sebagai CHIEF U9 (Cimil military Coordination) di UNAMID Darpur Sudan, yang mana Jabatan U9 adalah jabatan di tingkat pusat, kalau di tingkat sektor namanya J9,” kata Revila.

Misi di Darfur Sudan ada karena konflik antara pemerintah Sudan dan beberapa kelompok pemberontak yang meyebabkan situasi politik dan ekonomi masyarakat Darfur Sudan ini termajinalkan oleh otoritas pemerintah di Khartoum.

¬†“Sebagai Chief U9 saya mempunyai staf officer dari Jourdan, South Africa dan Gambia, mempunyai staf juga di tingkat sector yang akan memberi informasi ke tingkat pusat. Jabatan Cimic ini berkoordinasi antara civilian, masyarakat, pemerintah setempat dan military di daerah misi. Dalam kegiatan Cimic ada Quick Impact Project (QIPS), budjetnya berasal dari UNAMID namanya UNAMID Funded dan Self Funded yang budjetnya berasal dari contigents, donatur dan lain-lain,” ungkap Revilla yang juga Alumni Sesko AU Angkatan 52 tahun 2015.

Sepeanjang sejarah militer Indonesia ataupun dunia belum pernah ada wanita yang menempati jabatan Cimic hingga Letkol Sus Revilla Oulina menyatakan rasa syukurnya atas telah menjadi wanita pertama yang menempati jabatan itu.

“Saya bersyukur dan terharu sekali untuk jabatan ini ternyata belum pernah ada Wanita yang menjabat, sayalah Wanita Militer Pertama di Indonesia bahkan dunia yang mengemban jabatan tersebut”. Ungkap Revilla juga sebagai Alumni Perwira Karier PAPK V Tahun 1998 ini.

Revila wanita kelahiran Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman 46 tahun lalu, dan sekaligus alumni dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) ini begitu berempati melihat keadaan pendidikan anak-anak sekolah di Darfur yang begitu tidak layak.

“Sebagai Alumni SPG 2 Padang, Saya merasa terpanggil bagaimana untuk memajukan pendidikan dan Sekolah disana, dan saya terjun langsung melihat anak-anak sekolah serta memberikan bantuan untuk kelengkapan sekolah anak-anak, saya juga merasa prihatin dan terenyuh melihat pendidikan anak-anak disana, karena belum terfasilitasi dengan baik, contoh saja lantainya beralasan pasir, beratapkan rumbia, sungguh jauh sekali dari yang nama kelayakan dunia pendidikan,” tutup Revilla. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*